Menyambut Bulan Dzulhijjah: Amalan-Amalan Dahsyat yang Dapat Dilakukan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.“ (QS. Adz-Dzariyat: 56) Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah. Karena kasih sayang-Nya, Allah menciptakan musim-musim kebaikan agar hamba-hamba-Nya berlomba-lomba dalam taat dan amal saleh.  Bulan Ramadhan dan Syawal telah berlalu, meninggalkan banyak pelajaran dan evaluasi diri. Kini, kita dihadapkan pada datangnya bulan Dzulhijjah, salah satu musim kebaikan lainya yang sangat mulia. Jika sebelumnya kita merasa belum maksimal, bulan Dzulhijjah adalah kesempatan baru untuk memperbaiki dan menebusnya.  Allah bersumpah dalam surah Al-Fajr: (وَالْفَجْرِ۝ وَلَيَالٍ عَشْر) “Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2) Mayoritas ulama menafsirkan bahwa “malam yang sepuluh” tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Bahkan menurut sebagian ulama, sepuluh hari ini lebih utama dari sepuluh malam terakhir Ramadhan dari sisi siangnya. Rasulullah SAW bersabda: «ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر» قالوا: ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: «ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله، فلم يرجع من ذلك بشيء» “Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada pada hari-hari yang sepuluh ini.” Para sahabat bertanya: “Termasuk jihad fi sabilillah?” Beliau menjawab: “Termasuk jihad, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya dan tidak kembali lagi (mati syahid).” (HR. Bukhari) Amalan-amalan Utama Pada Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah 1. Ibadah Haji Salah satu ibadah agung di bulan ini adalah haji. Puncaknya terjadi pada hari Arafah, 9 Dzulhijjah, di mana jamaah haji berkumpul di Padang Arafah. Nabi bersabda: «الحج عرفة» “Haji adalah (berwukuf di) Arafah.” (HR. Tirmidzi dan An-Nasa’i) 2. Puasa Arafah Bagi yang tidak berhaji, mereka bisa meraih keutamaan yang tak kalah dahsyatnya dengan berpuasa pada hari Arafah. Rasulullah SAW bersabda: «صيام يوم عرفة أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله والسنة التي بعده» “Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar dihapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya.” (HR. Muslim) Ibnu Abbas bahkan memahami bahwa puasa ini secara implisit mengisyaratkan bahwa Allah menjaga umur pelakunya selama satu tahun ke depan. Maka, puasa Arafah adalah karunia besar yang jangan sampai terlewatkan. 3. Berkurban Di antara ibadah utama lainnya adalah berkurban. Menurut mayoritas ulama, hukum kurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) namun, menurut Imam Abu Hanifah hukumnya wajib bagi yang mampu. Nabi bersabda: «من كان له سعة ولم يضح، فلا يقربن مصلانا» “Barang siapa yang mampu berkurban, tapi tidak melakukannya maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad – Hasan) Banyak kisah inspiratif tentang orang-orang sederhana yang tetap berusaha berkurban. Seorang nenek pemulung, tukang becak, hingga anak-anak kecil yang menabung dari jajanannya demi membeli kambing kurban, mereka semua memberi kita pelajaran penting. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak? Bahkan ada ungkapan (meskipun sanadnya lemah) bahwa hewan kurban akan menjadi kendaraan kita di atas Shirath (jembatan). Namun, secara maknawi, amal ibadah kurban akan memudahkan perjalanan kita menuju surga. Renungkanlah: kita mampu mencicil kendaraan dunia selama bertahun-tahun, tapi berat mengeluarkan kurban yang hanya setahun sekali. Padahal, kurban bukan sekadar sembelihan, tapi bukti cinta dan pengorbanan kita kepada Allah. 4. Perbanyak Dzikir Amalan lainnya yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak dzikir seperti takbir, tahlil, tahmid, dan tasbih. Nabi SAW bersabda: «ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد» “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih lebih dicintai-Nya daripada hari-hari sepuluh Dzulhijjah. Maka perbanyaklah tahlil, takbir, tahmid, dan tasbih di dalamnya.” (HR. Ahmad) Diriwayatkan dari Imam Bukhari, bahwa sahabat Ibnu Umar dan Abu Hurairah biasa keluar ke pasar selama hari-hari ini dan mengumandangkan takbir, lalu orang-orang pun ikut bertakbir. Penutup Bulan Dzulhijjah adalah momentum emas. Kita perlu membuat rencana ibadah, sekecil apa pun itu. Karena merencanakan kebaikan saja sudah berpahala, apalagi melaksanakannya. Sebaliknya, tidak merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan. Mari kita berdoa agar Allah memberi kita kesehatan, kesempatan, dan taufik untuk bisa hidup di bulan Dzulhijjah dengan sebaik-baiknya. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memaksimalkan musim kebaikan ini, dan keluar darinya dengan membawa bekal amal menuju ridha dan surga-Nya.

