Ramadan di Ambang Pintu: Sudahkah Kita Menyiapkan “Tujuh Kekuatan” untuk Menang?

Bulan Sya’ban telah melewati paruh pertamanya. Hitung mundur menuju Ramadan kian nyaring terdengar. Ramadan adalah tamu agung yang membawa koper penuh rahmat dan ampunan. Namun, satu hal yang perlu kita sadari: kemuliaan Ramadan tidak serta-merta turun kepada siapa pun yang memasukinya. Ibarat memasuki medan perang, mustahil kita pulang membawa kemenangan tanpa persiapan yang matang. Tanpa bekal, Ramadan hanya akan menjadi rutinitas menahan lapar dan haus belaka. Lantas, apa saja yang harus kita siapkan? Mari kita asah Tujuh Kekuatan sebelum hilal Ramadan tampak di Ufuk Timur. 1. Kekuatan Ilmu: Beramal dengan Panduan Islam adalah agama ilmu. Beribadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan tanpa kompas. Umar bin Abdul Aziz pernah memperingatkan bahwa orang yang beribadah tanpa ilmu justru berpotensi merusak lebih banyak daripada memperbaiki. Apa yang harus dipelajari? * Fikih Puasa: Pahami mana yang membatalkan, mana yang makruh, dan mana yang sunnah. * Tahsin Al-Qur’an: Perbaiki bacaan agar tilawah kita di bulan suci menjadi lebih sempurna. * Fadhailul A’mal: Pelajari keutamaan ibadah agar motivasi kita tetap membara. 2. Kekuatan Fisik: Tubuh Sehat, Ibadah Kuat “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, Ramadan menuntut stamina ekstra untuk shalat Tarawih yang panjang dan bangun sahur di sepertiga malam. Mulailah mengatur pola makan seimbang, rutin olahraga ringan, dan biasakan puasa sunnah di bulan Sya’ban agar tubuh tidak kaget saat Ramadan tiba. 3. Kekuatan Hati dan Jiwa: Bersih dari Dendam dan Dosa Pernahkah Anda merasa berat untuk melangkah ke masjid atau malas membuka Al-Qur’an? Bisa jadi itu adalah belenggu dosa. Ibnu Rajab Al-Hambali menekankan pentingnya kegembiraan menyambut Ramadan, namun kegembiraan itu sulit hadir jika hati tertutup noda (raan). Sebelum Ramadan tiba, lakukan “detoksifikasi hati”: * Taubatan Nasuha: Mohon ampun atas dosa-dosa lama. * Rekonsiliasi: Maafkan sesama manusia. Jangan biarkan ada setitik dengki yang menghalangi doa-doa kita diangkat ke langit. 4. Kekuatan Perencanaan dan Jadwal Gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan. Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa target yang jelas. * Buat target tilawah (misal: 1 juz per hari). * Alokasikan waktu khusus untuk sedekah dan doa. * Atur jadwal tidur agar tetap bisa produktif di siang hari dan terjaga di malam hari. 5. Kekuatan Harta untuk Berbagi Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya meningkat berkali-kali lipat di bulan Ramadan. Persiapkan anggaran khusus untuk infaq, zakat, dan memberi buka puasa (ifthar). Harta yang disiapkan dengan baik membuat kita lebih fokus pada ibadah tanpa terganggu urusan duniawi yang mendesak. 6. Kekuatan Lingkungan yang Kondusif Lingkungan sangat memengaruhi mental ibadah. Ciptakan atmosfer Ramadan di rumah kita: * Rapikan sudut rumah untuk tempat shalat dan tilawah. * Ajak anggota keluarga membuat kesepakatan ibadah bersama. * Ikut serta membersihkan masjid lingkungan agar nyaman digunakan jamaah. 7. Kekuatan Pembiasaan: Ala Bisa karena Biasa Pemenang di bulan Ramadan bukanlah mereka yang mendadak shalih secara instan, melainkan mereka yang sudah “pemanasan” sejak Rajab dan Sya’ban. Mulailah membiasakan diri mengurangi begadang, meningkatkan durasi baca Al-Qur’an, dan menjaga lisan dari sekarang. Saat Ramadan tiba, Anda tinggal melanjutkan momentum yang sudah terbangun. Ramadan adalah peluang emas yang terbatas. Bayangkan kita diizinkan masuk ke gudang harta karun selama 30 hari. Apakah kita akan masuk dengan tangan kosong dan terkantuk-kantuk? Tentu tidak. Kita akan membawa keranjang terbesar dan tenaga terkuat. Semoga Allah SWT menyampaikan usia kita pada bulan Ramadan dalam kondisi sehat wal afiat, penuh iman, dan kekuatan untuk menjalankan ketaatan. للهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan). Penulis: Muzakkir Abidin, Lc.
