Kilas Balik Workshop Pendidikan, Strategi Tingkatkan Kompetensi Guru

Value 3P2K (Pengabdi, Pembelajar, Profesional, Keteladanan, dan Kolaborasi) bagi guru dan civitas terus ditingkatkan di Sekolah Putri Darul Istiqamah. Salah satunya melalui berbagai program pengembangan, oleh unit Research and Development Center (RDC). “Dengan meningkatnya kompetensi para guru, kita berharap juga dapat semakin meningkatkan profesionalitas dari guru dan seluruh civitas,” ungkap Zulfikar, Kepala RDC. Berbagai jenis pelatihan diadakan, mulai dari Sharing Best Practice Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran, Microteaching WAFA, kajian Tafsir QS An Nur, Best Practice ICCTL (Integrasi Keislaman dalam Pembelajaran, Research Based Learning, Collaborative Learning, Joyful Learning). Selain itu, dalam kegiatan ini juga diadakan Outbond Team Building, Pemberian Materi Mallebi’, Pembutan Project Syiar Materi, dan berbagai materi lainnya yang tentunya bertujuan untuk semakin meningkatkan kapabilitas para guru maupun staff SPIDI. Harapannya, dengan kegiatan ini, Sekolah Putri Darul Istiqamah dapat terus memberikan pendidikan terbaik kepada para generasi terbaik, siswi Sekolah Putri Darul Istiqamah.
Agar Tidak Salah Pilih! 7 Tips Memilih Pesantren Aman untuk Anak

Belakangan ini, berbagai berita negatif tentang pesantren di beberapa daerah di Indonesia mencuat ke publik, mulai dari kasus kekerasan, perundungan, pelecehan seksual, hingga dugaan radikalisme. Hal ini tentu berdampak pada tingkat kepercayaan masyarakat. Tak sedikit orang tua yang menjadi ragu untuk memasukkan anaknya ke pesantren. Namun, penting untuk diingat bahwa kasus-kasus tersebut hanyalah segelintir dari ribuan pesantren yang telah berkontribusi besar dalam membentuk generasi berakhlak, cerdas, dan berkarakter. Pesantren tetap menjadi lembaga pendidikan yang melahirkan ulama, cendekiawan, dan pemimpin yang berpengaruh di masyarakat. Bagi para orang tua yang berencana memondokkan anak, sikap bijak dan hati-hati dalam memilih pesantren tetaplah diperlukan. Memilih pesantren yang aman untuk anak adalah keputusan penting yang memerlukan riset dan pertimbangan matang. Berikut beberapa tips yang bisa membantu: 1. Legalitas dan Reputasi Pastikan pesantren memiliki izin resmi dari Kementerian Agama, Kemenkumham, atau lembaga terkait. Periksa juga rekam jejaknya melalui testimoni alumni, orang tua santri, atau media terpercaya. Jika memungkinkan, tanyakan langsung kepada santri atau orang tua yang anaknya sudah belajar di sana. 2. Lingkungan yang Aman dan Nyaman Kunjungi langsung pesantren untuk menilai kondisi asrama, ruang belajar, dapur, dan fasilitas lainnya. Perhatikan apakah pesantren memiliki sistem keamanan seperti CCTV, satpam, dan akses kontrol bagi tamu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. 3. Kualitas Pengasuhan dan Pengajaran Sistem pembelajaran yang baik sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Oleh karena itu, pastikan pesantren memiliki kurikulum yang terstruktur, tenaga pengajar yang kompeten, serta pengasuhan yang aman bagi santri. Keberadaan guru BK atau konselor juga penting untuk mendampingi anak dalam menghadapi tantangan selama di pesantren. Selain itu, tanyakan bagaimana sistem komunikasi antara orang tua dan anak, serta apakah ada pengasuh atau pembina yang dapat dihubungi dalam situasi darurat. 4. Fasilitas Kesehatan dan Perhatian terhadap Kesejahteraan Santri Lingkungan pesantren harus mendukung kesehatan dan kesejahteraan santri. Adanya klinik atau kerja sama dengan rumah sakit terdekat menjadi faktor penting dalam menangani kondisi darurat. Selain itu, pola makan dan gizi santri harus diperhatikan agar mereka tetap sehat dan bugar dalam menjalani aktivitas sehari-hari. 5. Pemisahan Santri Putra dan Putri Pemisahan peserta didik laki-laki dan perempuan sangat penting untuk menjaga adab dan menghindari fitnah. Selain itu, pemisahan ini juga dapat meningkatkan fokus belajar, mengurangi gangguan emosional dan sosial, dan menciptakan kurikulum yang lebih sesuai dengan karakter dan kebutuhan santri putra atau putri. 6. Keseimbangan antara Pendidikan Agama dan Umum Jika anak ingin tetap melanjutkan pendidikan formal, pastikan pesantren memiliki kurikulum yang diakui. Idealnya, pesantren mengintegrasikan pendidikan umum dan agama, serta menyediakan kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung pengembangan karakter dan bakat anak. 7. Libatkan Anak dalam Memilih Pesantren Jangan lupa untuk melibatkan anak dalam proses pemilihan pesantren. Pastikan mereka merasa nyaman dan siap secara mental sebelum masuk. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, Anda dapat memilih pesantren yang tidak hanya aman tetapi juga berkualitas untuk anak Anda. Jangan terburu-buru dalam mengambil keputusan—lakukan riset, tanyakan pengalaman orang lain, dan pastikan anak merasa nyaman dengan pilihannya. Semoga anak Anda mendapatkan lingkungan belajar terbaik!
