Tingkatkan Kepedulian Kesehatan Siswi, SPIDI Berkolaborasi dengan Orca+ Dental Care Gelar Seminar Edukasi Kesehatan Gigi

Maros, 23 April 2026 Sebagai bentuk komitmen dalam menjaga kesejahteraan dan kesehatan para siswinya, Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI) resmi menjalin kolaborasi strategis dengan Orca+ Dental Care. Kerja sama ini diawali dengan penyelenggaraan Seminar Edukasi Kesehatan Gigi yang berlangsung khidmat di lingkungan sekolah pada Kamis, 23 April 2026. Kolaborasi ini mengusung misi besar untuk mengintegrasikan nilai-nilai kesehatan ke dalam ekosistem pendidikan. Terdapat tiga pilar utama yang menjadi tujuan dari kerjasama antara SPIDI dan Orca+ Dental Care ini: 2. Kemudahan Akses Perawatan yang Aman dan Nyaman: Kolaborasi ini membuka jalan bagi seluruh keluarga besar SPIDI untuk mendapatkan akses layanan kesehatan gigi yang berkualitas, aman, dan nyaman, sehingga perawatan gigi tidak lagi menjadi hal yang menakutkan bagi siswi. 3. Sinergi Institusi Pendidikan dan Fasilitas Kesehatan: Langkah ini merupakan perwujudan nyata sinergi antara dunia pendidikan dan sektor kesehatan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang suportif terhadap tumbuh kembang fisik siswi secara optimal. “Kami di SPIDI selalu mengutamakan kesehatan siswi sebagai pondasi utama mereka dalam menuntut ilmu. Melalui kolaborasi dengan Orca+ Dental Care ini, kami ingin memastikan bahwa setiap siswi mendapatkan edukasi yang tepat langsung dari pakarnya. Kami percaya sinergi antara sekolah dan fasilitas kesehatan adalah kunci untuk melahirkan generasi yang kuat dan sehat,” Ujar Bu Risnawati S.Kep, selaku Koordinator UKS SPIDI. Pihak Orca+ Dental Care menyambut baik inisiatif ini dengan menghadirkan tenaga medis profesional yang memberikan materi edukasi secara interaktif, sehingga para siswi dapat memahami pentingnya investasi kesehatan gigi. Dengan terlaksananya seminar edukasi ini, SPIDI dan Orca+ Dental Care berharap dapat terus memperkuat kemitraan ini di masa depan melalui berbagai program kesehatan lainnya yang bermanfaat bagi para siswi dan seluruh warga sekolah. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom

Wujudkan Standar Global, SPIDI Jadi Role Model Implementasi Cambridge English Assessment bagi Al-Fityan School

Kunjungan Alfityan

MAROS – SPIDI Female Boarding School kembali mengukuhkan posisinya sebagai pionir pendidikan berstandar internasional di Sulawesi Selatan. Pada hari Rabu (15/4), SPIDI menerima kunjungan studi dari delegasi Al-Fityan School yang hadir khusus untuk mempelajari keberhasilan SPIDI dalam mengimplementasikan Cambridge English Assessment. Sebagai sekolah yang telah lama mengintegrasikan kurikulum Cambridge, SPIDI dinilai sukses menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lain dalam mencetak lulusan dengan kompetensi bahasa Inggris yang diakui dunia. Kunjungan ini menjadi ajang bagi Al-Fityan untuk melihat langsung bagaimana SPIDI mengelola ekosistem pembelajaran bahasa yang komprehensif. Poin Utama Kunjungan: “Kami merasa bersyukur dapat berbagi pengalaman dengan Al-Fityan. Bagi SPIDI, kolaborasi ini adalah bagian dari misi kami untuk terus menebar manfaat dan menjadi rujukan dalam transformasi pendidikan Islam yang modern dan berdaya saing global,” ujar Dr. Riza Sativani Hayati M.Pd. selaku Direktur Akademik SPIDI. berdaya saing global,” ujar perwakilan Manajemen SPIDI.Pihak Al-Fityan mengakui bahwa langkah-langkah strategis yang telah dilakukan SPIDI menjadi acuan penting bagi mereka. Keberhasilan SPIDI dalam menjembatani pendidikan berbasis karakter dengan kualifikasi internasional menjadikan sekolah ini sebagai role model yang relevan bagi sekolah-sekolah Islam lainnya. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom

Panduan Lengkap Zakat Fitrah: Makna, Hukum, dan Tata Cara Pelaksanaannya

Zakat Fitrah bukan sekadar ritual rutin menjelang Idul Fitri. Ia adalah simbol solidaritas umat Islam sekaligus pembersih jiwa bagi mereka yang telah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Disyariatkan pada tahun kedua Hijriah, tahun yang sama dengan diwajibkannya puasa Ramadhan. Zakat Fitrah memiliki kedudukan penting dalam struktur ibadah kita. 1. Landasan Syariat (Dalil) Kewajiban Zakat Fitrah bersumber langsung dari perintah Rasulullah ﷺ. Beberapa hadis kunci yang mendasarinya antara lain: Kewajiban Zakat Fitrah bersumber langsung dari perintah Rasulullah ﷺ. Beberapa hadis kunci yang mendasarinya antara lain: Hadis Abu Sa‘id Al Khudri رضي الله عنه: “Kami dahulu mengeluarkan zakat fitrah ketika Rasulullah ﷺ berada di tengah kami sebanyak satu sha‘ makanan.” (HR. Muslim). Hadis Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما: “Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah… atas hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, kecil, maupun besar dari kaum muslimin.” (Muttafaq ‘alaih). Para ulama, termasuk Ibnu Al Mundzir dan Ishaq, menyatakan bahwa kewajiban ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan bulat) di kalangan ahli ilmu. 2. Hikmah di Balik Pensyariatan Mengapa kita diwajibkan membayar Zakat Fitrah? Ada dua dimensi utama: Pertama: Diimensi Spiritual (Penyuci): Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa zakat ini berfungsi sebagai tuhrah (penyuci) bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia (laghu) dan kata-kata kotor (rafats). Ibarat sujud sahwi dalam shalat, ia menambal kekurangan pahala puasa kita. Dimensi Sosial: (Kepedulian): Sebagai thu’mah (makanan) bagi fakir miskin. Tujuannya agar pada hari kemenangan, tidak ada lagi saudara kita yang kelaparan atau meminta-minta. 3. Syarat Wajib Zakat Fitrah Seseorang dikatakan wajib menunaikan Zakat Fitrah apabila memenuhi kriteria berikut:  * Beragama Islam: Tidak diterima infak dari orang yang kafir (QS. At-Taubah: 54).  * Mampu (Memiliki Kelebihan): Memiliki kelebihan makanan untuk diri dan tanggungannya pada malam dan hari raya. Waktu Kepemilikan: Setiap jiwa yang hidup saat matahari terbenam pada malam Idul Fitri wajib dizakati. Seorang ayah wajib menanggung zakat anak kecilnya yang belum berharta. Namun, pendapat yang paling kuat menyatakan setiap Muslim yang mampu secara finansial bertanggung jawab atas zakat dirinya sendiri. Hutang juga tidak menggugurkan kewajiban zakat ini. 4. Ketentuan Jenis dan Kadar Zakat Fitrah dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok daerah setempat.  Di masa Nabi ﷺ, yang digunakan adalah kurma, gandum, kismis, atau keju kering (aqit). Di Indonesia, maka yang utama adalah beras. Kadarnya webanyak 1 Sha‘. Jika dikonversi ke satuan berat modern, nilainya berkisar antara 2,5 kg hingga 3 kg (tergantung massa jenis bahan makanannya). Sebagian ulama (seperti Mazhab Hanafi) membolehkan konversi ke nilai uang jika itu lebih maslahat bagi fakir miskin. 5. Manajemen Waktu Pengeluaran Dalam syariat, waktu penunaian zakat fitrah terbagi menjadi beberapa fase yang perlu diperhatikan agar ibadah ini sah dan bernilai pahala zakat: Waktu Utama (Afdal): Dilakukan pada pagi hari raya Idul Fitri, tepatnya setelah terbit fajar (waktu Subuh) namun sebelum orang-orang keluar melaksanakan shalat Id. Waktu yang Diperbolehkan: Diizinkan untuk menyegerakan pengeluaran zakat satu atau dua hari sebelum hari raya Idul Fitri. Hal ini berdasarkan praktik para sahabat Nabi ﷺ untuk memudahkan pendistribusian. Waktu Terlarang: Sengaja menunda pembayaran hingga shalat Id selesai tanpa adanya uzur syar’i. Jika dilakukan, statusnya berubah menjadi sedekah biasa dan pelakunya berdosa karena melalaikan kewajiban pada waktunya. 6. Sasaran Distribusi (Mustahik) Berdasarkan pendapat yang paling kuat (rajih), Zakat Fitrah dikhususkan untuk fakir dan miskin saja agar mereka merasa berkecukupan di hari raya. Diutamakan memberikannya kepada kerabat yang fakir selama mereka bukan orang yang wajib kita nafkahi secara rutin. Zakat Fitrah adalah jembatan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Dengan menunaikannya sesuai tuntunan, kita tidak hanya membersihkan diri dari noda-noda selama Ramadhan, tetapi juga memastikan kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Penulis: Muzakkir Abidin, L.c