Wujudkan Kepedulian, Keluarga Besar SPIDI, DIBS, dan SADIQ Salurkan Donasi Rp34,6 Juta untuk Korban Banjir Sumatra Barat

MAROS, SULAWESI SELATAN – Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, keluarga besar lembaga pendidikan SPIDI Female Boarding School (Sekolah Putri Darul Istiqamah), DIBS (Darul Istiqamah Boarding School), dan SADIQ (Sekolah Alam Darul Istiqamah) telah berhasil menghimpun dan menyalurkan bantuan untuk warga terdampak bencana banjir di wilayah Sumatra Barat. Melalui gerakan sosial yang melibatkan orang tua siswa (Ayah Bunda) serta seluruh civitas akademika, total donasi yang terkumpul mencapai Rp34.630.000. Kolaborasi Strategis dalam Penyaluran Penyaluran bantuan ini dilakukan secara kolaboratif bersama tim Wafa Care Pesantren Diniyyah Putri Padang Panjang. Kerja sama ini memastikan bantuan tersampaikan secara tepat sasaran kepada warga yang paling membutuhkan di lokasi terdampak. Salah satu titik penyaluran bantuan dilakukan di SDN 03 Guguak Malalo Kec. Batipuah Selatan, di mana bantuan diserahkan langsung kepada pihak sekolah dan warga sekitar guna mendukung pemulihan pascabencana. Dalam pernyataan resminya, pihak manajemen SPIDI, DIBS, dan SADIQ menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh donatur: “Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ayah dan Bunda yang telah berkontribusi. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Sumatra Barat dan menjadi amal jariyah bagi kita semua.” Ujar Dr.Riza Sativani selaku Direktur Akademik SPIDI-SADIQ-DIBS. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga untuk menanamkan nilai-nilai empati dan kepedulian sosial sejak dini kepada para santri dan seluruh keluarga besar sekolah, membuktikan bahwa jarak bukan penghalang untuk saling mengulurkan tangan. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom
Perempuan dan Kepemimpinan dalam Diskursus Islam

Isu kepemimpinan perempuan merupakan salah satu tema yang paling sering hadir dalam diskursus sosial politik Islam. Perdebatan ini tidak hanya menyentuh wilayah fikih, tetapi juga realitas sosial, budaya, dan pemaknaan terhadap teks agama. Mayoritas ulama salaf memahami bahwa jabatan kepala negara memiliki konsekuensi fisik, mobilitas, dan tekanan yang sangat besar. Dengan mempertimbangkan tuntutan tersebut, mereka memandang posisi itu lebih tepat diemban oleh laki-laki sebagai qawwam. Pendapat ini merujuk pada hadis riwayat al Bukhari, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”, yang mereka pahami sebagai larangan perempuan memegang jabatan politik tertinggi dalam struktur negara. Namun, generasi ulama kontemporer membuka ruang pembacaan baru. Mereka meneliti konteks historis hadis tersebut, yang berhubungan dengan kekacauan politik di Persia setelah penobatan seorang perempuan sebagai ratu. Karena itu, mereka menilai bahwa hadis ini bersifat kontekstual, bukan hukum yang mutlak. Pemaknaan ini diperkuat dengan hadirnya kisah Ratu Bilqis dalam Al Qur’an, seorang pemimpin perempuan yang digambarkan cerdas, bijak, dan memiliki kemampuan manajerial yang tinggi. Ayat itu menunjukkan bahwa Al Qur’an tidak menutup kemungkinan kepemimpinan perempuan selama terpenuhi syarat kompetensi, maslahat, dan struktur sosial yang mendukung. Di balik perbedaan pandangan ini, satu hal tetap jelas: kontribusi perempuan dalam membangun umat tidak pernah terbatas pada jabatan formal negara. Dalam Islam, kepemimpinan tidak hanya bermakna posisi struktural, tetapi juga karakter, akhlak, pengaruh moral, dan kemampuan menggerakkan perubahan. Perempuan memiliki ruang luas untuk memimpin, membina, dan membentuk peradaban. Karakter kepemimpinan perempuan tampak dalam berbagai kontribusi berikut: 1. Menjadi Rahim Generasi Pemimpin Abu al Aswad ad Du’ali pernah berkata kepada anak-anaknya, “Aku telah berbakti kepada kalian sebelum kalian lahir.” Ketika mereka bertanya bagaimana mungkin, ia menjawab: “Aku memilihkan untuk kalian ibu yang shalihah.” Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak. Dari rahim, dekapan, doa, dan keteladanan seorang ibu, lahir generasi yang membawa masa depan umat. Kepemimpinan seorang ibu terlihat dari kemampuannya membentuk karakter, kecerdasan, dan akhlak seorang anak sejak dini. 2. Menjadi Istri Shalihah yang Menguatkan Kepemimpinan Suami Pernah mendengarkan ungkapan “di balik pria yang hebat, ada perempuan yang hebat”. Pepatah tersebut menunjukkan peran penting perempuan dalam keberhasilan suami menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Perempuan memiliki peran strategis dalam mengokohkan kepemimpinan suami. Ketenteraman, nasihat, dan keteguhan hati seorang istri sering menjadi pilar bagi keberhasilan seorang laki-laki. Nabi Muhammad mendapatkan keteguhan besar dari sosok Khadijah yang menguatkannya di masa awal dakwah. Banyak tokoh hebat dalam sejarah lahir dari kekuatan moral perempuan di balik mereka. 3. Mengelola Rumah sebagai Pusat Peradaban Mengurus rumah bukan pekerjaan kecil. Ia adalah bentuk kepemimpinan yang memengaruhi stabilitas keluarga dan masa depan anak. Rumah yang teratur, teduh, dan dipenuhi nilai adalah investasi jangka panjang peradaban. Dalam sejarah Islam, sosok seperti Ummu Sulaim r.a. menunjukkan bagaimana kecerdasan seorang ibu dalam mengelola rumah dapat melahirkan generasi pemimpin seperti Anas ibn Malik. 