Paparkan Berbagai Inovasi, SPIDI Gelar Sidang KTI Untuk Siswi Kelas IX dan XII

Sekolah Putri Darul Istiqamah menggelar Sidang Karya Tulis Ilmiah Berbasis Research untuk siswi kelas IX dan XII pada hari ini, Sabtu, 25 Januari 2025. Kepala Sekolah Putri Darul Istiqamah, Irmayanti Arifuddin, M.Pd., mengungkapkan bahwa sidang Karya Tulis Ilmiah berbasis research ini merupakan target internal bagi peserta didik sebelum menyelesaikan studinya. “Kegiatan ini merupakan program tahunan kami yang sudah terlaksana selama 8 tahun, dan sudah 3 tahun kita mengundang asesor profesional dari berbagai disiplin ilmu (Praktisi dan Akademisi) untuk meningkatkan kualitas karya dan inovasi para siswi,” ungkapnya. “Dan tahun ini, 2 guru besar Universitas Negeri Yogyakarta bergabung sebagai asesor eksternal kita. Sebagaimana giat serupa yang telah terlaksana, kami melihat ada banyak peningkatan yang ditonjolkan santri SPIDI. Terlihat dari apa yang telah mereka perjuangkan hingga hari ini,” tambahnya. Kegiatan ini diharapkan dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan kreatifitas, penyelesaian masalah, melatih kemampuan menulis ilmiah dan melatih keterampilan penelitian para siswi. Selain itu, juga diharapkan meningkatkan kemampuan komunikasi, Meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan mengatasi tekanan dan memperluas wawasan dan pengetahuan. Salah satu peserta Sidang KTI, Mutia Sabila mengungkapkan rasa khawatir dan bahagianya usai pelaksanaan Ujian. “Pas presentasi KTI saya kira akan semenegangkan itu, jadinya deg-degan karena diuji oleh dosen dari Universitas ternama langsung, namun ternyata alhamdulillah dosennya baik dan pertanyaannya mudah dipahami,” ungkapnya. Siswi kelas XII yang mengangkat judul KTI “Inovasi Pembuatan Ice Cream dari Ekstrak Chamomile dan Pisang Ambon” ini juga menuturkan manfaat yang ia dapatkan setelah menyelesaikan program ini. “Tentunya kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami, selain mengasah kreativitas serta keterampilan kami kelas XII maupun kelas IX, juga akan menjadi bekal penting untuk kami gunakan di perguruan tinggi nanti insyaa Allah,” tuturnya. Pelaksanaan Sidang KTI berjalan lancar dengan terbagi menjadi 13 majelis, dimana tiap majelis terdiri atas 2 asesor. Yaitu asesor eksternal dan internal. Tiap majelis dipetakan berdasarkan tema penelitian. Sidang Karya Tulis Ilmiah ini diharapkan dapat mendorong siswi untuk lebih aktif dalam belajar, melakukan penelitian, dan menganalisis informasi. Ini akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Cinta, Siswi Seribu Wajah

Pesantren dalam spektrum yang luas, sesuai dengan kondisinya, bukanlah tempat bagi anak-anak manja dan baperan. Ia tempat bagi anak-anak kuat nan mandiri. “Attention please, its time to break…” bunyi bel terdengar seantero kampus dengan dua bahasa, Inggris dan Arab, menandakan waktu istirahat. Para siswi berjejer antri keluar dari kelas Boutique untuk beristirahat. Kelas boutique adalah ruangan persegi empat dengan luas 8×8 meter bermaterial kayu jati. Dipesan dari kota perajin rumah kayu, Tomohon, Sulawesi Utara. Unik karena mungkin hanya sedikit sekolah di Indonesia dengan desain ruang kelas seperti ini. Bangunannya lebih mirip villa di pegunungan dibandingkan ruang kelas konvensional. Alasan didesain seperti itu adalah agar bisa menjadi tempat yang nyaman bagi peserta didik dan guru dalam proses transfer ilmu. Jika Anda berkeliling di areal kampus, Di Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI), ada 12 bangunan kelas boutique seperti