Aliza Muthmainnah: Belajar, Doa, dan Akhlak Sebagai Kunci Lolos SNBP

Hai teman-teman! Siapa nih di antara kalian yang punya impian lolos SNBP di kampus favorit? Keren banget, lho, bisa tembus kampus impian lewat jalur prestasi yang satu ini! Yuk, kita intip kisah dari Aliza Muthmainnah, santri kelas XII Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI), Maros, Sulawesi Selatan, yang berhasil lulus ke Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025. Siapa tahu bisa membawa inspirasi buat kalian. Kami berkesempatan mewawancarai Aliza pada Senin, 28 April 2025, di salah satu gazebo sekolah. Suasana cenderung lengang saat itu, sebab para santri berada dalam ruangan kelas untuk belajar. Jadi, kami dapat mengobrol dengan santai. “Saya sedang mengerjakan tugas KTI, Ustadz. Karya Tulis Ilmiah sebagai tugas akhir yang wajib dikerjakan siswa kelas XII. Tugas ini bagian dari penilaian akhir sekolah,” jawab gadis penyuka cokelat ini ketika kami tanyakan kegiatannya.. — Saat Semangat Belajar Aliza Hampir Padam Jauh sebelum mengukir prestasi di jalur SNBP, Aliza menceritakan dirinya pernah terperosok ke fase tergelap dalam hidupnya sebagai pembelajar. Ia nyaris kehilangan arah. Tubuhnya hadir di kelas, tapi hatinya kosong, pikirannya melayang entah ke mana. “Saya tamat SMP di SPIDI, lalu melanjutkan SMA di sebuah Islamic boarding school di Jawa Timur. Di sana, saya mengalami culture shock. Lingkungan pesantren yang berbeda, aturan ketat, teman-teman baru, semuanya membuat saya merasa tak nyaman dan terasing” kenangnya lirih. Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Saya hanya bertahan satu semester, lalu menyerah. Ayah memindahkan saya kembali ke SPIDI,” suaranya pelan. “Tapi luka itu itu tak benar-benar sembuh. Semangat belajar saya surut drastis. Sampai tak berminat sekolah. Meski kembali ke lingkungan lama, trauma itu membuat saya kehilangan gairah dan motivasi,” tambah gadis penyuka mata pelajaran sosiologi ini. Hal yang disyukurinya, guru, ummi asrama, dan teman-temanlah yang berperan besar dalam mengembalikan kepercayaan diri dan semangatnya. Suntikan motivasi, pelukan hangat saat sedih, hingga canda tawa yang tulus perlahan-lahan membalut lukanya. Bersama mereka, ia kembali menemukan kenyamanan yang sempat hilang. Butuh satu semester untuk menyembuhkan luka itu. Dan di  bangku kelas XI, barulah ia bisa pulih seutuhnya. Aliza tak lupa menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada guru, ummi,  dan teman-teman yang setia menemaninya melewati masa-masa sulit itu. — Cita-Cita Aliza dan Penolakan Sang Ibu Lingkungan sekolah yang penuh dinamika, pertemanan dengan siswa dari berbagai latar belakang dan daerah, serta kompleksitas masalah yang ia amati di kampus pesantren perlahan membuka matanya. Ditambah kekaguman pada sosok psikolog pesantren, Ibu Nadrah. Hal itu menumbuhkan cita-cita baru dalam diri Aliza: menjadi seorang psikolog. Ia bermimpi suatu hari nanti bisa menjadi bagian dari solusi. Ia ingin membantu orang-orang keluar dari persoalan hidup dengan cara yang positif. Duduk di bangku kelas XII, cita-cita itu semakin kuat mencengkeram hatinya. Ia mulai banyak mempelajari hal-hal yang terkait dengan dunia psikologi dan berdiskusi dengan guru terkait cita-citanya. Namun, di balik tekad itu, tersimpan drama. Ibunya menolak keras rencana Aliza dan bersikeras agar ia kuliah kedokteran. Bagi Aliza, ini bukan sekadar beda pendapat, tapi pertarungan antara harapan dan kenyataan. Ia tak ingin mengecewakan ibunya namun, hatinya terpaut pada psikologi. Ia tetap teguh pada pilihannya. Situasi pun menemui jalan buntu. Tak ada titik temu. Hingga akhirnya, guru dan wali kelas turun tangan. Mereka bicara dari hati ke hati dengan ibunya, menjelaskan potensi dan kecintaan Aliza pada dunia psikologi. Butuh waktu dan kesabaran. Namun perlahan, hati sang ibu mulai luluh. Dengan restu yang akhirnya diberikan, Aliza melangkah dengan penuh keyakinan. Ia mendaftar di Universitas Negeri Makassar, program studi Psikologi, melalui jalur SNBP. Dan alhamdulillah, hasilnya membahagiakan: ia dinyatakan lulus. — Tips-Tips Keren Aliza Aliza berbagi kisah perjuangannya dalam menghadapi ujian SNBP. Menurutnya, usaha yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan teman-temannya: giat belajar selama setahun penuh, mengikuti bimbingan internal dan eksternal, serta tryout yang diselenggarakan sekolah. Namun, karena merasa teman-temannya lebih unggul dalam prestasi akademik, Aliza memilih jalur lain. Ia memutuskan untuk memperbanyak amalan. Selain belajar, ia berusaha menerapkan akhlak mulia dan sikap malebbi (keanggunan) yang diajarkan di sekolah. Ia selalu bersikap hormat dan santun, tidak hanya kepada guru, tetapi juga kepada pegawai kampus seperti cleaning service, ibu dapur, dan petugas keamanan. “Saya tak berniat menjadikan akhlak mulia sebagai jalan menuju kelulusan. Tapi jika saya tidak unggul dalam akademik, maka saya ingin unggul dalam ibadah, akhlak, dan kecerdasan sosial,” ujarnya. Tak hanya itu, Aliza juga menempuh jalur langit: memperbanyak doa dalam shalatnya, meminta doa orang tua, dan menemui banyak guru secara personal untuk meminta doa mereka. Aliza juga tak lupa untuk mengapresiasi guru dan sekolah yang telah memberikan bekal terbaik untuk dirinya dan teman-temannya dalam menghadapi ujian SNBP. — Harapan dan Wejangan Aliza Ditanya tentang harapan-harapannya kepada adik kelas, utamanya anak kelas X dan XI, ia memberikan beberapa wejangan. “Saya berharap adik-adik menemukan potensi dan cita-cita sedini mungkin. Lalu kejar impian itu dengan giat belajar,” pesannya bersemangat. “Selain itu, selalulah ikut lomba, karena piagam dan sertifikat lomba ikut menentukan kelulusan di SNBP dan membantu mendapatkan beasiswa dari universitas,” pungkasnya. — Penutup Perjalanan Aliza Muthmainnah mengajarkan kita bahwa keberhasilan bukan semata soal kecerdasan akademik, tapi juga tentang ketangguhan hati, keluhuran akhlak, dan keyakinan yang tak pernah padam. Dari luka menjadi pelajaran, Aliza membuktikan bahwa siapa pun yang bersungguh-sungguh, berakhlak mulia, dan menjemput takdirnya lewat doa dan usaha, InsyaAllah akan menemukan jalan terbaik menuju mimpinya. Kini giliranmu. Temukan potensimu, percayai prosesmu, dan langkahkan kaki dengan penuh adab dan harapan. Karena seperti Aliza, setiap langkah kecilmu hari ini bisa menjadi pintu gerbang menuju masa depan yang kamu impikan. Ditulis oleh Mudzakkir Abidin