4. Menjadi Pendidik bagi Umat Sejarah Islam mencatat ribuan perempuan sebagai ulama dan guru. Aisyah r.a. adalah contoh paling kuat: lebih dari dua ribu hadis bersumber darinya, dan para sahabat besar berguru kepadanya. Perempuan adalah agen transmisi ilmu, nilai, dan akhlak. Tanpa peran mereka, mata rantai keilmuan Islam tidak akan utuh. 5. Menjadi Penggerak Sosial dan Kemanusiaan Dalam dunia sosial, perempuan hadir sebagai agen perubahan yang memperkuat keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Di masa klasik, Nusaybah binti Ka’ab dikenal sebagai perempuan pemberani yang melindungi Nabi di medan Uhud. Pada masa kini, banyak perempuan Muslim berkontribusi dalam kesehatan, advokasi, pendidikan, dan kemanusiaan, menggerakkan perubahan yang substantif dan berkelanjutan. Perdebatan mengenai kepemimpinan negara tidak menghalangi perempuan untuk tampil sebagai pemimpin dalam dimensi-dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam. Kepemimpinan perempuan adalah bagian integral dari pembangunan umat, selama didasari iman, amanah, kompetensi, dan komitmen pada nilai kebaikan. Islam memandang perempuan bukan sebagai objek pasif, tetapi sebagai subjek aktif peradaban. Dan dari tangan-tangan merekalah, sering kali masa depan umat lahir dan dibesarkan dengan hebat. Penulis: Mudzakkir Abidin, Lc
Rencana Bangun Lembaga Pendidikan di Gaza, Prof. Nasr Arif dari UAE Kunjungi SPIDI Female Boarding School

Makassar – Prof. Nasr Arif dari Uni Emirat Arab (UAE) mengunjungi Spidi Female Boarding School dalam rangka penjajakan rencana pembangunan lembaga pendidikan di Gaza, Palestina. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda strategis Educators Without Borders International (EWBI) dalam memperkuat pendidikan Islam di wilayah konflik. Prof. Nasr Arif yang merupakan Advisor EWBI hadir bersama Dr. Mouza, selaku Chairman EWBI. Keduanya melakukan benchmarking ke sejumlah lembaga pendidikan berasrama di Indonesia, baik untuk putra maupun putri. Spidi Female Boarding School menjadi salah satu rujukan dalam proses tersebut, termasuk sebagai referensi pengelolaan pendidikan dan kelembagaan. Dalam pertemuan tersebut, rombongan EWBI diterima langsung oleh Direktur Akademik Spidi Female Boarding School, Dr. Riza Sativani. Riza menyampaikan kesiapan lembaganya untuk memberikan dukungan terhadap rencana pembangunan lembaga pendidikan di Gaza. Ia juga memaparkan berbagai program unggulan yang dijalankan di Spidi Female Boarding School, mulai dari sistem pendidikan berasrama, pengembangan kurikulum, hingga program Tilawa yang menjadi bagian dari penguatan karakter, spiritualitas, dan kualitas bacaan Al-Qur’an para siswi. Selain membahas dukungan kelembagaan, pertemuan ini juga mendiskusikan peluang kerja sama program, kurikulum, dan manajemen pendidikan berasrama yang dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi sosial dan kemanusiaan di Gaza. Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi internasional dalam mendukung pendidikan Islam yang berkelanjutan. Penulis: Ismawan Amir MSc
Keren! 500 Prestasi di 2025, SPIDI Jadi Tempat Berkumpulnya Anak-Anak Juara

Makassar — Sepanjang tahun 2025, SPIDI mencatat 500 prestasi dari berbagai bidang. Capaian itu diraih dari kompetisi akademik, tahfidz, olahraga, seni, hingga ajang kepemimpinan dan keterampilan. Raihan tersebut mengukuhkan SPIDI sebagai sekolah yang dikenal melahirkan siswa-siswi bermental juara. Direktur Akademik SPIDI, Dr Riza Sativani, mengatakan prestasi bukan sekadar hasil akhir, melainkan buah dari pembinaan yang konsisten dan terukur. “Di SPIDI, prestasi itu bukan kebetulan. Ada pembinaan yang rapi, evaluasi rutin, dan pendampingan intensif. Target kami bukan hanya menang lomba, tapi membentuk kebiasaan juara: disiplin, fokus, dan berakhlak,” kata Dr Riza Sativani dalam keterangannya, Senin (22/12/2025). Menurut Riza, budaya sekolah yang mendorong siswa berani mencoba dan berkembang menjadi faktor kuat di balik lonjakan prestasi sepanjang 2025. Selain penguatan akademik, SPIDI juga menyiapkan jalur pembinaan sesuai minat dan potensi siswa. “Kami memetakan potensi anak sejak awal. Ada yang kuat di akademik, ada yang menonjol di tahfidz, ada yang cepat berkembang di olahraga atau seni. Tugas kami memastikan mereka dapat jalur pembinaan yang tepat,” ujarnya. Riza menyebut, salah satu penguat pembinaan di SPIDI adalah hadirnya lebih dari 30 kelas pembinaan minat dan bakat yang terbagi dalam dua jalur, yakni life skill class dan talent class. Kelas-kelas tersebut dirancang agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga punya keterampilan, karakter, dan kesiapan menghadapi tantangan nyata. “Anak-anak perlu ruang untuk menemukan dan mengasah potensinya. Karena itu kami sediakan lebih dari 30 kelas pembinaan minat bakat, mulai dari life skill class sampai talent class. Di sinilah anak dibimbing, dilatih, lalu dipertemukan dengan panggung kompetisi yang sesuai,” kata Dr Riza Sativani. Di tengah tingginya kebutuhan orang tua mencari sekolah dengan pembinaan yang jelas, Riza menyebut pihaknya juga membuka ruang konsultasi bagi orang tua yang ingin memahami program pendidikan dan pola pembinaan