ini. Setiap ruang kelas bertema. Ada kelas English, Arabic, Digital, Biologi, Tarbiyah, dan lain-lain. Di dalam salah satu ruang itulah, yaitu kelas Inggris, memanfaatkan waktu istirahat pertama, kami berbincang dengan Cinta Haryuni Amrullah. Seorang siswi kelas IX SMP. Cinta adalah salah satu siswi paling menonjol di kelasnya, baik prestasi akademik mau pun karakternya. Tak hanya satu atau dua, gadis ayu ini punya banyak wajah. Cinta dan Pesantren Siswi berkaca mata ini bercerita banyak hal yang layak kita baca dengan seksama. Ketika Cinta mau tamat SD. Ia ingin melanjutkan SMP di sebuah sekolah fullday ternama di Makassar. Namun, berkat saran dari wali kelas, ia berubah pikiran. Walasnya menyarankan untuk mondok di pesantren. “Walas ketika kelas enam SD dulu menyarankan saya masuk pesantren. Teman-teman saya juga banyak yang mau mondok. Akhirnya saya minta sama orang tua untuk carikan pesantren. Tapi orang tua maunya pesantren yang modern. Ketemulah dengan SPIDI. Saya ingat ketika itu, Ramadhan tahun 2022, datang melihat kampus SPIDI. Masya Allah, fasilitas dan kurikulum pendidikannya membuat saya langsung jatuh hati, ” Kenang remaja yang suka melukis ini. Dirinya merasa keren dapat mondok di pesantren. Ia dapat menjadi mandiri, bisa berkenalan dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia dengan latar belakang budaya dan karakter yang beragam. Dirinya juga membandingkan saat SD dulu dengan apa yang ia rasakan sekarang, aktivitas pendidikan di pesantren jauh lebih menyenangkan dan bervarisi. Minat dan Bakat di SPIDI “Menurut saya SPIDI adalah sekolah minat dan bakat. Bakat saya di bidang seni semakin terasah sejak berada di sini, ” ujar gadis penyuka makanan pedas ini ketika ditanya tentang keunggulan sekolahnya. Ia bersama dengan dua kakak kelasnya pernah didaulat mempresentasikan project komik digital karya mereka di depan peserta meeting Google Reference School nasional secara daring. Di SPIDI, ia juga aktif terlibat di Putri Merah Jambu (PMJ), semacam rumah produksi asuhan ustadz Muhajir. Kerap kali ia dipercaya menjadi script writer, editor, bahkan sutradara beberapa film pendek. Wanita penyuka mapel IPA ini memiliki beragam minat dan bakat. Multitalenta. Di dalam kelas, ia juara kelas, di luar kelas ia dapat menulis puisi, menyanyi, bermain alat musik, menggambar, desain poster, editor video, hingga membuat film pendek. Dan semuanya meningkat tajam setelah masuk SPIDI. “Saya tentu baru kelas IX, belum panjang perjalanan saya menuntut ilmu, tapi SPIDI benar-benar mengembangkan saya. Tak hanya saya sendiri yang ingin berkembang, sekolah juga mensupport penuh, jadi saya merasa SPIDI dalah sekolah yang tepat buat pengembangan minat dan bakat, ” aku dia. “Bukan hanya saya, teman-teman juga difasilitasi minat dan bakatnya di sini. Saya masih ingat betul kak Syadza yang baru masuk SPIDI di kelas X, tapi dengan cepat diendus bakatnya oleh sekolah, dilatih di studio, diikutkan lomba dan akhirnya bisa juara satu lomba nasyid tingkat nasional, ” imbuh dia. Kurikulum yang mendukung minat dan bakat, guru yang profesional, banyaknya kegiatan ekstrakurikuler, female class, Life skill class, hingga tersedianya infrastruktur dan fasilitas memadai dalam mendukung minat bakat membuatnya merasa bersyukur dapat mondok di SPIDI. Cinta yang Cinta IPA Meski dirinya bisa mengungguli teman-temannya dalam banyak mata pelajaran, tapi putri dari pasangan pengusaha Hairul Amrullah dan dokter Yunita ini sangat suka terhadap pelajaran IPA. Makanya ia lebih mendalami pelajaran tersebut. Tak hanya di