Tips Mempersiapkan Ibadah Ramadhan yang Maksimal

Ramadhan Akan Kembali Hadir, Sudahkah Kita Bersiap? Ramadhan akan kembali menyapa, membawa limpahan rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Sebagai umat Muslim, tentu kita ingin memanfaatkannya sebaik mungkin agar dapat meraih gelar ketakwaan yang dijanjikan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183) Namun, ibadah yang optimal di bulan Ramadhan tidak datang begitu saja. Dibutuhkan persiapan matang agar setiap momen dapat dimaksimalkan sebagai ladang pahala. Berikut adalah tujuh hal yang perlu kita persiapkan agar Ramadhan menjadi lebih bermakna. 1. Memperdalam Ilmu Agama Setiap ibadah harus didasari oleh ilmu agar diterima di sisi Allah SWT. Allah berfirman: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”(QS. Muhammad: 19) Beribadah tanpa memahami tata cara dan hukumnya bisa menyebabkan kesalahan yang tidak disadari, yang berisiko membuat amalan tertolak. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata: “Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa didasari ilmu, maka kerusakan yang ia lakukan lebih banyak daripada manfaat yang ia peroleh.”(Majmu’ Al-Fatawa, 2: 282) Sebelum memasuki bulan Ramadhan, kita perlu memahami fiqih puasa, termasuk hal-hal yang membatalkan puasa dan yang hanya sekadar makruh. Selain itu, kita juga dianjurkan untuk: Ilmu bisa diperoleh dari kitab, ceramah ulama, bertanya kepada orang yang berilmu, atau melalui media digital seperti YouTube dan podcast Islami. Dengan pemahaman yang baik, ibadah kita akan lebih khusyuk dan bermakna. 2. Menjaga Kesehatan Fisik Rasulullah ﷺ bersabda: الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”(HR. Muslim No. 2664) Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menuntut kesiapan fisik agar dapat menjalankannya dengan baik. Jika tubuh lemah dan mudah sakit, ibadah lain seperti shalat tarawih dan tilawah Al-Qur’an pun akan terasa berat. Untuk itu, kita bisa mulai dengan: Dengan fisik yang sehat, kita bisa menjalani Ramadhan dengan lebih maksimal tanpa mudah merasa lemas atau kelelahan. 3. Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Lapang dan Bahagia Menyambut Ramadhan seharusnya dengan hati yang bahagia. Syekh Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:\ “Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak bergembira ketika diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga, tertutupnya pintu-pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan?”(Latha’if Al-Ma’arif, hlm. 148) Allah berfirman: قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ ۚ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ “Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”(QS. Yunus: 58) Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga memperbaiki diri dan membersihkan hati dari berbagai penyakit batin. Imam Ibnu Mas’ud pernah bertanya kepada orang-orang saleh, “Bagaimana kalian menyambut bulan Ramadhan?” Mereka menjawab: “Tidak ada satu pun dari kami yang berani menyambut bulan Ramadhan, sementara dalam hatinya masih ada secuil rasa dengki atau benci kepada saudaranya.” Maka, sebelum Ramadhan tiba, mari kita: Dengan hati yang bersih, kita akan lebih mudah meraih keberkahan di bulan Ramadhan. 4. Menyusun Jadwal dan Target Ibadah “Gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan, ” (Benjamin Franklin)  Bulan Ramadhan sangat berharga, dan jika tidak dikelola dengan baik, ia bisa berlalu begitu saja tanpa hasil yang berarti. Untuk itu, kita perlu menyusun jadwal dan target ibadah, seperti: 5. Menyiapkan Finansial untuk Berbagi Rasulullah ﷺ adalah sosok yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Sebagai bentuk persiapan, kita bisa: Persiapan finansial juga membantu kita lebih fokus pada ibadah Ramadhan dan mengurangi kesibukan duniawi. 6. Menciptakan Suasana Ramadhan di Rumah dan Lingkungan Agar semangat Ramadhan lebih terasa, kita bisa: Lingkungan yang kondusif akan membuat ibadah terasa lebih ringan dan menyenangkan. 7. Melatih Diri dengan Pembiasaan Sejak Sebelum Ramadhan Orang yang sukses memanfaatkan Ramadhan bukanlah mereka yang tiba-tiba rajin ibadah, tetapi mereka yang sudah membiasakan diri sejak sebelumnya. Pepatah mengatakan, “Ala bisa karena biasa.” Maka, sebelum Ramadhan datang, kita bisa mulai dengan: Dengan persiapan yang matang, semoga kita dapat menjalani Ramadhan dengan maksimal dan meraih ketakwaan yang sejati. اللهم بلغنا رمضان وبارك لنا فيه “Ya Allah, sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan dan berkahilah kami di dalamnya.”