di SPIDI. “Kalau orang tua ingin anaknya tumbuh dalam ekosistem yang terarah—akademiknya kuat, tahfidznya dibina, karakternya dibentuk—silakan konsultasi. Kami terbuka menjelaskan program pembinaan dan jalur pengembangan anak di SPIDI,” ujar Riza. Ia menambahkan, lingkungan yang sehat turut menjadi faktor penting. Di SPIDI, siswa dibiasakan saling menguatkan, bukan saling menekan, sehingga anak lebih percaya diri dan konsisten dalam prosesnya. “Anak-anak juara itu bukan hanya yang bawa pulang piala, tapi juga yang konsisten, bertanggung jawab, dan punya adab. Prestasi adalah bonus dari proses panjang,” tambah Riza. Dengan capaian 500 prestasi sepanjang 2025, SPIDI menargetkan penguatan program pembinaan di tahun berikutnya, baik dari sisi kualitas pelatihan, peningkatan partisipasi kompetisi, maupun pengembangan karakter dan spiritual siswa. Penulis: Ismawan Amir, MSc
Mengapa Pendidikan Khusus Putri adalah Pilihan Cerdas di Era Modern

Kutipan Inspiratif dari Kartini: “Kami di sini memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sunnatullah sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” — RA Kartini, Celoteh RA Kartini: 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi oleh Ahmad Nurcholish (2018). Di tengah arus deras modernisasi yang sarat distraksi sosial, budaya pergaulan bebas, serta tanda-tanda dekadensi moral yang kian mengkhawatirkan dalam dunia pendidikan, tumbuh kegelisahan mendalam di hati para orang tua terhadap masa depan putri mereka. Kekhawatiran ini mendorong semakin banyak orang tua bersikap selektif dan reflektif dalam menentukan lingkungan pendidikan terbaik bagi buah hati tercinta. Pengalaman berinteraksi dengan banyak keluarga menunjukkan bahwa keresahan tersebut nyata dan meluas. Tidak sedikit orang tua mendambakan pemisahan gender yang sungguh-sungguh dalam lingkungan pendidikan, bukan sekadar pembatasan simbolik atau formalitas kebijakan. Dari kebutuhan inilah, pilihan pendidikan secara alami mengarah pada satu model yang telah teruji secara global: sekolah khusus putri. Sebagian kalangan mungkin memandang pendidikan khusus putri semata-mata unggul dalam aspek preventif terhadap distraksi sosial dan budaya pergaulan bebas. Padahal, di balik pemisahan gender tersebut, tersimpan keunggulan strategis yang jauh lebih mendalam dibandingkan sistem co-education yang menyatukan peserta didik putra dan putri dalam satu lingkungan belajar. Sebagai contoh SPIDI Female Boarding School. Sekolah ini memandang pemisahan gender bukan sebagai pembatas potensi, melainkan sebagai kerangka strategis pendidikan. Lingkungan terpisah diposisikan sebagai investasi jangka panjang bagi keberhasilan akademik, kematangan emosional, serta pembentukan karakter putri yang utuh dan kokoh. Cari tahu lebih lengkap tentang SPIDI FEMALE BOARDING SCHOOL! Berangkat dari kerangka tersebut, berikut alasan utama mengapa pemisahan gender menjadi keunggulan signifikan dalam pencapaian akademik sekaligus langkah preventif yang paling terukur bagi masa depan putri. Mari kita telaah dua alasan pertama yang krusial untuk fokus dan performa akademik: Kenyamanan Emosional Demi Fokus Mengejar Prestasi Fakta yang tak terbantahkan: di era digital, risiko sosial dan distraksi relasi antar gender hadir semakin dini, masif, dan sering kali tak disadari. Distraksi ini perlahan menggerus fokus belajar serta kestabilan emosi peserta didik. Sistem pendidikan terpisah gender menjadi langkah preventif yang paling tegas sekaligus minim risiko, karena bekerja pada akar persoalan, bukan sekadar mengelola dampaknya. Sejumlah studi, di antaranya yang dipublikasikan dalam Journal of Economic Behavior and Organization, menunjukkan bahwa pemisahan kelas berkontribusi signifikan dalam menurunkan gangguan perilaku, meningkatkan konsentrasi belajar, serta memperbaiki performa akademik, khususnya pada peserta didik dengan kemampuan akademik rendah hingga menengah yang paling rentan terdistraksi. Dengan ditiadakannya tekanan sosial dari lawan jenis, energi psikologis yang bisa saja terserap pada kecemasan penampilan, pencarian validasi sosial, atau dinamika relasi pergaulan dapat dialihkan secara utuh pada proses akademik, penguatan ibadah, dan pengembangan potensi diri. Lingkungan belajar menjadi lebih tenang, aman, dan berorientasi pada prestasi, memungkinkan peserta didik membangun disiplin, kepercayaan diri, serta ketahanan mental secara bertahap. Inilah ikhtiar pendidikan yang tidak hanya menjauhkan fitnah sejak dini, tetapi juga menjaga masa remaja tetap jernih, fokus, dan terarah pada pembentukan karakter serta masa depan yang lebih bermakna dan bertanggung jawab. Kebebasan Berekspresi dan Kepercayaan Diri: Menguat di Bidang STEM Sekolah khusus putri mendorong keberanian intelektual dan kepercayaan diri yang lebih tinggi di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika). Lingkungan terpisah gender secara efektif menghilangkan hambatan psikologis dan stereotip yang kerap menghambat partisipasi siswi dalam STEM di sekolah co-ed. Berbagai penelitian, termasuk dari American Psychological Association dan National Coalition of Girls’ Schools, menunjukkan bahwa siswi di sekolah khusus putri memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat dalam