kelas, ia juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler IPA di hari Jum’at siang. Salah satu hal yang ia sukai adalah mengikuti lomba. Sebab dengan ikut lomba ia termotivasi untuk terus belajar. Syukurnya, sekolah seringkali mengikutkan ia dan teman-temannya dalam lomba. “Alhamdulillah, saya pernah dapat medali emas dalam Olimpiade tingkat nasional. Pernah juga dapat juara dua dalam even yang berbeda. Semuanya lomba IPA. Dengan mengikuti lomba, tanpa kita sadari kita semakin berkembang. Itu karena lomba membuat kita terlecut untuk giat belajar,” kata remaja berusia 14 tahun ini. Salah satu alasan mengapa ia memilih lebih fokus pada pelajaran saintek terkhusus Iadalah impiannya untuk mengikuti jejak sang ibu menjadi dokter. “Amin,” ucapnya lirih ketika kami mendoakan agar ia kelak bisa menjadi dokter. Cinta dan Teman-Teman Dalam kehidupan bersama dalam pondok, jiwa itu akan mencari jiwa sesamanya secara fitrah. Mereka akan bertemu dalam muara persahabatan yang erat. Cinta adalah anak SMP yang berlaku dewasa. Makanya ia selektif memilah temannya. Ia menunjuk Firza, Mecca, dan Nahda dari teman sekelasnya sebagai teman favoritnya. Mereka dianggapnya adalah tipe teman yang dapat menginspirasi. “Firza, Mecca, dan Nahda adalah sosok teman yang dewasa. Mereka menginspirasi saya untuk ikut dewasa seperti mereka. Mereka tidak suka baper, “ceritanya. Diakuinya, ia belajar banyak dari latar belakang teman-teman yang beragam. Juga belajar dari siapa pun yang dianggapnya menginspirasi. Tapi tak dapat dipungkiri, terkadang ia tak menyukai karakter teman-teman tertentu yang dianggapnya kekanakan. Di awal ia sering baper. Namun, seiring usia dan pengetahuan bertambah, ia semakin menyadari arti perbedaan dan konsekuensi hidup berjamaah. Ia bisa berdamai dengan dirinya setelah memaklumi latar belakang karakter yang berbeda setiap temannya. Dibandingkan sekolah pada umumnya, kehidupan berpesantren sesuai dengan kondisinya, bukanlah tempat yang hangat buat orang yang suka baper dalam bergaul. Cinta dan Harapannya pada Sekolah dan Guru Sekolahnya terus dikembangkan. Sesuatu yang Cinta apresiasi. Tapi tentu tak lepas dari kekurangan. “Sekarang SPIDI sudah luar biasa. Tapi tentu punya kekurangan. Semoga kekurangan itu berkurang dan terus bertambah kelebihannya,” ucapnya penuh harap. Ia berharap guru-guru juga semakin profesional. Ia sadar betul bahwa tonggak dari suksesnya pendidikan di sebuah sekolah adalah guru yang
Momen Haru Siswi SPIDI dalam Program Short Course Madinah

Masyaa Allah para santri Sekolah Putri Darul Istiqamah kembali melaksanakan umroh-nya yang kedua di Tanah Suci 🥺🥺🥹 SHORT COURSE MADINAH : Belajar Qur’an dan Bahasa Arab 60 Hari di Kota Suci Mekkah dan Madinah + Umroh + Turki 🕋🕋 Overseas menjadi salah satu program unggulan di Sekolah Putri Darul Istiqamah. Hal ini untuk mengembangkan wawasan global, dan keterampilan berbahasa asing siswi SPIDI. Dengan program overseas, siswi dapat melihat dunia secara lebih luas, serta mengenal peradaban islam di luar sana. Selain itu, program overseas mengembangkan leadership siswi, karena siswi akan belajar tentang keunggulan negara lain dari segi pendidikan, teknologi, bahasa, kedisiplinan, serta pendidikan agama Islam. Apa Saja Yang Akan Dilakukan ⁉️ ✅ Seat in Program Pendidikan Masjid Nabawi untuk Belajar Qur’an dan Bahasa Arab✅ Program Sanad Qur’an dan Hadist (Pilihan)✅ Program Umroh (Dua Kali)✅ Edutrip Napak Tilas Perjalanan Rasulullah dan Sejarah Islam✅ Kunjungan Universitas✅ dan berbagai kegiatan menarik dan penuh makna lainnya.