Lailatul Qadar: Malam yang Mengubah Takdir dan Mengangkat Derajat

Intisari dari Tulisan Syaikh Ali Muhammad Ash-Shalaaby Ada malam yang nilainya melebihi umur panjang manusia. Ada malam yang dalam satu detiknya, surga terasa begitu dekat. Itulah Lailatul Qadar. Allah berfirman: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.” لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ “Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” Seribu bulan setara lebih dari delapan puluh tiga tahun. Satu malam yang nilainya melampaui rata rata usia manusia. Mengapa Disebut Lailatul Qadar? Para ulama menjelaskan beberapa makna kata qadar. Pertama, karena pada malam itu Allah menetapkan takdir tahunan. Rezeki, ajal, peristiwa, kemuliaan dan kehinaan ditetapkan untuk satu tahun ke depan. Allah berfirman: فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” Kedua, karena malam itu memiliki kedudukan yang sangat agung. Malam bernilai tinggi di sisi Allah. Ketiga, karena siapa yang sebelumnya tidak memiliki kedudukan, bisa menjadi mulia dengan memuliakan malam itu. Peristiwa Terbesar di Malam Itu Pada malam itulah Al Quran diturunkan. Dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia, kemudian secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama dua puluh tiga tahun. Inilah kemuliaan terbesar malam itu. Ia menjadi awal cahaya bagi peradaban manusia. Keutamaannya yang Menggetarkan Lailatul Qadar memiliki keutamaan luar biasa: Ibadah di dalamnya lebih baik dari seribu bulan. Malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan. Malam penuh keselamatan hingga terbit fajar. Siapa yang menghidupkannya dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa dosanya yang telah lalu. Nabi ﷺ bersabda: من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه “Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa dosanya yang telah lalu.” Bayangkan. Dosa masa lalu bisa runtuh hanya dalam satu malam kesungguhan. Kapan Lailatul Qadar Terjadi? Para ulama berbeda pendapat hingga lebih dari empat puluh pandangan. Namun mayoritas menegaskan ia berada di sepuluh malam terakhir Ramadan. Pendapat terkuat menyatakan ia berpindah pindah pada malam malam tersebut, khususnya malam ganjil. Karena itu Nabi ﷺ jika memasuki sepuluh terakhir, beliau: Menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh sungguh dalam ibadah. Inilah cara Nabi mencari Lailatul Qadar. Bukan dengan menebak tanggal. Tetapi dengan kesungguhan total. Mengapa Dirahasiakan? Nabi ﷺ pernah hendak memberitahukan tanggal pastinya. Namun terjadi perselisihan di antara dua sahabat, lalu pengetahuan itu diangkat. Beliau bersabda bahwa mungkin itu lebih baik bagi kalian. Mengapa lebih baik? Karena jika manusia tahu tanggal pastinya, mereka hanya akan beribadah pada satu malam saja. Tetapi ketika dirahasiakan, sepuluh malam terakhir menjadi hidup. Masjid penuh. Hati bergairah. Doa memanjang. Rahasia ini mendidik kesungguhan. Tanda Tanda yang Disebutkan Beberapa tanda yang sahih disebutkan dalam hadis: Malam terasa tenang, tidak panas dan tidak dingin berlebihan. Hati merasakan ketenangan dan kelapangan luar biasa. Matahari pagi harinya terbit tanpa sinar yang menyilaukan. Namun, tanda ini bukan untuk memastikan dengan yakin. Ia hanya