matematika dan sains. Tanpa tekanan sosial dari lawan jenis, siswi lebih berani mengambil risiko intelektual, bertanya kritis, bereksperimen, serta memimpin proyek teknis. Ketiadaan stereotip gender memungkinkan kurikulum dan budaya sekolah sepenuhnya memberdayakan perempuan dengan hadirnya figur pendidik dan pemimpin perempuan di bidang teknis. Data NCGS mencatat 93 persen siswi di sekolah khusus putri terdorong mengejar karier STEM, melampaui rata-rata nasional. Sekolah khusus putri pun berfungsi sebagai inkubator kepemimpinan dan identitas akademik, menanamkan keyakinan bahwa prestasi dan kepemimpinan teknis bukan ditentukan oleh gender, melainkan oleh kompetensi dan daya juang. Cari tahu lebih lengkap tentang SPIDI FEMALE BOARDING SCHOOL! Keunggulan ini semakin menguat ketika dipadukan dengan pendidikan agama dan program tahfidz yang terstruktur. Lingkungan yang tenang, tertib, dan bebas distraksi memungkinkan siswi membangun kedisiplinan berpikir, ketekunan, serta fokus mendalam, kualitas mental yang sama dibutuhkan baik dalam menghafal Al-Qur’an maupun menalar sains. Proses tahfidz melatih daya ingat, konsistensi, dan ketahanan mental, sementara pelajaran agama menanamkan makna, adab ilmu, dan orientasi ibadah dalam belajar. Dengan demikian, sekolah khusus putri tidak hanya melahirkan siswi yang unggul secara akademik dan teknis, tetapi juga pribadi yang memiliki identitas spiritual kuat, menjadikan kompetensi STEM selaras dengan nilai iman, akhlak, dan tanggung jawab peradaban. Kurikulum yang Spesifik Gender dan Optimalisasi Karakter Keunggulan pendidikan single-gender terletak pada kemampuannya untuk mengarahkan kurikulum agar dapat memberikan fokus pada potensi spesifik siswi, baik secara akademik, emosional, maupun spiritual. Dalam lingkungan homogen, kurikulum memiliki fleksibilitas untuk disesuaikan secara mendalam, memperkuat keunggulan alamiah perempuan dan mengisi celah pengembangan karakter yang sering terlewatkan dalam kurikulum umum (yang dirancang untuk kebutuhan dua gender). Fokus kurikulum yang terarah ini memungkinkan eksplorasi minat dan bakat siswi secara maksimal, memastikan bahwa program pendidikan dapat secara optimal melengkapi target kognitif dengan pembentukan karakter yang utuh dan komprehensif. Sebagai contoh, meskipun SPIDI tetap mengimplementasikan kurikulum nasional sebagai fondasi akademik, sekolah memperkaya dan menyelaraskan pendidikan dengan Kurikulum Mar’atush Shalihah sebagai kurikulum penguat dan spesialisasi gender yang vital. Kurikulum ini dirancang selaras dengan karakter psikologis dan fase perkembangan perempuan, dengan fokus mendalam pada pembentukan adab, pengelolaan emosi, empati, serta kesiapan menjalani peran kehidupan secara matang dan sadar nilai. Implementasi praktisnya diwujudkan melalui modul-modul krusial seperti kelas Skill Keputrian, sesi Female Class, dan program pembentukan Muslimah Personality. Pendekatan terpadu ini adalah investasi krusial untuk memastikan siswi memiliki bekal ilmu yang mendalam sekaligus identitas spiritual yang kokoh, menjadikannya seorang Mar’atush Shalihah (perempuan salehah) yang siap menghadapi tantangan zaman dengan martabat dan tanggung jawab. Kepemimpinan Perempuan yang Tumbuh Secara Alami Salah satu keunggulan terbesar dari pendidikan khusus putri adalah penciptaan
Warisan Terbaik Bukanlah Harta, Melainkan Adab: Sebuah Renungan Orang Tua

Sering kali kita bekerja banting tulang, pergi pagi pulang petang, demi satu tujuan: “Agar masa depan anak terjamin.” Kita ingin meninggalkan rumah, tanah, atau tabungan agar mereka tidak susah sepeninggal kita nanti. Itu niat yang mulia. Namun, Ayah dan Bunda, sadarkah kita? Harta bisa habis dalam sekejap. Harta bisa menjadi sumber pertengkaran. Dan yang paling menakutkan, harta tidak bisa menjamin keselamatan jiwa mereka. Islam mengajarkan kita cara pandang yang berbeda tentang “warisan”. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ “Tidak ada hadiah yang diberikan seorang ayah kepada anaknya yang lebih baik daripada akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi) Didiklah anak dengan iman sebelum kenyamanan dunia. Tanamkan cinta Allah sebelum cinta harta. Inilah investasi abadi yang tidak akan hangus. Ingatlah janji Rasulullah ﷺ tentang amal jariyah. Salah satunya adalah doa anak saleh. Jika kita gagal mendidik mereka menjadi saleh, siapa yang akan mendoakan kita saat kita sudah tiada? Nabi ﷺ bersabda: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ. “Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalannya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim) Ayah dan Bunda, kami memahami bahwa memastikan putri tercinta tumbuh dengan adab dan akhlak mulia adalah prioritas utama. Namun, kesibukan dan pengaruh lingkungan luar seringkali menjadi tantangan terberat. Mengapa Adab Lebih Penting dari Harta? Satu-satunya “Kiriman” yang Sampai ke Alam Kubur Ingatlah janji Rasulullah ﷺ. Saat nafas terakhir kita berhembus, semua koneksi kita dengan dunia terputus. Rekening bank tertutup, jabatan hilang. Hanya ada tiga jalur yang masih “online” mengirimkan pahala: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ “Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim) Renungkanlah: Jika kita sukses