Digitalisasi Pendidikan di Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI)

Era Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk transformasi digitalisasi pendidikan yang mengintegrasikan teknologi digital untuk meningkatkan kualitas, efisiensi dan aksesibilitas pendidikan. Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis pesantren yang turut bertransformasi mengaplikasikan digitalisasi pendidikan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang sejauh mana implementasi digitalisasi pendidikan di SPIDI, kami berbicara dengan Kepala Information and Communication Technology (ICT), Ustadz Amal Hasan yang juga selaku Leader of Google Educator Sulawesi Selatan pada Rabu, 25 Desember 2024 di ruang PSB SPIDI. Alasan Pentingnya Digitalisasi Pendidikan “Digitalisasi pendidikan merupakan upaya menjawab kebutuhan zaman. Generasi muda, khususnya Generasi Z dan Alpha yang telah familiar dengan teknologi digital sejak lahir. Oleh karena itu, penggunaan teknologi dalam pendidikan merupakan keharusan. Ibarat sekarang kita berpindah tempat tinggal ke tepi laut, maka kemampuan berenang adalah hal yang mutlak harus diajarkan ke anak-anak kita,” jelas Ustadz Amal Hasan. Tak lupa ia mengutip perkataan yang masyhur :“Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian.” Ia melanjutkan, digitalisasi pendidikan untuk level pendidikan dasar dan menengah bukan lagi bicara tentang “alat” dan “cara menggunakannya”, tetapi kita sudah harus masuk ke aspek digital ethic, digital safety hingga digital culture. Implementasi dan Dampak Digitalisasi Pendidikan di SPIDI Menurutnya, tidak setiap sekolah yang telah memiliki perangkat teknologi digital otomatis dapat dianggap telah menerapkan digitalisasi pendidikan, sebab titik tekan digitalisasi itu lebih ke SDM, yakni pada aspek wawasan, skill dan habit, bukan pada aspek peralatannya (hardware dan software). Mendigitalisasi institusi pendidikan itu ada patronnya, yang telah dirumuskan oleh banyak pakar teknologi pendidikan dunia, bukan sebatas menurut pemikiran masing-masing kita saja. Patron itulah yang merumuskan kriteria dan indikator-indikator tertentu untuk menilai suatu sekolah sudah terdigitalisasi hingga di level mana. Salah satu patron digitalisasi pendidikan itu adalah yang dirumuskan oleh Google bekerjasama dengan sejumlah lembaga pendidikan dunia yang kemudian menyusun kualifikasi yang kemudian dikenal dengan istilah Google Reference School (GRS) atau Sekolah Rujukan Google. GRS ini merupakan standar yang berlaku secara internasional sehingga dimana-mana sekolah yang telah menyandang predikat GRS itu sama standarnya sedunia. Hingga akhir tahun 2024 ini jumlah GRS di Indonesia baru ada sembilan sekolah, dan SPIDI adalah GRS yang ketiga di Indonesia sekaligus adalah yang pertama di luar Pulau Jawa. “Di sekolah GRS itu, kriterianya antara lain semua guru, siswa dan bahkan staf administrasi telah memiliki akun berbasis cloud dengan keaktifan penggunaannya hingga 100%. Setiap siswa menggunakan chromebook sebagai perangkat digital yang memang telah dirancang khusus untuk digunakan di sekolah, guru-gurunya telah memiliki keterampilan pendidik digital yang disertifikasi secara internasional mulai dari level-1, level-2 dan hingga level trainer,” jelasnya. Menurutnya lagi, bukti suksesnya implementasi digitalisasi pendidikan di SPIDI adalah habituasi pemanfaatan teknologi yang telah terbangun. Contohnya penerapan ujian sekolah berbentuk project digital, komik digital, kamus digital, pembuatan web, konten video pendek, dan sebagainya. “Siswi kita pernah menampilkan karya komik digitalnya di kantor Google Asia Fasifik, “ Katanya bersemangat. Sejak SPIDI ditetapkan menjadi salah satu sekolah rujukan untuk implementasi digitalisasi pendidikan, SPIDI telah ramai dikunjungi oleh berbagai lembaga pendidikan di Indonesia sebagai tujuan studi banding, dan sejumlah guru dan pembinanya kerap mendapatkan undangan menjadi narasumber di berbagai forum yang relevan. Penutup Dengan munculnya SPIDI sebagai salah satu pelopor pesantren digital, Ustadz Amal Hasan berharap hal itu dapat meningkatkan optimisme masyarakat terhadap pendidikan di pesantren yang berkualitas. Digitalisasi pendidikan di SPIDI telah menunjukkan kemajuan signifikan dan berpotensi menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya di Indonesia. Dengan terus mengembangkan SDM dan teknologi, SPIDI diharapkan kelak dapat menghasilkan peserta didik yang siap menghadapi tantangan masa depan. Sesuai dengan visi melahirkan generasi Smart and Shalihah. Oleh : Mudzakkir AbidinEdited by Amal Hasan
Mendobrak Zona Nyaman Demi Masa Depan Gemilang

