Warisan Terbaik Bukanlah Harta, Melainkan Adab: Sebuah Renungan Orang Tua

Sering kali kita bekerja banting tulang, pergi pagi pulang petang, demi satu tujuan: “Agar masa depan anak terjamin.” Kita ingin meninggalkan rumah, tanah, atau tabungan agar mereka tidak susah sepeninggal kita nanti. Itu niat yang mulia. Namun, Ayah dan Bunda, sadarkah kita? Harta bisa habis dalam sekejap. Harta bisa menjadi sumber pertengkaran. Dan yang paling menakutkan, harta tidak bisa menjamin keselamatan jiwa mereka. Islam mengajarkan kita cara pandang yang berbeda tentang “warisan”. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ “Tidak ada hadiah yang diberikan seorang ayah kepada anaknya yang lebih baik daripada akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi) Didiklah anak dengan iman sebelum kenyamanan dunia. Tanamkan cinta Allah sebelum cinta harta. Inilah investasi abadi yang tidak akan hangus. Ingatlah janji Rasulullah ﷺ tentang amal jariyah. Salah satunya adalah doa anak saleh. Jika kita gagal mendidik mereka menjadi saleh, siapa yang akan mendoakan kita saat kita sudah tiada? Nabi ﷺ bersabda: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ. “Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalannya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim) Ayah dan Bunda, kami memahami bahwa memastikan putri tercinta tumbuh dengan adab dan akhlak mulia adalah prioritas utama. Namun, kesibukan dan pengaruh lingkungan luar seringkali menjadi tantangan terberat. Mengapa Adab Lebih Penting dari Harta? Satu-satunya “Kiriman” yang Sampai ke Alam Kubur Ingatlah janji Rasulullah ﷺ. Saat nafas terakhir kita berhembus, semua koneksi kita dengan dunia terputus. Rekening bank tertutup, jabatan hilang. Hanya ada tiga jalur yang masih “online” mengirimkan pahala: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ “Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim) Renungkanlah: Jika kita sukses mendidik anak menjadi kaya raya tapi lalai agama, siapa yang akan mendoakan kita? Mungkinkah anak yang tidak mengenal Allah akan ingat untuk memohonkan ampunan bagi orang tuanya? Hanya anak yang saleh yang paham adab kepada Allah dan orang tua yang akan menengadahkan tangan di tengah malam, menangis memohon: “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” SPIDI Female Boarding School siap menjadi mitra Ayah Bunda. Dengan kurikulum yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual dan pembinaan karakter Islami yang intensif, kami membantu menjaga dan memupuk “warisan” terpenting Anda. Daftarkan Ananda di SPIDI Doa Agar Diberi Keturunan yang Baik Sempurnakan ikhtiar mendidik adab dengan doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Zakariya AS dalam Al-Quran, memohon penerus yang baik: رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38) Ayah dan Bunda, warisan harta itu penting, tapi warisan adab itu genting. Jangan sampai kita sibuk menyiapkan tabungan rupiah, tapi lupa menyiapkan “tabungan doa” dari lisan anak-anak kita. Maka mari mulai dari hari ini, kita bertekad: “Aku akan mewariskan kesalehan sebelum kemewahan.” Tentu, mendidik adab di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks bukanlah tugas yang ringan. Dibutuhkan lingkungan yang mendukung, keteladanan yang nyata, dan sistem pendidikan yang berpusat pada akhlak. SPIDI Female Boarding School hadir membersamai Ayah dan Bunda untuk mewujudkan ikhtiar mulia ini. Kami percaya bahwa sinergi antara doa orang tua dan lingkungan pendidikan yang tepat adalah kunci melahirkan generasi salehah yang cerdas dan beradab. Penulis: Ust. Mudzakkir Abidin, Lc.