Agar Tidak Salah Pilih! 7 Tips Memilih Pesantren Aman untuk Anak

Belakangan ini, berbagai berita negatif tentang pesantren di beberapa daerah di Indonesia mencuat ke publik, mulai dari kasus kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, hingga dugaan radikalisme. Hal ini tentu berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat. Tak sedikit orang tua yang menjadi ragu untuk memasukkan anaknya ke pesantren. Namun, penting untuk diingat bahwa kasus-kasus tersebut hanyalah segelintir dari ribuan pesantren yang telah berkontribusi besar dalam membentuk generasi berakhlak, cerdas, dan berkarakter. Pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan ulama, cendekiawan, dan pemimpin yang berpengaruh di masyarakat. Bagi para orang tua yang berencana memondokkan anak, sikap bijak dan hati-hati dalam memilih pesantren tetaplah diperlukan. Memilih pesantren yang aman untuk anak adalah keputusan penting yang memerlukan riset dan pertimbangan matang. Berikut beberapa tips yang bisa membantu: 1. Legalitas dan Reputasi Pastikan pesantren memiliki izin resmi dari Kementerian Agama, Kemenkumham, atau lembaga terkait. Periksa juga rekam jejaknya melalui testimoni alumni, orang tua santri, atau media terpercaya. Jika memungkinkan, tanyakan langsung kepada santri atau orang tua yang anaknya sudah belajar di sana. 2.  Lingkungan yang Aman dan Nyaman Kunjungi langsung pesantren untuk menilai kondisi asrama, ruang belajar, dapur, dan fasilitas lainnya. Perhatikan apakah pesantren memiliki sistem keamanan seperti CCTV, satpam, dan akses kontrol bagi tamu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. 3. Kualitas Pengasuhan dan Pengajaran Sistem pembelajaran yang baik sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Oleh karena itu, pastikan pesantren memiliki kurikulum yang terstruktur, tenaga pengajar yang kompeten, serta pengasuhan yang aman bagi santri. Keberadaan guru BK atau konselor juga penting untuk mendampingi anak dalam menghadapi tantangan selama di pesantren. Selain itu, tanyakan bagaimana sistem komunikasi antara orang tua dan anak, serta apakah ada pengasuh atau pembina yang dapat dihubungi dalam situasi darurat. 4. Fasilitas Kesehatan dan Perhatian terhadap Kesejahteraan Santri Lingkungan pesantren harus mendukung kesehatan dan kesejahteraan santri. Adanya klinik atau kerja sama dengan rumah sakit terdekat menjadi faktor penting dalam menangani kondisi darurat. Selain itu, pola makan dan gizi santri harus diperhatikan agar mereka tetap sehat dan bugar dalam menjalani aktivitas sehari-hari. 5. Pemisahan Santri Putra dan Putri Pemisahan peserta didik laki-laki dan perempuan sangat penting untuk menjaga adab dan menghindari fitnah. Selain itu, pemisahan ini juga dapat meningkatkan fokus belajar, mengurangi gangguan emosional dan sosial, dan menciptakan kurikulum yang lebih sesuai dengan karakter dan kebutuhan santri putra atau putri. 6. Keseimbangan antara Pendidikan Agama dan Umum Jika anak ingin tetap melanjutkan pendidikan formal, pastikan pesantren memiliki kurikulum yang diakui. Idealnya, pesantren mengintegrasikan pendidikan umum dan agama, serta menyediakan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan karakter dan bakat anak. 7. Libatkan Anak dalam Memilih Pesantren Jangan lupa untuk melibatkan anak dalam proses pemilihan pesantren. Pastikan mereka merasa nyaman dan siap secara mental sebelum masuk. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, Anda dapat memilih pesantren yang tidak hanya aman tetapi juga berkualitas untuk anak Anda. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan—lakukan riset, tanyakan pengalaman orang lain, dan pastikan anak merasa nyaman dengan pilihannya. Semoga anak Anda mendapatkan lingkungan belajar terbaik!

Paparkan Berbagai Inovasi, SPIDI Gelar Sidang KTI Untuk Siswi Kelas IX dan XII

Sekolah Putri Darul Istiqamah menggelar Sidang Karya Tulis Ilmiah Berbasis Research untuk siswi kelas IX dan XII pada hari ini, Sabtu, 25 Januari 2025. Kepala Sekolah Putri Darul Istiqamah, Irmayanti Arifuddin, M.Pd., mengungkapkan bahwa sidang Karya Tulis Ilmiah berbasis research ini merupakan target internal bagi peserta didik sebelum menyelesaikan studinya. “Kegiatan ini merupakan program tahunan kami yang sudah terlaksana selama 8 tahun, dan sudah 3 tahun kita mengundang asesor profesional dari berbagai disiplin ilmu (Praktisi dan Akademisi) untuk meningkatkan kualitas karya dan inovasi para siswi,” ungkapnya. “Dan tahun ini, 2 guru besar Universitas Negeri Yogyakarta bergabung sebagai asesor eksternal kita. Sebagaimana giat serupa yang telah terlaksana, kami melihat ada banyak peningkatan yang ditonjolkan santri SPIDI. Terlihat dari apa yang telah mereka perjuangkan hingga hari ini,” tambahnya. Kegiatan ini diharapkan dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatifitas, penyelesaian masalah, melatih kemampuan menulis ilmiah dan melatih keterampilan penelitian para siswi. Selain itu, juga diharapkan meningkatkan kemampuan komunikasi, Meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan mengatasi tekanan dan memperluas wawasan dan pengetahuan. Salah satu peserta Sidang KTI, Mutia Sabila mengungkapkan rasa khawatir dan bahagianya usai pelaksanaan Ujian. “Pas presentasi KTI saya kira akan semenegangkan itu, jadinya deg-degan karena diuji oleh dosen dari Universitas ternama langsung, namun ternyata alhamdulillah dosennya baik dan pertanyaannya mudah dipahami,” ungkapnya. Siswi kelas XII yang mengangkat judul KTI “Inovasi Pembuatan Ice Cream dari Ekstrak Chamomile dan Pisang Ambon” ini juga menuturkan manfaat yang ia dapatkan setelah menyelesaikan program ini. “Tentunya kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, selain mengasah kreativitas serta keterampilan kami kelas XII maupun kelas IX, juga akan menjadi bekal penting untuk kami gunakan di perguruan tinggi nanti insyaa Allah,” tuturnya. Pelaksanaan Sidang KTI berjalan lancar dengan terbagi menjadi 13 majelis, dimana tiap majelis terdiri atas 2 asesor. Yaitu asesor eksternal dan internal. Tiap majelis dipetakan berdasarkan tema penelitian. Sidang Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat mendorong siswi untuk lebih aktif dalam belajar, melakukan penelitian, dan menganalisis informasi. Ini akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan.