Siswi cantik ini baru saja pulang dari Jakarta saat kami temui untuk ngobrol. “Iya, mau buat visa ke Prancis bulan depan, ” Jawabnya tersenyum malu-malu ketika ditanya mengapa ia ke Jakarta. Mari kita berkenalan dengan siswi Andi Kayla Khadijah Ibrahim. Siswi kelas VIII Sekolah Puteri Darul Istiqamah (SPIDI) yang berasal dari kota kelahiran presiden ketiga Indonesia, B.J. Habibie, Pare-Pare. Anda mungkin penasaran sama alasan mengapa gadis remaja dengan segala kemewahan hidupnya di rumah yang bak istana ini, memilih “membatasi” dirinya dalam kehidupan pesantren yang dianggap sebagai penjara suci oleh banyak orang. Maka mari terus baca! Kayla adalah gadis yang tumbuh dalam hidup yang serba ada. Ia dimanja. Setiap tahun, liburannya ke luar negeri. Inggris, Jepang, Turki, Arab Saudi, Dubai, Singapura, dan sederet negara besar lainnya telah ia pijaki. “Karena saya suka warna pink. Kan SPIDI identik dengan pink, ” Seloroh gadis berusia berusia 13 tahun ini saat ditanya mengapa memilih SPIDI. “Awalnya orang tua mau mondokkan saya di sebuah pesantren di Pangkep, hanya saja di sana tergabung santri putra dan putri dalam satu areal kampus. Pertemuan santri putra dan putri terlalu intens. Jadi orang tua batal masukkan saya. Ketemulah SPIDI. Fasilitas dan kualitasnya setara, tapi di sini hanya khusus putri,” tambahnya. Anak pasangan ayah dokter bedah dan ibu dokter kandungan ini tak mau diganggu oleh hal-hal di luar pendidikan seperti pacaran. Ia tak mau belajar di sekolah umum, salah satunya karena alasan itu, jadi ia memilih pondok eksklusif untuk putri. Bukannya menganggap imannya lemah, tapi menghindarinya semaksimal mungkin dengan masuk SPIDI tentu tak salah. Sejak lahir hingga tamat SD, hidupnya serba ada. Ditanya apakah pesantren membatasi kehidupannya. Ia punya jawaban yang sangat bijak untuk usianya. “Makanya orangtua memilihkan saya pesantren yang fasilitasnya yang lengkap. Jadi saya tak begitu merasa kesulitan. Asrama, masjid, dan ruang kelas ber-AC. Ada kolam renang, sarana berkuda, dan danaunya. Makanannya juga enak tiap hari, belum lagi lingkungan kampus yang asri dan natural, nyaris tak begitu beda dengan kehidupan di rumah. Jadi semuanya bikin nyaman” ujar gadis penyuka mie samyang ini. Gadis berkaca mata ini malah merasa secara sosial, kehidupan pesantren jauh lebih kompleks. Ia dapat bertemu dan bersahabat dengan teman-teman yang datang dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang budaya berbeda. Ternyata hal itu menyenangkan. Perihal dirinya yang sering liburan ke luar negeri. Apakah keberadaannya di SPIDI membatasi itu. Ia mengaku tak ada masalah dengan itu. Sekolah malah ada program overseas, kunjungan ke beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Turki, Jepang, Korea Selatan, dan program studi dan ibadah di Mekkah dan Madinah. “Insya Allah, bulan depan saya dan orang tua mau ke Paris, sekolah izinkan saya. Begitu pula teman yang juga mau ke luar negeri atau umrah, semua dikasih izin. Tapi dengan syarat, kami tetap harus mengikuti pembelajaran via online supaya tak ketinggalan pelajaran. Jadi so far, alhamdulillah, tak ada masalah dengan hal itu, ” Kata gadis berkaca mata ini. Dirinya juga menampik istilah penjara suci bagi pesantren, sebab penjara selalu berkonotasi negatif meski digandengkan dengan kata suci. Ia menganggap batasan-batasan dalam pesantren merupakan hal yang normal dan positif. Sebab lazimnya memang kehidupan harus dibatasi agar tak menimbulkan dampak negatif ke depannya. Jadi dirinya tak masalah dengan batasan-batasan di pesantren. “Selengkap-lengkapnya fasilitas dan seberapa pun besarnya toleransi pesantren, tetap saja tak dapat dipungkiri ada kalanya tak sama enaknya dengan kehidupan di rumah yang serba ada. Kita harus kuat dan sabar menerima keterbatasan itu. Juga aturan pesantren yang mengikat,” Ujar putri pasangan dokter Andi Ibrahim dan dokter Andi Risma ini. “Terkadang ada yang kurang, tak ada ini dan itu. Kami tak boleh keluar kampus, tak boleh begadang, tak boleh main HP, tak boleh pacaran, tak boleh banyak bermain. Belum lagi kami harus bangun jam dua pagi untuk shalat tahajud, shalat berjamaah, tilawah, belajar hingga sore hari, dan banyak keharusan lainnya yang mesti kami jalani. Yang dibatasi sebenarnya hanyalah hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang pada dasarnya tak dibutuhkan. Sementara prestasi dan kreativitas dibuka seluas-luasnya, ” Tambahnya. Anak penyuka mapel IPS ini meyakini bahwa dengan melalui penderitaan selama belajar enam tahun akan membawa kebahagiaan selama 60 tahun. Dengan membatasi diri dari menyenangkan hawa nafsu demi meraih ilmu di masa muda, akan meluaskan masa tua yang cerah. “Saya selalu ingat nasihat Direktur Eksekutif SPIDI, beliau mengatakan bahwa ketika kami belajar, beribadah, dan berdoa di pesantren, pekerjaan orang tua kami menjadi lancar. Hidup diberkahi. Dan rezeki bisa lancar. Bisa saja bapak lancar dalam proses membedah pasiennya dan mama tak sulit membantu proses persalinan pasiennya karena doa-doa saya dalam sujud di sepertiga malam, “katanya