Mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Mari kita renungkan peran besar kita sebagai pemimpin keluarga.
Sering kali, kita merasa tugas kita selesai saat berhasil membelikan ponsel terbaru, baju branded, atau mengajak anak liburan mewah. Itu semua adalah bentuk cinta yang wajar. Namun, sadarkah Ayah dan Bunda? Di Hari Perhitungan kelak, ukuran sukses bukan lagi soal kemewahan.
Anak-anak tidak akan menuntut karena ponselnya murah atau tidak pernah ke luar negeri. Justru, mereka akan menuntut hal yang jauh lebih besar: Keselamatan Abadi Mereka.
Tanggung Jawab Besar di Pundak Orang Tua
Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dengan tegas bahwa setiap ayah dan ibu adalah pemimpin yang akan ditanya tentang kepemimpinannya.
“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ.”
“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.”(HR Bukhari dan Muslim)
Ayah Bunda, jangan sampai di hari itu, anak-anak kita datang bukan untuk memeluk kita, melainkan untuk menggugat kita di hadapan Allah ﷻ.
3 Hal yang Mungkin Diucapkan Anak di Akhirat
Bayangkan betapa hancurnya hati kita jika buah hati yang kita sayangi berkata:
- “Mengapa Ayah dan Bunda tidak mengenalkanku pada Allah?” Mereka menuntut karena kita lalai mengajarkan tauhid, cinta kepada Allah, dan tata cara ibadah sejak dini.
- “Mengapa aku dibiarkan lalai shalat Subuh?” Mereka bertanya kenapa kita tidak tegas membangunkan mereka untuk bersujud, namun membiarkan mereka tenggelam dalam kemalasan.
Allah ﷻ berfirman:
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا…”
“Hai orang orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”
(QS At Tahrim ayat 6)
3. “Mengapa aku dibiarkan bergaul bebas dan menonton tontonan merusak?” Mereka menggugat karena kita memberi fasilitas (gadget/internet) tanpa membekali mereka dengan filter iman dan akhlak.
Lantas, Bagaimana Cara Mencegah Tuntutan Tersebut?
Ayah dan Bunda, belum terlambat untuk berbenah. Mencegah tuntutan anak di akhirat bukan berarti kita harus menjadi orang tua yang sempurna tanpa celah, melainkan orang tua yang terus berusaha (berikhtiar) menanamkan nilai agama di atas segalanya.
Berikut adalah langkah konkret yang harus kita mulai hari ini:
1. Tanamkan Tauhid Sebelum Adab dan Ilmu
Jangan biarkan anak mengenal gadget lebih dulu daripada mengenal Allah. Sering-seringlah menyebut nama Allah dalam percakapan sehari-hari. Tujuannya agar di hati anak tertanam bahwa Allah adalah pusat kehidupannya, sehingga kelak ia beribadah bukan karena paksaan, tapi karena butuh kepada Rabb-nya.
2. Jadikan Shalat sebagai “Harga Mati”
Jangan merasa “kasihan” membangunkan anak untuk Shalat Subuh. Justru, rasa kasihan yang sejati adalah ketika kita tidak tega membiarkan kulit halus mereka tersentuh api neraka. Jadikan shalat berjamaah sebagai budaya rumah tangga yang tidak boleh ditawar.
3. Menjadi “Filter” di Tengah Gempuran Zaman
Jadilah teman diskusi mereka. Jangan hanya melarang, tapi jelaskan mengapa sesuatu itu buruk menurut agama. Bangun self-censorship (penyaring mandiri) di dalam hati anak, sehingga mereka bisa menjaga diri dari maksiat bahkan saat kita tidak ada di samping mereka.
4. Kuatkan dengan Doa dari Al-Quran
Sehebat apa pun didikan kita, hati anak ada dalam genggaman Allah. Jangan pernah lelah mengetuk pintu langit.
Berikut adalah doa-doa dari Al-Quran yang wajib Ayah Bunda amalkan agar anak menjadi penyejuk hati dan ahli ibadah:
Doa Agar Anak Rajin Shalat (Doa Nabi Ibrahim AS) Sangat cocok dibaca agar kita dan anak keturunan dijauhkan dari lalai shalat.
رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
Rabbij’alni muqimas-salati wa min zurriyyati, rabbana wa taqabbal du’a
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40)
Doa Meminta Keturunan yang Menyejukkan Hati Doa ini memohon agar keluarga kita menjadi pemimpin bagi orang yang bertakwa, bukan pengikut kemaksiatan.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun, wajalna lil muttaqina imama.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami, istri-istri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Ayah dan Bunda, lelahnya mendidik anak untuk taat hari ini adalah tabungan istirahat kita di alam kubur nanti.
Jangan sampai fasilitas yang kita berikan menjadi bahan bakar yang membakar kita di akhirat. Mari rapatkan barisan, luruskan niat, dan basahi lisan dengan doa. Semoga Allah memudahkan kita membimbing amanah ini hingga berkumpul kembali di Jannah-Nya. Aamiin.
Ayah dan Bunda, jangan biarkan kekhawatiran tentang masa depan dan akhirat putri tercinta menghantui kita. Berikan lingkungan terbaik di mana Iman, Adab, dan Ilmu tumbuh beriringan.
SPIDI Female Boarding School hadir untuk menjadi mitra Ayah Bunda dalam mencetak generasi muslimah yang tidak hanya berprestasi di dunia, tapi juga menjadi penyelamat orang tua di akhirat kelak.
Daftarkan Ananda di SPIDI FEMALE BOARDING SCHOOL Sekarang!
Penulis: Ust. Mudzakkir Abidin, Lc.