Cinta, Siswi Seribu Wajah

Cinta

Pesantren dalam spektrum yang luas, sesuai dengan kondisinya, bukanlah tempat bagi anak-anak manja dan baperan. Ia tempat bagi anak-anak kuat nan mandiri.  “Attention please, its time to break…” bunyi bel terdengar seantero kampus dengan dua bahasa, Inggris dan Arab, menandakan waktu istirahat.  Para siswi berjejer antri keluar dari kelas Boutique untuk beristirahat. Kelas boutique adalah ruangan persegi empat dengan luas 8×8 meter bermaterial kayu jati. Dipesan dari kota perajin rumah kayu, Tomohon, Sulawesi Utara. Unik karena mungkin hanya sedikit sekolah di Indonesia dengan desain ruang kelas seperti ini.  Bangunannya lebih mirip villa di pegunungan dibandingkan ruang kelas konvensional. Alasan didesain seperti itu adalah agar bisa menjadi tempat yang nyaman bagi peserta didik dan guru dalam proses transfer ilmu.  Jika Anda berkeliling di areal kampus, Di Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI), ada 12 bangunan kelas boutique seperti ini. Setiap ruang kelas bertema. Ada kelas English, Arabic, Digital, Biologi, Tarbiyah, dan lain-lain.  Di dalam salah satu ruang itulah, yaitu kelas Inggris, memanfaatkan waktu istirahat pertama, kami berbincang dengan Cinta Haryuni Amrullah. Seorang siswi kelas IX SMP. Cinta adalah salah satu siswi paling menonjol di kelasnya, baik prestasi akademik mau pun karakternya. Tak hanya satu atau dua, gadis ayu ini punya banyak wajah.  Cinta dan Pesantren  Siswi berkaca mata ini bercerita banyak hal yang layak kita baca dengan seksama.  Ketika Cinta mau tamat SD. Ia ingin melanjutkan SMP di sebuah sekolah fullday ternama di Makassar. Namun, berkat saran dari wali kelas, ia berubah pikiran. Walasnya menyarankan untuk mondok di pesantren.  “Walas ketika kelas enam SD dulu menyarankan saya masuk pesantren. Teman-teman saya juga banyak yang mau mondok. Akhirnya saya minta sama orang tua untuk carikan pesantren. Tapi orang tua maunya pesantren yang modern. Ketemulah dengan SPIDI. Saya ingat ketika itu, Ramadhan tahun 2022, datang melihat kampus SPIDI. Masya Allah, fasilitas dan kurikulum pendidikannya membuat saya langsung jatuh hati, ” Kenang remaja yang suka melukis ini.  Dirinya merasa keren dapat mondok di pesantren. Ia dapat menjadi mandiri, bisa berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang budaya dan karakter yang beragam. Dirinya juga membandingkan saat SD dulu dengan apa yang ia rasakan sekarang, aktivitas pendidikan di pesantren jauh lebih menyenangkan dan bervarisi.  Minat dan Bakat di SPIDI  “Menurut saya SPIDI adalah sekolah minat dan bakat. Bakat saya di bidang seni semakin terasah sejak berada di sini, ” ujar gadis penyuka makanan pedas ini ketika ditanya tentang keunggulan sekolahnya.  Ia bersama dengan dua kakak kelasnya pernah didaulat mempresentasikan project komik digital karya mereka di depan peserta meeting Google Reference School nasional secara daring.  Di SPIDI, ia juga aktif terlibat di Putri Merah Jambu (PMJ), semacam rumah produksi asuhan ustadz Muhajir. Kerap kali ia dipercaya menjadi script writer, editor, bahkan sutradara beberapa film pendek.  Wanita penyuka mapel IPA ini memiliki beragam minat dan bakat. Multitalenta. Di dalam kelas, ia juara kelas, di luar kelas ia dapat menulis puisi, menyanyi, bermain alat musik, menggambar, desain poster, editor video, hingga membuat film pendek. Dan semuanya meningkat tajam setelah masuk SPIDI.  “Saya tentu baru kelas IX, belum panjang perjalanan saya menuntut ilmu, tapi SPIDI benar-benar mengembangkan saya. Tak hanya saya sendiri yang ingin berkembang, sekolah juga mensupport penuh,  jadi saya merasa SPIDI dalah sekolah yang tepat buat pengembangan minat dan bakat, ” aku dia.  “Bukan hanya saya, teman-teman juga difasilitasi minat dan bakatnya di sini. Saya masih ingat betul kak Syadza yang baru masuk SPIDI di kelas X, tapi dengan cepat diendus bakatnya oleh sekolah, dilatih di studio, diikutkan lomba dan akhirnya bisa juara satu lomba nasyid tingkat nasional, ” imbuh dia.  Kurikulum yang mendukung minat dan bakat, guru yang profesional, banyaknya kegiatan ekstrakurikuler, female class, Life skill class, hingga tersedianya infrastruktur dan fasilitas memadai dalam mendukung minat bakat membuatnya merasa bersyukur dapat mondok di SPIDI.  Cinta yang Cinta IPA Meski dirinya bisa mengungguli teman-temannya dalam banyak mata pelajaran, tapi putri dari pasangan pengusaha Hairul Amrullah dan dokter Yunita ini sangat suka terhadap pelajaran IPA. Makanya ia lebih mendalami pelajaran tersebut. Tak hanya di kelas, ia juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler IPA di hari Jum’at siang.  Salah satu hal yang ia sukai adalah mengikuti lomba. Sebab dengan ikut lomba ia termotivasi untuk terus belajar. Syukurnya, sekolah seringkali mengikutkan ia dan teman-temannya dalam lomba.  “Alhamdulillah, saya pernah dapat medali emas dalam Olimpiade tingkat nasional. Pernah juga dapat juara dua dalam even yang berbeda. Semuanya lomba IPA. Dengan mengikuti lomba, tanpa kita sadari kita semakin berkembang. Itu karena lomba membuat kita terlecut untuk giat belajar,” kata remaja berusia 14 tahun ini.  Salah satu alasan mengapa ia memilih lebih fokus pada pelajaran saintek terkhusus Iadalah impiannya untuk mengikuti jejak sang ibu menjadi dokter.  “Amin,” ucapnya lirih ketika kami mendoakan agar ia kelak bisa menjadi dokter.  Cinta dan Teman-Teman Dalam kehidupan bersama dalam pondok, jiwa itu akan mencari jiwa sesamanya secara fitrah. Mereka akan bertemu dalam muara persahabatan yang erat. Cinta adalah anak SMP yang berlaku dewasa. Makanya ia selektif memilah temannya. Ia menunjuk Firza, Mecca, dan Nahda dari teman sekelasnya sebagai teman favoritnya. Mereka dianggapnya adalah tipe teman yang dapat menginspirasi.  “Firza, Mecca, dan Nahda adalah sosok teman yang dewasa. Mereka menginspirasi saya untuk ikut dewasa seperti mereka. Mereka tidak suka baper, “ceritanya. Diakuinya, ia belajar banyak dari latar belakang teman-teman yang beragam. Juga belajar dari siapa pun yang dianggapnya menginspirasi.  Tapi tak dapat dipungkiri, terkadang ia tak menyukai karakter teman-teman tertentu yang dianggapnya kekanakan. Di awal ia sering baper. Namun, seiring usia dan pengetahuan bertambah, ia semakin menyadari arti perbedaan dan konsekuensi hidup berjamaah. Ia bisa berdamai dengan dirinya setelah memaklumi latar belakang karakter yang berbeda setiap temannya.  Dibandingkan sekolah pada umumnya, kehidupan berpesantren sesuai dengan kondisinya, bukanlah tempat yang hangat buat orang yang suka baper dalam bergaul.  Cinta dan Harapannya pada Sekolah dan Guru Sekolahnya terus dikembangkan. Sesuatu yang Cinta apresiasi. Tapi tentu tak lepas dari kekurangan.  “Sekarang SPIDI sudah luar biasa. Tapi tentu punya kekurangan. Semoga kekurangan itu berkurang dan terus bertambah kelebihannya,” ucapnya penuh harap. Ia berharap guru-guru juga semakin profesional. Ia sadar betul bahwa tonggak dari suksesnya pendidikan di sebuah sekolah adalah guru yang