lirih. Nah, ini dia alasan terbesarnya mondok. Adalah impiannya yang mulia untuk orang tuanya. “Saat SD, saya pernah mendengar ceramah bahwa penghafal Al-Qur’an bisa memberi mahkota buat orang tua di akhirat. Sejak saat itu saya pun bercita-cita memakaikan kedua orang tua saya mahkota syurga dengan menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an. Dan cara yang efektif untuk menghafal ada mondok di pesantren,” ujarnya terbata-bata. Ia terisak. Itulah yang terus memotivasinya untuk menghafal Al-Qur’an. Sekarang hafalannya sudah sampai 18 juz setelah 1.5 tahun di SPIDI. Orang tuanya pun bangga pada dirinya sejak mondok. Ia dianggap sudah bisa mandiri. Sopan dan berbakti. Dan bisa diatur. Sesuatu yang sangat ia syukuri dapat membuat orang tuanya bangga padanya. Kita bisa belajar dari Kayla yang rela melepas gelimang hidup serba ada di rumah demi menuntut ilmu dan menghafal Al-Quran di pesantren. Untuk anak seperti Kayla, yang rela mendobrak zona nyamannya demi masa depan dan membanggakan orang tua, maka sangat layak bagi kita untuk berdiri bertepuk tangan sebagai bentuk respek dan penghormatan kepadanya. Seperti yang Kayla katakan, orang tuanya tetap memilih pesantren yang memiliki fasilitas yang memadai untuk sang buah hati. Demi pendidikan dan kenyamanan hidup anak. Ilmu diwariskan dalam ruang dan fasilitas yang buat nyaman. Jadi, berdasarkan pengakuan Kayla, ternyata mondok di SPIDI menyenangkan. Tak membatasi. Mondok terasa nyaman dengan adanya fasilitas yang memadai dan kualitas pendidikan saling mendukung. Pelajaran agama, ilmu umum, dan life skillnya diajarkan. Bahasa Arab dapat, bahasa Inggris juga dapat. Ia dapat menghafal Al-Qur’an, dapat pula menghafal rumus pitagoras. Smart dan shalihah. Dengan begitu perjalanan menuju masa depan cerah dunia akhirat
Gelaran Spesial untuk Anak Spesial “Sekolah Alam Darul Istiqamah Gelar Festival Green Therapy”

Melihat anak-anak berkebutuhan khusus menikmati bermain bersama alam sambil tertawa lepas merupakan pemandangan yang membahagiakan. Bukan hanya bagi orang tua, tapi juga bagi semua orang yang ikut menyaksikannya. Pemandangan itu dapat kita lihat hari ini, Sabtu (07/09/2024) di Sekolah Alam Darul Istiqamah (SADIQ). Ada kurang lebih 106 anak-anak yang 60 persennya adalah ABK turut serta dalam gelaran Festival Green Therapy. Anak-anak tertawa puas saat bola masuk tepat dalam keranjang. Diiringi pula sorak-sorai tepuk tangan orang-orang yang menyaksikannya. Tepukan penuh makna melipatgandakan kebahagiaan anak-anak spesial itu. “Anak-anak boleh bawa pulang pohon yang sudah ditanam dalam polybag, ” kata ustadzah yang mendampingi anak-anak dalam Gardening Therapy. Mendengar itu, seorang anak berteriak kegirangan sambil mengangkat kantong yang berisi tanah dan tanaman nangka miliknya. Ia adalah Ella, wanita berusia 12 tahun. Pengidap penyakit lupus atau seribu wajah. Lain halnya dengan Ilham. Anak berusia 10 tahun pengidap penyakit ADHD (hiperaktif) dengan percaya diri meminta mic pada ustadzah. Lalu bernyanyi. Suaranya cukup bagus. Tak pelak suaranya mengundang banyak orang datang menyaksikan penampilan penyanyi dadakan itu. “Satu lagu lagi, ” Teriak penonton.Ilham bahagia mendapatkan dukungan begitu banyak. Mungkin baru pertama kali ia mendapatkan sambutan seperti ini. Kepala Sekolah Alam Darul Istiqamah, Rafelia Husain mengatakan kalau kegiatan ini adalah bentuk kepedulian sekolahnya terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. “Acara ini diadakan untuk ABK. Tapi tak sedikit pula anak normal yang turut serta. Kami dedikasikan buat anak-anak berkebutuhan khusus sebagai bentuk perhatian kami terhadap mereka, ” Kata Rafelia. Orang tua mana yang tak bahagia saat melihat anak yang sering kali mereka tangisi nasibnya riang gembira menikmati wahana permainan. “Kegiatan ini sangat baik bagi anak-anak. Anak kami dapat menikmati banyak wahana permainan yang tak pernah kami temukan di tempat lain. Kami berterima kasih pada SADIQ atas perhelatan Green Festival ini. Gratis pula,” Kesan Pak Tri Sutrisno. Senada dengan pak Tri Sutrisno, pak Amir juga berterima kasih pada SADIQ atas terselenggaranya acara ini. Anaknya senang sekali. Festival Green Therapy kali ini membawa banyak muatan terapi seperti terapi berkuda (hyppotherapy), terapi air (hydro therapy), Terapi Bersama Alam, dan lain-lain. “Terapi Bersama Alam adalah salah satu terapi terbaik bagi anak. Ini merupakan salah satu bentuk pemulihan alternatif bagi ABK, ” Jelas pemateri seminar, Dr. Riza Sativani Hayati. Kebahagiaan adalah obat. Obat bagi anak dan juga bagi orang tua yang melihat anak ceria. Mereka pulang membawa pengalaman yang mungkin anak-anak itu tak dapat ceritakan, tapi pengalaman itu tak akan pernah mereka lupakan. Terima kasih SADIQ.Terima kasih UAD dan Unismuh.Terima kasih Kemendikbud Ristek.Atas kolaborasi penuh kebaikan ini.