mendidik anak menjadi kaya raya tapi lalai agama, siapa yang akan mendoakan kita? Mungkinkah anak yang tidak mengenal Allah akan ingat untuk memohonkan ampunan bagi orang tuanya? Hanya anak yang saleh yang paham adab kepada Allah dan orang tua yang akan menengadahkan tangan di tengah malam, menangis memohon: “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” SPIDI Female Boarding School siap menjadi mitra Ayah Bunda. Dengan kurikulum yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual dan pembinaan karakter Islami yang intensif, kami membantu menjaga dan memupuk “warisan” terpenting Anda. Daftarkan Ananda di SPIDI Doa Agar Diberi Keturunan yang Baik Sempurnakan ikhtiar mendidik adab dengan doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Zakariya AS dalam Al-Quran, memohon penerus yang baik: رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38) Ayah dan Bunda, warisan harta itu penting, tapi warisan adab itu genting. Jangan sampai kita sibuk menyiapkan tabungan rupiah, tapi lupa menyiapkan “tabungan doa” dari lisan anak-anak kita. Maka mari mulai dari hari ini, kita bertekad: “Aku akan mewariskan kesalehan sebelum kemewahan.” Tentu, mendidik adab di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks bukanlah tugas yang ringan. Dibutuhkan lingkungan yang mendukung, keteladanan yang nyata, dan sistem pendidikan yang berpusat pada akhlak. SPIDI Female Boarding School hadir membersamai Ayah dan Bunda untuk mewujudkan ikhtiar mulia ini. Kami percaya bahwa sinergi antara doa orang tua dan lingkungan pendidikan yang tepat adalah kunci melahirkan generasi salehah yang cerdas dan beradab. Penulis: Ust. Mudzakkir Abidin, Lc.
Mencetak Tunas Unggul dan Melek Digital dari Pondok Putri

SALSA sebentar lagi lulus sekolah dasar. Naila, kakaknya, mengajak dia untuk ikut mondok di SPIDI Female Boarding School (Sekolah Putri Darul Istiqamah), Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Namun, Salsa ogah. Sebab dia tahu, di boarding school itu santri tidak boleh membawa ponsel. “Tidak mau, nanti saya gaptek,” protes Salsa. Namun semua berubah ketika Naila memperlihatkan profil sekolahnya yang tayang di Youtube. Santri Spidi memang tak membawa ponsel dari rumah. Namun, pihak pondok menyediakan ratusan tablet dan laptop yang bisa diakses setiap saat. Asyiknya, belajar tak selalu di ruang kelas yang terbatas dinding tembok. Spidi memiliki rumah-rumah kayu yang dijadikan kelas. Santri pun bisa belajar seolah berada di gazebo pinggir pantai. Apalagi, sekeliling pondok penuh dengan pepohonan rindang. Bunga-bunga bermekaran di halaman. Naila memperlihatkan justru para santri Spidi bisa menjadi lebih unggul dalam dunia digital. Sebab, proses pembelajarannya pun nyaris semua dengan teknologi. Semua bisa memegang perangkat. Hanya saja, kontennya terbatas soal pendidikan dan wawasan yang disesuaikan dengan usia anak-anak. Akhirnya, Salsa pun setuju mondok bersama kakaknya. Sebab tinggal di pesantren modern itu ternyata tak membuat anak-anak dijauhkan dari teknologi. Sebaliknya, didekatkan dengan kemajuan namun dengan kontrol yang lebih terarah. Naila memang tidak sedang berbohong kepada adiknya agar mau mondok. Sebab, nyatanya Spidi memang sudah diakui sebagai sekolah dengan literasi digital yang baik. Sejak 2022, Spidi dinobatkan sebagai Google Reference School atau Sekolah Referensi Google. Predikat ini diserahkan oleh pimpinan Google untuk Asia Pasifik. Spidi menjadi sekolah pertama di kawasan timur Indonesia dan ketiga di Indonesia yang dinobatkan sebagai Google Reference School. “Pertama kali di timur Indonesia dan pertama di luar Jawa,” ucap Muzayyin Arif, Ketua Dewan Pembina Spidi. Muzayyin menegaskan, sekolahnya tak hanya konsisten mencetak generasi berakhlak dan salehah, namun juga melek digital. Terbaru, Amanda Aisyah Zasqia Arifin, siswi kelas XII SPIDI Female Boarding School (Sekolah Putri Darul Istiqamah) Maros, tampil percaya diri saat membawakan presentasi bertema “Aplikasi Manajemen Tugas Siswa dengan Gemini”. Di hadapan puluhan siswa dan guru dari berbagai sekolah di Indonesia, Amanda, anggota Siswa Google Mania (SIGMA) dengan lugas menjelaskan cara kerja Gemini, keunggulan AI generatif besutan Google, serta potensinya dalam menunjang proses pembelajaran. Dalam presentasi berdurasi sekitar satu jam, Amanda juga memaparkan bagaimana Gemini membantu membuat aplikasi tanpa perlu coding. “Tanpa mendalami coding, siapa pun bisa membuat aplikasi menggunakan Gemini. Ini langkah revolusioner yang membuka peluang besar bagi banyak orang,” ujar Amanda. Ia juga menambahkan bahwa Gemini sangat membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah. “Saya sering menggunakan Gemini karena jawabannya lebih akurat dan terstruktur,” tuturnya. Sekretaris Direktur Spidi, Irmayanti menyatakan kebanggaannya. “Alhamdulillah, Amanda sukses. Kami pilih dia karena minat IT-nya kuat dan pernah membuat proyek digital sebelumnya,” ujarnya. Penampilan Amanda turut menuai pujian dari Leader Google Educator Group Pasuruan, Liza Timmy Zulva. “Spidi dan siswanya patut tampil di APAC (Asian Pasifik). Amanda keren, tetap tenang dan bisa improvisasi saat jaringan lemot,” tulis Liza. Amanda membuktikan, santri pun mampu bersaing di dunia digital global.