Momen Haru Siswi SPIDI dalam Program Short Course Madinah

Masyaa Allah para santri Sekolah Putri Darul Istiqamah kembali melaksanakan umroh-nya yang kedua di Tanah Suci 🥺🥺🥹 SHORT COURSE MADINAH : Belajar Qur’an dan Bahasa Arab 60 Hari di Kota Suci Mekkah dan Madinah + Umroh + Turki 🕋🕋 Overseas menjadi salah satu program unggulan di Sekolah Putri Darul Istiqamah. Hal ini untuk mengembangkan wawasan global, dan keterampilan berbahasa asing siswi SPIDI. Dengan program overseas, siswi dapat melihat dunia secara lebih luas, serta mengenal peradaban islam di luar sana. Selain itu, program overseas mengembangkan leadership siswi, karena siswi akan belajar tentang keunggulan negara lain dari segi pendidikan, teknologi, bahasa, kedisiplinan, serta pendidikan agama Islam. Apa Saja Yang Akan Dilakukan ⁉️ ✅ Seat in Program Pendidikan Masjid Nabawi untuk Belajar Qur’an dan Bahasa Arab✅ Program Sanad Qur’an dan Hadist (Pilihan)✅ Program Umroh (Dua Kali)✅ Edutrip Napak Tilas Perjalanan Rasulullah dan Sejarah Islam✅ Kunjungan Universitas✅ dan berbagai kegiatan menarik dan penuh makna lainnya.

Digitalisasi Pendidikan di Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI)

Era Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk transformasi digitalisasi pendidikan yang mengintegrasikan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas, efisiensi dan aksesibilitas pendidikan. Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis pesantren yang turut bertransformasi mengaplikasikan digitalisasi pendidikan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sejauh mana implementasi digitalisasi pendidikan di SPIDI, kami berbicara dengan Kepala Information and Communication Technology (ICT), Ustadz Amal Hasan yang juga selaku Leader of Google Educator Sulawesi Selatan pada Rabu, 25 Desember 2024 di ruang PSB SPIDI. Alasan Pentingnya Digitalisasi Pendidikan “Digitalisasi pendidikan merupakan upaya menjawab kebutuhan zaman. Generasi muda, khususnya Generasi Z dan Alpha yang telah familiar dengan teknologi digital sejak lahir. Oleh karena itu, penggunaan teknologi dalam pendidikan merupakan keharusan. Ibarat sekarang kita berpindah tempat tinggal ke tepi laut, maka kemampuan berenang adalah hal yang mutlak harus diajarkan ke anak-anak kita,” jelas Ustadz Amal Hasan. Tak lupa ia mengutip perkataan yang masyhur :“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” Ia melanjutkan, digitalisasi pendidikan untuk level pendidikan dasar dan menengah bukan lagi bicara tentang “alat” dan “cara menggunakannya”, tetapi kita sudah harus masuk ke aspek digital ethic, digital safety hingga digital culture. Implementasi dan Dampak Digitalisasi Pendidikan di SPIDI Menurutnya, tidak setiap sekolah yang telah memiliki perangkat teknologi digital otomatis dapat dianggap telah menerapkan digitalisasi pendidikan, sebab titik tekan digitalisasi itu lebih ke SDM, yakni pada aspek wawasan, skill dan habit, bukan pada aspek peralatannya (hardware dan software). Mendigitalisasi institusi pendidikan itu ada patronnya, yang telah dirumuskan oleh banyak pakar teknologi pendidikan dunia, bukan sebatas menurut pemikiran masing-masing kita saja. Patron itulah yang merumuskan kriteria dan indikator-indikator tertentu untuk menilai suatu sekolah sudah terdigitalisasi hingga di level mana. Salah satu patron digitalisasi pendidikan itu adalah yang dirumuskan oleh Google bekerjasama dengan sejumlah lembaga pendidikan dunia yang kemudian menyusun kualifikasi yang kemudian dikenal dengan istilah Google Reference School (GRS) atau Sekolah Rujukan Google. GRS ini merupakan standar yang berlaku secara internasional sehingga dimana-mana sekolah yang telah menyandang predikat GRS itu sama standarnya sedunia. Hingga akhir tahun 2024 ini jumlah GRS di Indonesia baru ada sembilan sekolah, dan SPIDI adalah GRS yang ketiga di Indonesia sekaligus adalah yang pertama di luar Pulau Jawa. “Di sekolah GRS itu, kriterianya antara lain semua guru, siswa dan bahkan staf administrasi telah memiliki akun berbasis cloud dengan keaktifan penggunaannya hingga 100%. Setiap siswa menggunakan chromebook sebagai perangkat digital yang memang telah dirancang khusus untuk digunakan di sekolah, guru-gurunya telah memiliki keterampilan pendidik digital yang disertifikasi secara internasional mulai dari level-1, level-2 dan hingga level trainer,” jelasnya. Menurutnya lagi, bukti suksesnya implementasi digitalisasi pendidikan di SPIDI adalah habituasi pemanfaatan teknologi yang telah terbangun. Contohnya penerapan ujian sekolah berbentuk project digital, komik digital, kamus digital, pembuatan web, konten video pendek, dan sebagainya. “Siswi kita pernah menampilkan karya komik digitalnya di kantor Google Asia Fasifik, “ Katanya bersemangat. Sejak SPIDI ditetapkan menjadi salah satu sekolah rujukan untuk implementasi digitalisasi pendidikan, SPIDI telah ramai dikunjungi oleh berbagai lembaga pendidikan di Indonesia sebagai tujuan studi banding, dan sejumlah guru dan pembinanya kerap mendapatkan undangan menjadi narasumber di berbagai forum yang relevan. Penutup Dengan munculnya SPIDI sebagai salah satu pelopor pesantren digital, Ustadz Amal Hasan berharap hal itu dapat meningkatkan optimisme masyarakat terhadap pendidikan di pesantren yang berkualitas. Digitalisasi pendidikan di SPIDI telah menunjukkan kemajuan signifikan dan berpotensi menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya di Indonesia. Dengan terus mengembangkan SDM dan teknologi, SPIDI diharapkan kelak dapat menghasilkan peserta didik yang siap menghadapi tantangan masa depan. Sesuai dengan visi melahirkan generasi Smart and Shalihah. Oleh : Mudzakkir AbidinEdited by Amal Hasan