penguat harapan bagi yang bersungguh sungguh. Bagaimana Menghidupkannya? Lailatul Qadar tidak dihidupkan dengan perayaan. Ia dihidupkan dengan penghambaan. Shalat malam dengan khusyuk Tilawah yang perlahan dan penuh tadabbur Doa yang panjang dan jujur. Tangis yang lahir dari kesadaran diri atas dosa dan maksiat. Sedekah meski tidak banyak, tapi menyentuh perut terdalam orang yang membutuhkan. Aisyah رضي الله عنها bertanya kepada Nabi ﷺ, doa apa yang terbaik dibaca pada malam itu. Beliau mengajarkan: اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” Mengapa meminta maaf? Karena setelah beramal, seorang hamba tetap merasa kecil. Ia sadar jika Allah menghukumnya, itu adil. Jika Allah memaafkannya, itu karunia. Bukan Sekadar Malam, Tapi Titik Balik Lailatul Qadar bukan malam ritual tahunan. Ia adalah titik balik. Jika Ramadan berlalu dan diri tetap sama, kita kehilangan sesuatu yang sangat besar. Tetapi jika satu malam itu membuat hati lebih lembut, doa lebih jujur, dosa lebih dibenci, maka malam itu telah menjadi cahaya dalam hidup kita. Malam itu bisa mengubah catatan setahun. Bisa mengubah arah hidup. Bisa mengangkat derajat tanpa diketahui manusia. Dan mungkin, di antara sepuluh malam itu, ada satu malam yang sedang menunggu kesungguhan kita. Penulis: Mudzakkir Abidin, Lc

Kolaborasi Unggul: SPIDI & SADIQ Gandeng FMIPA UNM Siapkan Siswa Berwawasan Global

MAKASSAR – Langkah besar diambil oleh Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI Female Boarding School) dan Sekolah Alam Darul Istiqamah (SADIQ) dalam mempertegas posisi mereka di kancah pendidikan global. Pada Senin (2/3/2026), resmi menjalin kerjasama strategis dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM). Penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) ini dilakukan langsung oleh Dr. Riza Sativani Hayati, M.Pd. (Academic Director SPIDI & SADIQ) bersama Dekan FMIPA UNM yang diwakili oleh Dr. Suriati Eka Putri, M.Si. (Wakil Dekan Urusan Kerjasama dan Pengembangan FMIPA UNM). Sinergi Akademisi dan Praktisi Pendidikan Kolaborasi ini bukan sekadar seremoni di atas kertas. Langkah strategis ini dirancang untuk mempercepat transformasi pendidikan berbasis global. Khususnya mendukung akselerasi program-program internasional di lingkungan sekolah. “Kami ingin menciptakan ekosistem pendidikan yang kompetitif. Tujuannya jelas: agar siswa SPIDI dan SADIQ memiliki kesiapan penuh di level internasional dengan dukungan langsung dari pakar FMIPA UNM,” ungkap Dr. Riza Sativani Hayati. 5 Pilar Utama Kerjasama Ada lima poin krusial yang menjadi landasan kolaborasi antara Darul Istiqamah dan FMIPA UNM: Menuju Pendidikan Islami yang Progresif Menanggapi kerjasama ini, Dr. Suriati Eka Putri, M.Si. menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan bahwa sinergi ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi terhadap kemajuan institusi pendidikan menengah. Melalui skema ini, diharapkan terjadi transfer of knowledge yang lebih masif dan tepat sasaran. Dengan adanya kemitraan ini, SPIDI dan SADIQ semakin mengukuhkan identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berakar pada nilai-nilai Islami, tetapi juga progresif dan berwawasan masa depan. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom

Milad 15 Tahun SPIDI Female Boarding School: Menembus Batas di Bulan Suci dengan Semangat “Bergerak Cepat, Berdampak Lebih Luas”

Makassar – Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI Female Boarding School) baru saja mengukir catatan sejarah baru. Di tengah kekhusyukan bulan suci Ramadan, Sekolah Putri Terbaik di Indonesia Timur ini merayakan Milad ke-15 pada tanggal 26-27 Maret 2026. Angka 15 tahun bukan sekadar penanda usia, melainkan momentum bagi SPIDI untuk menegaskan visinya melalui tema: “Bergerak Cepat, Berdampak Lebih Luas”. Harmoni Ibadah dalam Perayaan Milad Berbeda dengan seremoni pada umumnya, perayaan milad kali ini dikemas dalam balutan spiritual melalui kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT). Seluruh civitas akademika, mulai dari jajaran Direksi, guru dan staf ikut dalam rangkaian ibadah bersama yang memperkuat ukhuwah di bawah naungan bulan suci Ramadan. Hadir dalam momentum istimewa ini, Ust. Muzayyin Arif, M.Pd. (Ketua Dewan Pembina), Ust. Safwan Saad, Lc., M.Si. (Ketua Yayasan), dan Ibu Mukhlisah Arif, S.Pd.I. (Direktur Eksekutif SPIDI). Pesan Strategis dari Pucuk Pimpinan Dalam arahannya, Ust. Muzayyin Arif, M.Pd. menekankan pentingnya akselerasi di era global. Beliau menyampaikan bahwa SPIDI harus menjadi institusi yang dinamis. “Dunia bergerak sangat cepat, maka SPIDI tidak boleh lambat. Tema ‘Bergerak Cepat, Berdampak Lebih Luas’ adalah komitmen kita untuk memastikan bahwa setiap inovasi yang lahir dari sekolah ini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh siswa, tetapi juga harus memberi dampak bagi masyarakat luas dan umat,” tegas Ust. Muzayyin. Senada dengan hal tersebut, Ust. Safwan Saad, Lc., M.Si. selaku Ketua Yayasan mengingatkan bahwa fondasi dari setiap gerak cepat tersebut haruslah sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang kokoh, yang menjadi ciri khas Darul Istiqamah. Merawat Keikhlasan, Meneguhkan Profesionalisme Direktur Eksekutif SPIDI, Ibu Mukhlisah Arif, S.Pd.I., mengungkapkan rasa syukurnya karena milad tahun ini bertepatan dengan Ramadan. Menurutnya, MABIT yang dilaksanakan selama dua hari ini adalah sarana “cas energi” bagi seluruh tim untuk bisa bersinergi. “Kami memulai pergerakan besar ini dari hati. Melalui MABIT, kita sinkronkan kembali niat agar di usia ke-15 ini, keberadaan SPIDI semakin dirasakan manfaatnya oleh dunia pendidikan muslimah secara global,” ujar Ibu Mukhlisah. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom

​Strategi Menjaga Konsistensi Iman Hingga Akhir Ramadan

Memulai ibadah di bulan Ramadan relatif mudah. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada menjaga ritmenya hingga akhir. Tidak sedikit orang yang bersemangat di pekan pertama namun, perlahan melemah ketika hari-hari Ramadan berlalu. Tancap gas beribadah pada pekan pertama namun, mulai kehilangan tenaga pada pekan-pekan berikutnya. Masjid penuh di pekan pertama namun, mulai mengalami “kemajuan” ketika hari demi hari Ramadan berlalu. Karena itu, menjaga stamina iman membutuhkan pendekatan yang seimbang antara pengelolaan diri, kekuatan spiritual, dan dukungan lingkungan sosial, sebagaimana dituntunkan dalam syariat. ​1. Konsistensi Lebih Utama daripada Kuantitas Sesaat Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memasang target besar di awal Ramadan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Padahal, Allah lebih mencintai amalan yang dilakukan secara terus menerus meskipun jumlahnya sedikit. Rasulullah ﷺ bersabda: ​أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara rutin meskipun sedikit” (HR Bukhari dan Muslim). Langkah Aplikatif: Daripada membaca 3 juz di hari pertama lalu karena berat akhirnya berhenti sampai Ramadan berakhir, lebih baik tetapkan target 1 hari 1 juz (atau 2 lembar setelah shalat fardhu). Jika ingin bersedekah, lakukan sedekah subuh setiap hari meski hanya Rp2.000, agar nama Anda tercatat sebagai orang yang rutin berderma setiap hari di bulan suci. ​2. Berada di Lingkungan Teman dan Komunitas yang Shalih ​Lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap kualitas dan konsistensi ibadah. Teman yang shalih akan menjadi pengingat ketika semangat mulai menurun. Allah Ta’ala berfirman: ​وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya” (Al-Kahfi: 28). ​Langkah Aplikatif: Bergabunglah dalam grup WhatsApp tadarus atau komunitas ibadah yang memiliki visi yang sama. Saling berkabar lewat pesan singkat seperti, “Sudah tilawah hari ini?” akan menciptakan suasana kompetisi dalam kebaikan yang positif (fastabiqul khairat). ​3. Menjadikan Ibadah sebagai Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban Ketika ibadah dipandang hanya sebagai beban, kejenuhan mudah datang. Namun saat dipahami sebagai kebutuhan ruhani, ia akan berubah menjadi kerinduan. Allah berfirman: ​يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu” (Al-Baqarah: 185). Langkah Aplikatif: Lakukan dialog batin (self-talk) yang positif. Saat tubuh terasa lelah, katakan pada diri sendiri, “Shalat Tarawih ini adalah waktu istirahatku dari hiruk pikuk dunia.” Sempatkan membaca terjemahan ayat yang baru saja dibaca agar Al-Qur’an terasa sedang berbicara langsung kepada solusi masalah hidup Anda. ​4. Meneladani Pola Ibadah Rasulullah di Akhir Ramadan ​Rasulullah ﷺ justru meningkatkan kesungguhan ibadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau menjadikan akhir Ramadhan sebagai puncak pengabdian, bukan sisa tenaga. Aisyah RA meriwayatkan: ​كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا “Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh dalam sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan di waktu lainnya” (HR Muslim). Langkah Aplikatif: Lakukan manajemen energi (pacing). Di pertengahan Ramadhan, mulailah membatasi agenda bersama yang tidak perlu. Kurangi aktivitas duniawi yang tidak penting. Simpan energi fisik dan waktu Anda untuk “habis-habisan” di 10 malam terakhir untuk iktikaf atau memperpanjang durasi shalat malam. 5. Menjaga Stamina Fisik demi Kelancaran Ibadah ​Islam tidak mengajarkan ibadah yang mengabaikan kesehatan. Tubuh adalah amanah yang harus dijaga agar mampu menopang ketaatan. Allah Ta’ala berfirman: ​وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (Al-Baqarah: 195). Langkah Aplikatif: Pastikan nutrisi sahur yang berkualitas dan hindari makanan yang membuat tubuh cepat lemas (seperti tinggi gula). Praktikkan “Qailulah” (tidur siang singkat 15-30 menit) untuk menjaga kebugaran mental dan fisik agar tetap segar saat melaksanakan Qiyamul Lail. ​6. Memohon Keteguhan Hati kepada Allah ​Pada akhirnya, istiqamah bukan semata hasil kekuatan tekad manusia, tetapi taufik dari Allah. Rasulullah ﷺ sering berdoa: ​يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” ​Langkah Aplikatif: Jangan pernah melewatkan waktu mustajab sebelum berbuka untuk memohon keteguhan iman. Jadikan doa ini sebagai dzikir rutin dalam sujud terakhir shalat Anda, karena kekuatan untuk tetap taat sejatinya adalah hadiah dari-Nya. Menjaga stamina iman hingga akhir Ramadhan membutuhkan kesadaran, lingkungan yang mendukung, dan ketergantungan penuh kepada Allah. Ketika ibadah dijalani secara konsisten, bersama orang-orang yang shalih, dan dengan hati yang terus memohon pertolongan, maka Ramadhan tidak hanya berlalu, tetapi benar-benar membekas dan mengubah diri. Penulis: Muzakkir Abidin, Lc.