Hati-Hati, Anak Bisa Menuntut Orang Tua di Akhirat! Ini Cara Mencegahnya

Mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Mari kita renungkan peran besar kita sebagai pemimpin keluarga. Sering kali, kita merasa tugas kita selesai saat berhasil membelikan ponsel terbaru, baju branded, atau mengajak anak liburan mewah. Itu semua adalah bentuk cinta yang wajar. Namun, sadarkah Ayah dan Bunda? Di Hari Perhitungan kelak, ukuran sukses bukan lagi soal kemewahan. Anak-anak tidak akan menuntut karena ponselnya murah atau tidak pernah ke luar negeri. Justru, mereka akan menuntut hal yang jauh lebih besar: Keselamatan Abadi Mereka. Tanggung Jawab Besar di Pundak Orang Tua Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dengan tegas bahwa setiap ayah dan ibu adalah pemimpin yang akan ditanya tentang kepemimpinannya. “كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ.” “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”(HR Bukhari dan Muslim) Ayah Bunda, jangan sampai di hari itu, anak-anak kita datang bukan untuk memeluk kita, melainkan untuk menggugat kita di hadapan Allah ﷻ. 3 Hal yang Mungkin Diucapkan Anak di Akhirat Bayangkan betapa hancurnya hati kita jika buah hati yang kita sayangi berkata: Allah ﷻ berfirman: “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا…” “Hai orang orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS At Tahrim ayat 6) 3. “Mengapa aku dibiarkan bergaul bebas dan menonton tontonan merusak?” Mereka menggugat karena kita memberi fasilitas (gadget/internet) tanpa membekali mereka dengan filter iman dan akhlak. Lantas, Bagaimana Cara Mencegah Tuntutan Tersebut? Ayah dan Bunda, belum terlambat untuk berbenah. Mencegah tuntutan anak di akhirat bukan berarti kita harus menjadi orang tua yang sempurna tanpa celah, melainkan orang tua yang terus berusaha (berikhtiar) menanamkan nilai agama di atas segalanya. Berikut adalah langkah konkret yang harus kita mulai hari ini: 1. Tanamkan Tauhid Sebelum Adab dan Ilmu Jangan biarkan anak mengenal gadget lebih dulu daripada mengenal Allah. Sering-seringlah menyebut nama Allah dalam percakapan sehari-hari. Tujuannya agar di hati anak tertanam bahwa Allah adalah pusat kehidupannya, sehingga kelak ia beribadah bukan karena paksaan, tapi karena butuh kepada Rabb-nya. 2. Jadikan Shalat sebagai “Harga Mati” Jangan merasa “kasihan” membangunkan anak untuk Shalat Subuh. Justru, rasa kasihan yang sejati adalah ketika kita tidak tega membiarkan kulit halus mereka tersentuh api neraka. Jadikan shalat berjamaah sebagai budaya rumah tangga yang tidak boleh ditawar. 3. Menjadi “Filter” di Tengah Gempuran Zaman Jadilah teman diskusi mereka. Jangan hanya melarang, tapi jelaskan mengapa sesuatu itu buruk menurut agama. Bangun self-censorship (penyaring mandiri) di dalam hati anak, sehingga mereka bisa menjaga diri dari maksiat bahkan saat kita tidak ada di samping mereka. 4. Kuatkan dengan Doa dari Al-Quran Sehebat apa pun didikan kita, hati anak ada dalam genggaman Allah. Jangan pernah lelah mengetuk pintu langit. Berikut adalah doa-doa dari Al-Quran yang wajib Ayah Bunda amalkan agar anak menjadi penyejuk hati dan ahli ibadah: Doa Agar Anak Rajin Shalat (Doa Nabi Ibrahim AS) Sangat cocok dibaca agar kita dan anak keturunan dijauhkan dari lalai shalat. رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ Rabbij’alni muqimas-salati wa min zurriyyati, rabbana wa taqabbal du’a “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40) Doa Meminta Keturunan yang Menyejukkan Hati Doa ini memohon agar keluarga kita menjadi pemimpin bagi orang yang bertakwa, bukan pengikut kemaksiatan. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun, wajalna lil muttaqina imama. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74) Ayah dan Bunda, lelahnya mendidik anak untuk taat hari ini adalah tabungan istirahat kita di alam kubur nanti. Jangan sampai fasilitas yang kita berikan menjadi bahan bakar yang membakar kita di akhirat. Mari rapatkan barisan, luruskan niat, dan basahi lisan dengan doa. Semoga Allah memudahkan kita membimbing amanah ini hingga berkumpul kembali di Jannah-Nya. Aamiin. Ayah dan Bunda, jangan biarkan kekhawatiran tentang masa depan dan akhirat putri tercinta menghantui kita. Berikan lingkungan terbaik di mana Iman, Adab, dan Ilmu tumbuh beriringan. SPIDI Female Boarding School hadir untuk menjadi mitra Ayah Bunda dalam mencetak generasi muslimah yang tidak hanya berprestasi di dunia, tapi juga menjadi penyelamat orang tua di akhirat kelak. Daftarkan Ananda di SPIDI FEMALE BOARDING SCHOOL Sekarang! Penulis: Ust. Mudzakkir Abidin, Lc.