Mendobrak Zona Nyaman Demi Masa Depan Gemilang

Siswi cantik ini baru saja pulang dari Jakarta saat kami temui untuk ngobrol.  “Iya, mau buat visa ke Prancis bulan depan, ” Jawabnya tersenyum malu-malu ketika ditanya mengapa ia ke Jakarta.  Mari kita berkenalan dengan siswi Andi Kayla Khadijah Ibrahim. Siswi kelas VIII Sekolah Puteri Darul Istiqamah (SPIDI) yang berasal dari kota kelahiran presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, Pare-Pare.  Anda mungkin penasaran sama alasan mengapa gadis remaja dengan segala kemewahan hidupnya di rumah yang bak istana ini, memilih “membatasi” dirinya dalam kehidupan pesantren yang dianggap sebagai penjara suci oleh banyak orang. Maka mari  terus baca!  Kayla adalah gadis yang tumbuh dalam hidup yang serba ada. Ia dimanja. Setiap tahun, liburannya ke luar negeri. Inggris, Jepang, Turki, Arab Saudi, Dubai, Singapura, dan sederet negara besar lainnya telah ia pijaki.  “Karena saya suka warna pink. Kan SPIDI identik dengan pink, ” Seloroh gadis berusia berusia 13 tahun ini saat ditanya mengapa memilih SPIDI.  “Awalnya orang tua mau mondokkan saya di sebuah pesantren di Pangkep, hanya saja di sana tergabung santri putra dan putri dalam satu areal kampus. Pertemuan santri putra dan putri terlalu intens. Jadi orang tua batal masukkan saya. Ketemulah SPIDI. Fasilitas dan kualitasnya setara, tapi di sini hanya khusus putri,” tambahnya.  Anak pasangan ayah dokter bedah dan ibu dokter kandungan ini tak mau diganggu oleh hal-hal di luar pendidikan seperti pacaran. Ia tak mau belajar di sekolah umum, salah satunya karena alasan itu, jadi ia memilih pondok eksklusif untuk putri. Bukannya menganggap imannya lemah, tapi menghindarinya semaksimal mungkin dengan masuk SPIDI tentu tak salah.  Sejak lahir hingga tamat SD, hidupnya serba ada. Ditanya apakah pesantren membatasi kehidupannya. Ia punya jawaban yang sangat bijak untuk usianya.  “Makanya orangtua memilihkan saya pesantren yang fasilitasnya yang lengkap. Jadi saya tak begitu merasa kesulitan. Asrama, masjid, dan ruang kelas ber-AC. Ada kolam renang, sarana berkuda, dan danaunya. Makanannya juga enak tiap hari, belum lagi lingkungan kampus yang asri dan natural, nyaris tak begitu beda dengan kehidupan di rumah. Jadi semuanya bikin nyaman” ujar gadis penyuka mie samyang ini.  Gadis berkaca mata ini malah merasa secara sosial, kehidupan pesantren jauh lebih kompleks. Ia dapat bertemu dan bersahabat dengan teman-teman yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya berbeda. Ternyata hal itu menyenangkan.  Perihal dirinya yang sering liburan ke luar negeri. Apakah keberadaannya di SPIDI membatasi itu. Ia mengaku tak ada masalah dengan itu. Sekolah malah ada program overseas, kunjungan ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Turki, Jepang, Korea Selatan, dan program studi dan ibadah di Mekkah dan Madinah.  “Insya Allah, bulan depan saya dan orang tua mau ke Paris, sekolah izinkan saya. Begitu pula teman yang juga mau ke luar negeri atau umrah, semua dikasih izin. Tapi dengan syarat, kami tetap harus mengikuti pembelajaran via online supaya tak ketinggalan pelajaran. Jadi so far, alhamdulillah, tak ada masalah dengan hal itu, ” Kata gadis berkaca mata ini.  Dirinya juga menampik istilah penjara suci bagi pesantren, sebab penjara selalu berkonotasi negatif meski digandengkan dengan kata suci. Ia menganggap batasan-batasan dalam pesantren merupakan hal yang normal dan positif. Sebab lazimnya memang kehidupan harus dibatasi agar tak menimbulkan dampak negatif ke depannya. Jadi dirinya tak masalah dengan batasan-batasan di pesantren.  “Selengkap-lengkapnya fasilitas dan seberapa pun besarnya toleransi pesantren, tetap saja tak dapat dipungkiri ada kalanya tak sama enaknya dengan kehidupan di rumah yang serba ada. Kita harus kuat dan sabar menerima keterbatasan itu. Juga aturan pesantren yang mengikat,” Ujar putri pasangan dokter Andi Ibrahim dan dokter Andi Risma ini.  “Terkadang ada yang kurang, tak ada ini dan itu. Kami tak boleh keluar kampus, tak boleh begadang, tak boleh main HP, tak boleh pacaran, tak boleh banyak bermain. Belum lagi kami harus bangun jam dua pagi untuk shalat tahajud, shalat berjamaah, tilawah, belajar hingga sore hari, dan banyak keharusan lainnya yang mesti kami jalani. Yang dibatasi sebenarnya hanyalah hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang pada dasarnya tak dibutuhkan. Sementara prestasi dan kreativitas dibuka seluas-luasnya, ” Tambahnya.  