Ramadan di Ambang Pintu: Sudahkah Kita Menyiapkan “Tujuh Kekuatan” untuk Menang?

Bulan Sya’ban telah melewati paruh pertamanya. Hitung mundur menuju Ramadan kian nyaring terdengar. Ramadan adalah tamu agung yang membawa koper penuh rahmat dan ampunan. Namun, satu hal yang perlu kita sadari: kemuliaan Ramadan tidak serta-merta turun kepada siapa pun yang memasukinya. Ibarat memasuki medan perang, mustahil kita pulang membawa kemenangan tanpa persiapan yang matang. Tanpa bekal, Ramadan hanya akan menjadi rutinitas menahan lapar dan haus belaka. Lantas, apa saja yang harus kita siapkan? Mari kita asah Tujuh Kekuatan sebelum hilal Ramadan tampak di Ufuk Timur. 1. Kekuatan Ilmu: Beramal dengan Panduan Islam adalah agama ilmu. Beribadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan tanpa kompas. Umar bin Abdul Aziz pernah memperingatkan bahwa orang yang beribadah tanpa ilmu justru berpotensi merusak lebih banyak daripada memperbaiki. Apa yang harus dipelajari?  * Fikih Puasa: Pahami mana yang membatalkan, mana yang makruh, dan mana yang sunnah.  * Tahsin Al-Qur’an: Perbaiki bacaan agar tilawah kita di bulan suci menjadi lebih sempurna.  * Fadhailul A’mal: Pelajari keutamaan ibadah agar motivasi kita tetap membara. 2. Kekuatan Fisik: Tubuh Sehat, Ibadah Kuat “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, Ramadan menuntut stamina ekstra untuk shalat Tarawih yang panjang dan bangun sahur di sepertiga malam. Mulailah mengatur pola makan seimbang, rutin olahraga ringan, dan biasakan puasa sunnah di bulan Sya’ban agar tubuh tidak kaget saat Ramadan tiba. 3. Kekuatan Hati dan Jiwa: Bersih dari Dendam dan Dosa Pernahkah Anda merasa berat untuk melangkah ke masjid atau malas membuka Al-Qur’an? Bisa jadi itu adalah belenggu dosa. Ibnu Rajab Al-Hambali menekankan pentingnya kegembiraan menyambut Ramadan, namun kegembiraan itu sulit hadir jika hati tertutup noda (raan). Sebelum Ramadan tiba, lakukan “detoksifikasi hati”:  * Taubatan Nasuha: Mohon ampun atas dosa-dosa lama.  * Rekonsiliasi: Maafkan sesama manusia. Jangan biarkan ada setitik dengki yang menghalangi doa-doa kita diangkat ke langit. 4. Kekuatan Perencanaan dan Jadwal Gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan. Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa target yang jelas.  * Buat target tilawah (misal: 1 juz per hari).  * Alokasikan waktu khusus untuk sedekah dan doa.  * Atur jadwal tidur agar tetap bisa produktif di siang hari dan terjaga di malam hari. 5. Kekuatan Harta untuk Berbagi Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya meningkat berkali-kali lipat di bulan Ramadan. Persiapkan anggaran khusus untuk infaq, zakat, dan memberi buka puasa (ifthar). Harta yang disiapkan dengan baik membuat kita lebih fokus pada ibadah tanpa terganggu urusan duniawi yang mendesak. 6. Kekuatan Lingkungan yang Kondusif Lingkungan sangat memengaruhi mental ibadah. Ciptakan atmosfer Ramadan di rumah kita:  * Rapikan sudut rumah untuk tempat shalat dan tilawah.  * Ajak anggota keluarga membuat kesepakatan ibadah bersama.  * Ikut serta membersihkan masjid lingkungan agar nyaman digunakan jamaah. 7. Kekuatan Pembiasaan: Ala Bisa karena Biasa Pemenang di bulan Ramadan bukanlah mereka yang mendadak shalih secara instan, melainkan mereka yang sudah “pemanasan” sejak Rajab dan Sya’ban. Mulailah membiasakan diri mengurangi begadang, meningkatkan durasi baca Al-Qur’an, dan menjaga lisan dari sekarang. Saat Ramadan tiba, Anda tinggal melanjutkan momentum yang sudah terbangun. Ramadan adalah peluang emas yang terbatas. Bayangkan kita diizinkan masuk ke gudang harta karun selama 30 hari. Apakah kita akan masuk dengan tangan kosong dan terkantuk-kantuk? Tentu tidak. Kita akan membawa keranjang terbesar dan tenaga terkuat. Semoga Allah SWT menyampaikan usia kita pada bulan Ramadan dalam kondisi sehat wal afiat, penuh iman, dan kekuatan untuk menjalankan ketaatan. للهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan). Penulis: Muzakkir Abidin, Lc.