Martabat Wanita dalam Islam: Hak-Hak Perempuan dan Peran Muslimah yang Memuliakan Peradaban

1. Cahaya Islam Mengangkat Martabat Wanita Islam hadir membawa cahaya pembebasan, risalah fundamental yang secara revolusioner mengangkat martabat wanita dari kegelapan jahiliah. Rasulullah ﷺ menegaskan dengan kalimat yang ringkas namun mendalam: «إِنَّمَا النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ» Artinya: Perempuan adalah saudara sekandung (bagian yang tak terpisahkan) dari laki-laki. (HR. Abu Dawud) Pernyataan kenabian ini menghapus sekat budaya lama dan menetapkan bahwa keduanya setara dalam kemanusiaan dan kesempatan di hadapan Allah. 2. Mengenang Kegelapan Jahiliah: Ketika Perempuan Jadi Beban Sebelum datangnya Islam, kehidupan perempuan berada di titik terendah. Mereka dipandang sebagai beban sosial dan ekonomi. Kehadiran anak perempuan seringkali dianggap aib, bahkan tragedi. Allah menggambarkan pedihnya keadaan itu: ﴿ وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ ﴾ Artinya: Bila seseorang dari mereka diberi kabar kelahiran anak perempuan, hitamlah wajahnya dan ia menahan amarah. (QS. An Nahl: 58) Tragedi terbesar yang pernah terjadi adalah praktik mengubur bayi perempuan hidup-hidup (al-Mau’udah) yang merajalela. Islam datang mengutuk tindakan biadab ini, memberikan peringatan keras di hari perhitungan: {وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ. بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ}$$ Artinya: Ketika bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya karena dosa apa ia dibunuh. (QS. At Takwir: 8–9) Dengan ayat-ayat ini, Islam menutup lembaran kelam dan memulai babak baru yang penuh kehormatan dan keadilan. 3. Pilar Peradaban: Standar Kemuliaan Perempuan Muslimah dan Kedudukan Ibu ﴿ مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ﴾ Artinya: Siapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, Kami akan memberinya kehidupan yang baik. (QS. An Nahl: 97). Perempuan muslimah dimuliakan dengan posisi strategis sebagai: Penghormatan terhadap ibu ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ, Ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan bakti terbaik, beliau menjawab tiga kali: Ibumu, Ibumu, dan Ibumu kemudian ayahmu. Ini menunjukkan besarnya hak dan peran ibu yang harus dihormati. 4. Hak-Hak Perempuan dalam Islam Syariat Islam menjamin berbagai hak dasar yang menjadi fondasi kemandirian dan martabat perempuan, suatu konsep yang diajarkan secara mendalam di Sekolah Islam modern dan pesantren. Rasulullah ﷺ bersabda: «طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ». Artinya: Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan). Melalui ilmu, perempuan menjadi madrasah pertama bagi anaknya, cahaya bagi keluarganya, dan teladan bagi masyarakatnya. Perempuan berhak penuh atas harta pribadinya (warisan, penghasilan, mahar) tanpa campur tangan suami. ﴿ وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً ﴾ Artinya: Berikanlah mahar kepada para perempuan sebagai pemberian yang tulus. (QS. An Nisa: 4). Pernikahan harus berdasarkan persetujuan perempuan (ridha). Rasulullah ﷺ menolak pernikahan paksa. Beliau bersabda: «لَا تُنْكَحُ الثَّيِّبُ حَتَّى تُسْتَأْمَرَ». Artinya: Janda tidak boleh dinikahkan sampai dimintai pendapatnya. Ridha perempuan adalah syarat sah yang dihormati mutlak oleh syariat. 5. Teladan Peran Muslimah: Sumbangsih Wanita dalam Sejarah Islam (Khadijah, Aisyah, Nusaibah) Sejarah Islam adalah bukti nyata bahwa perempuan selalu menjadi kontributor utama: Ini menunjukkan bahwa peran perempuan Muslimah mencakup semua aspek kehidupan: pendidikan, pemikiran, ekonomi, dan perjuangan. 6. Peran Wanita sebagai Muslimah Masa Kini dalam Pendidik dan Pemimpin Tantangan zaman mungkin berubah, tetapi prinsip Islam tetap kokoh. Santriwati dan muslimah hari ini memikul peran sentral sebagai: Generasi muda yang dididik di pesantren dan sekolah Islam terbaik adalah para pemimpin masa depan yang memanggul amanah ilmu, akhlak, dan keshalihan untuk membangun keluarga dan lingkungan yang berlandaskan nilai-nilai ilahi. 7. Bangga Menjadi Bagian dari Agama yang Memuliakan Islam datang bukan sekadar memberi teori, tetapi membangun sistem yang menjamin hak, martabat, dan kehormatan perempuan secara utuh. Setiap muslimah memiliki potensi besar untuk menjadi cahaya dalam rumahnya, sumber manfaat bagi lingkungannya, dan penopang peradaban. Semoga Allah menjadikan setiap perempuan muslimah sebagai sumber kebaikan dan penjaga nilai yang suci. Semoga hati kita senantiasa bangga menjadi bagian dari agama yang memuliakan perempuan sejak awal wahyu diturunkan. Penulis: Ust. Mudzakkir Abidin, Lc.