Anak penyuka mapel IPS ini meyakini bahwa dengan melalui penderitaan selama belajar enam tahun akan membawa kebahagiaan selama 60 tahun. Dengan membatasi diri dari menyenangkan hawa nafsu demi meraih ilmu di masa muda, akan meluaskan masa tua yang cerah.  “Saya selalu ingat nasihat Direktur Eksekutif SPIDI, beliau mengatakan bahwa ketika kami belajar, beribadah, dan berdoa di pesantren, pekerjaan orang tua kami menjadi lancar. Hidup diberkahi. Dan rezeki bisa lancar. Bisa saja bapak lancar dalam proses membedah pasiennya dan mama tak sulit membantu proses persalinan pasiennya karena doa-doa saya dalam sujud di sepertiga malam, “katanya lirih.  Nah, ini dia alasan terbesarnya mondok. Adalah impiannya yang mulia untuk orang tuanya.  “Saat SD, saya pernah mendengar ceramah bahwa penghafal Al-Qur’an bisa memberi mahkota buat orang tua di akhirat. Sejak saat itu saya pun bercita-cita memakaikan kedua orang tua saya mahkota syurga dengan menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an. Dan cara yang efektif untuk menghafal ada mondok di pesantren,” ujarnya terbata-bata. Ia terisak.  Itulah yang terus memotivasinya untuk menghafal Al-Qur’an. Sekarang hafalannya sudah sampai 18 juz setelah 1.5 tahun di SPIDI.  Orang tuanya pun bangga pada dirinya sejak mondok. Ia dianggap sudah bisa mandiri. Sopan dan berbakti. Dan bisa diatur. Sesuatu yang sangat ia syukuri dapat membuat orang tuanya bangga padanya.  Kita bisa belajar dari Kayla yang rela melepas gelimang hidup serba ada di rumah demi menuntut ilmu dan menghafal Al-Quran di pesantren.  Untuk anak seperti Kayla, yang rela mendobrak zona nyamannya demi masa depan dan membanggakan orang tua, maka sangat layak bagi kita untuk berdiri bertepuk tangan sebagai bentuk respek dan penghormatan kepadanya.  Seperti yang Kayla katakan, orang tuanya tetap memilih pesantren yang memiliki fasilitas yang memadai untuk sang buah hati. Demi pendidikan dan kenyamanan hidup anak. Ilmu diwariskan dalam ruang dan fasilitas yang buat nyaman.  Jadi, berdasarkan pengakuan Kayla, ternyata mondok di SPIDI menyenangkan. Tak membatasi. Mondok terasa nyaman dengan adanya fasilitas yang memadai dan kualitas pendidikan saling mendukung. Pelajaran agama, ilmu umum, dan life skillnya diajarkan. Bahasa Arab dapat, bahasa Inggris juga dapat. Ia dapat menghafal Al-Qur’an, dapat pula menghafal rumus pitagoras. Smart dan shalihah. Dengan begitu perjalanan menuju masa depan cerah dunia akhirat

Pemilihan BESt SPIDI 2024: Najla dan Mawar’da Menjadi Pemenang

Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Santri (BESt) SPIDI telah diselenggarakan dengan lancar pada Sabtu siang 10 Agustus 2024. Seluruh santri dan Civitas Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) aktif berpartisipasi dalam sistem voting tersebut. Sebelum pemilihan, debat kandidat diadakan pada pagi hari pemilihan tersebut. Kedua paslon memaparkan visi dan misi dengan baik. Paslon nomor urut 1 yakni Najla Nayla Ibrahim dan Mawar’da mengusung visi, “Ingin mewujudkan BESt yang bersinergi dalam mencetak siswa berintegrasi tinggi, unggul dalam prestasi, serta terampil dalam kemampuan sosial, digital, dan kreativitas, dengan berlandaskan Pancasila dan ketakwaan.” Sementara paslon nomor urut 2, Andi Syabania Fikni dan pasangannya Zulfa Nur Mugniah Aslam memaparkan visinya, “Mewujudkan generasi santri SPIDI yang berkarakter religius, disiplin, dan responsible. Serta menjadikan BESt sebagai wadah yang menampung segala aspirasi, bakat, potensi, dan kreativitas santri.” Akhirnya pada Apel Pagi Senin tadi, 12 Agustus 2024 diumumkan hasil pemilihan. Pasangan nomor urut 1 unggul telak atas pasangan nomor urut 2. Pasangan Najma dan Mawarda memperoleh 175 suara (74.5%). Keduanya pun didaulat pada hari yang sama sebagai ketua dan wakil ketua BESt periode 2024-2025. Penyerahan jabatan dilakukan secara simbolis oleh Ketua dan Wakil Ketua BESt sebelumnya. Ke depannya diharapkan keduanya dapat membawa BESt kearah yang lebih baik lagi dan mampu menjalankan amanahnya dengan baik dan serta memberikan kontribusi dan karya kerja terbaik bagi SPIDI.

Not Avalaible

Mohon Maaf Fitur belum tersedia, Sedang masa Development