SPIDI Berbagi Penerapan Teknologi Digital dalam Pembelajaran

Refo Indonesia bekerja sama dengan IPEKA International Christian Schools mengadakan Road Show dan Sharing Session dengan tema “Mempersiapkan Sekolah di Era AI” di hotel Mercure, Makassar, Kamis 22/08. Dalam kegiatan tersebut, Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) sebagai sekolah pertama Google Reference School (GRS) di Sulawesi Selatan dan yang ketiga di Indonesia dipercaya menjadi salah satu pemateri best practice dalam sharing session. Kepala SMA SPIDI, Irmayanti Arifuddin, M.Pd. dalam sesi berbagi tersebut menjelaskan praktik penerapan Google Workspace Education (GWE) , tools, kelebihan, dan tantangan penerapannya di SPIDI. “Penerapan GWE menjadi salah satu media pembelajaran yang efektif sekaligus menyenangkan bagi peserta didik. Dengan teknologi Google, akses informasi dan ilmu semakin dekat, kemudian disajikan dengan konten yang lebih menarik hingga membuat anak-anak tak bosan mengikuti pembelajaran,” ujar Irmayanti dalam sambutannya. Peserta berjumlah 70 orang yang berasal dari berbagai sekolah besar di Sulawesi Selatan begitu antusias mendengarkan. Beberapa sekolah dalam sesi tanya mengaku tertarik mengaplikasikan pembelajaran GWE. Dalam sambutannya, Principal Learning Consultant REFO Indonesia, Steven Sutantro mengatakan bahwa SPIDI adalah contoh sekolah yang menerapkan GWE. “Teman-teman tak perlu jauh-jauh jika ingin belajar tentang penerapan teknologi digital dalam pembelajaran. SPIDI sebagai sekolah pertama di Sulawesi Selatan menerapkan GWE bisa menjadi referensi kita semua,” ajak Steven.
Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) Terima Kunjungan Kerja dari Sekolah Islam Athirah Makassar

Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) diwakili oleh Direktur Pendidikan SPIDI, Dr. Riza Sativani Hayati, S.Pd.,M.Pd. dan jajaran kepala unit pendidikan menerima kunjungan kerja Sekolah Islam Athirah 1 Makassar, pada Rabu,14/08/24 Kunjungan kerja Sekolah Athirah dalam rangka konsultasi dan belajar penerapan sekolah berbasis digital pada SPIDI. “Kami berterima kasih atas sambutan ini. Kami datang untuk belajar tentang penerapan sekolah berbasis digital, bagaimana proses, melihat langsung penerapannya di SPIDI, dan teknis pembelajarannya.” Kata Kepala SMA Athirah 1 Makassar, Tawakkal Kahar, S.Pd., M.Pd. dalam sambutannya. Sementara itu Riza Sativani mengapresiasi kunjungan ini. Ia mengatakan banyak sekolah sebelumnya yang juga pernah datang ke SPIDI dalam rangka belajar penerapan sekolah berbasis digital. “Alhamdulillah, kami mengapresiasi kunjungan Athirah ini. Sebelumnya, beberapa sekolah besar lainnya juga pernah berkunjung ke sini untuk tujuan yang sama dengan Athira. Kami berharap sharing antar sekolah seperti ini sering dilakukan ke depannya.” Ujar Direktur Pendidikan SPIDI, Riza Sativani. Kepala ICT SPIDI, Halid Hasan dipercayakan untuk mempresentasikan penerapan pendidikan digital, tools, kendala, metode, hingga teknis pelaksanaannya kepada peserta lawatan ini.