Jejak dari Korea Selatan: Qimora Salsabila, Pemimpin yang Lahir dari Lapangan

Selesai sudah prosesi sakral pelantikan ketua, wakil ketua, beserta segenap jajaran pengurus Badan Eksekutif Santri (BESt) Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) di Masjid Andi Murni Badiu, sore Jumat, 5 September, untuk masa bakti 2025–2026.

Kini, mari berkenalan dengan sosok Qimora Salsabila, ketua BESt terpilih. Siswi kelas 11 ini memiliki paras oriental yang memancarkan keanggunan. Suaranya lembut, membawa ketenangan, seolah memiliki daya tarik yang membuat siapa pun ingin mendengarnya.

Kami berkesempatan berbincang dengan gadis remaja berusia 17 tahun tersebut selepas acara pelantikan di salah satu gazebo pesantren. Angin sore berembus lembut, seakan ikut merayakan pencapaian baru dalam hidupnya.

Kami mengucapkan selamat kepadanya terlebih dahulu, lalu menyampaikan pesan penguatan agar bahtera BESt yang ia nakhodai berlayar dengan lancar. Ia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum.

Bagi Qimo, begitu ia akrab disapa, BESt adalah wadah baginya untuk mengembangkan potensi dan kemampuan, baik dirinya maupun teman-temannya. Selain itu, ia ingin memberikan kontribusi nyata bagi sekolah. Karena itu, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan saat seleksi ketua dibuka.

“Saya juga ingin memberikan kontribusi terbaik bagi sekolah: membantu menjaga kebersihan lingkungan, menegakkan kedisiplinan, dan memperbaiki akhlak santri,” tegasnya.

Tanpa strategi kampanye khusus, Qimora mengandalkan rekam jejak keterlibatannya sejak SMP hingga SMA dalam berbagai kegiatan internal maupun eksternal sekolah. Peran aktif itulah yang memperkenalkannya kepada para santri sekaligus menjadi magnet simpati pemilih.

Qimo mengaku dirinya adalah orang lapangan, penjelajah sejati. Ia menempa diri di bawah terik matahari dan guyuran hujan, membangun karakter melalui gemuruh pengalaman di luar ruang kelas. Sepak terjang dan prestasinya terekam dalam jejak kegiatan nonakademik.

Ia tercatat aktif di Gerakan Pramuka, yang membawanya terbang bersama tiga puluh rekannya dari SPIDI ke Korea Selatan untuk mengikuti Jambore Internasional pada 2023.

Selain itu, ia juga berkiprah di Putri Merah Jambu, sebuah wadah seni santri tempat bakat dan karyanya di bidang seni dan sinematografi kerap meraih penghargaan, mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.

Tak hanya itu, ia juga tergabung dalam Paskibra. Puncaknya, pada perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia Agustus lalu, gadis kelahiran 1 Januari 2009 ini dipercaya menjadi pemimpin Paskibra sekolah, sebuah pengakuan yang menegaskan kapasitasnya.

“Saya menyukai belajar di luar kelas. Mengikuti banyak organisasi dan kegiatan di luar ruang belajar membantu saya mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang mungkin tak bisa saya dapatkan di kelas,” jawabnya ketika ditanya alasan terjun dalam banyak kegiatan nonakademik.

Namun, Anda akan keliru jika mengira Qimora tak memiliki prestasi akademik. Ia adalah penghafal Al-Qur’an 30 juz dan kini fokus menjaga hafalannya dengan murajaah rutin. Ia pernah menyetor hafalan lima juz dalam satu kali duduk dan kini tengah mempersiapkan setoran hafalan sepuluh juz sekaligus. Selain itu, Qimora telah meraih sanad (ijazah) hafalan hadis, sebuah capaian yang jarang dimiliki remaja seusianya. Prestasinya juga merambah ke bidang akademik umum; ia berhasil meraih medali emas dan perunggu dalam ajang kompetisi Bahasa Inggris tingkat nasional.

Mengapa Qimora memiliki banyak capaian akademik maupun nonakademik yang membanggakan? Jawaban atas pertanyaan itu bukanlah mukjizat, melainkan kerja keras yang lahir dari filosofi hidup yang kokoh. Alasannya membuat siapa pun harus mengangkat jempol.

“Alhamdulillah, saya adalah pribadi yang pantang menyerah. Ketika melihat orang lain mampu, saya pun meyakinkan diri bahwa saya juga bisa. Itulah yang mendorong saya untuk terus belajar, mencoba, dan belajar dari kesalahan sebelumnya,” ungkapnya, mengurai benang merah dari setiap jejak kesuksesan yang ia rajut.

Gadis pengagum Bung Karno ini tak menafikan bahwa perjalanan mendaki gunung prestasi tak akan berhasil tanpa dukungan banyak pihak. Ia menaruh hormat dan terima kasih setinggi-tingginya pada Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) yang ia sebut sebagai wadah terbaik, taman tempat bibit-bibit minat dan bakatnya tumbuh subur dan mekar.

Lebih dari itu, ia bersyukur atas kehadiran dua matahari dalam hidupnya: Yudhi Hariyanto, sang ayah, dan A. Nur Indar Samad, sang ibu, yang tak pernah lelah memberikan dukungan penuh. Mereka adalah dermaga tempat ia berlabuh dan mengisi ulang energi. Ia tak akan mencapai sesuatu tanpa restu dan doa orang tuanya, dan ia tak akan bangga atas prestasi yang diraih tanpa dukungan mereka.

“Ayah dan ibu tak pernah memaksakan kehendak mereka pada saya. Selama apa yang saya lakukan positif, mereka dukung. Bahkan sampai pada cita-cita saya ke depan, mereka serahkan pada saya,” tuturnya lirih.

Dengan segala pengalaman dan bakatnya, kini Qimora siap mengayunkan sauh, memimpin bahtera BESt berlayar menuju cakrawala baru, menjadikannya wadah aspirasi dan kreativitas santri.

Qimora adalah pemimpin yang ditempa alam. Panas ekstrim Jambore Internasional di Korea Selatan 2023, hujan deras latihan Paskibra, dan kerasnya medan Pramuka telah mengajarinya arti ketangguhan. Bagi Qimora, kepemimpinan bukan hanya dihasilkan oleh teori di balik meja dan tulisan di atas kertas, melainkan pelajaran dari lapangan: tentang bertahan, merangkul perbedaan, berinteraksi lintas budaya, dan memahami dunia.

Sosoknya menjadi inspirasi nyata bagi semua santri bahwa kerja keras, tekad, dan dukungan adalah bahtera besar untuk mengarungi lautan kehidupan.

Selamat berjuang, Qimora. Semoga sukses.

Share the Post:

Related Posts

Not Avalaible

Mohon Maaf Fitur belum tersedia, Sedang masa Development