Wujudkan Kepedulian, Keluarga Besar SPIDI, DIBS, dan SADIQ Salurkan Donasi Rp34,6 Juta untuk Korban Banjir Sumatra Barat

MAROS, SULAWESI SELATAN – Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, keluarga besar lembaga pendidikan SPIDI Female Boarding School (Sekolah Putri Darul Istiqamah), DIBS (Darul Istiqamah Boarding School), dan SADIQ (Sekolah Alam Darul Istiqamah) telah berhasil menghimpun dan menyalurkan bantuan untuk warga terdampak bencana banjir di wilayah Sumatra Barat. Melalui gerakan sosial yang melibatkan orang tua siswa (Ayah Bunda) serta seluruh civitas akademika, total donasi yang terkumpul mencapai Rp34.630.000. Kolaborasi Strategis dalam Penyaluran Penyaluran bantuan ini dilakukan secara kolaboratif bersama tim Wafa Care Pesantren Diniyyah Putri Padang Panjang. Kerja sama ini memastikan bantuan tersampaikan secara tepat sasaran kepada warga yang paling membutuhkan di lokasi terdampak. Salah satu titik penyaluran bantuan dilakukan di SDN 03 Guguak Malalo Kec. Batipuah Selatan, di mana bantuan diserahkan langsung kepada pihak sekolah dan warga sekitar guna mendukung pemulihan pascabencana. Dalam pernyataan resminya, pihak manajemen SPIDI, DIBS, dan SADIQ menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh donatur: “Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ayah dan Bunda yang telah berkontribusi. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Sumatra Barat dan menjadi amal jariyah bagi kita semua.” Ujar Dr.Riza Sativani selaku Direktur Akademik SPIDI-SADIQ-DIBS. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga untuk menanamkan nilai-nilai empati dan kepedulian sosial sejak dini kepada para santri dan seluruh keluarga besar sekolah, membuktikan bahwa jarak bukan penghalang untuk saling mengulurkan tangan. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom

Perempuan dan Kepemimpinan dalam Diskursus Islam

Isu kepemimpinan perempuan merupakan salah satu tema yang paling sering hadir dalam diskursus sosial politik Islam. Perdebatan ini tidak hanya menyentuh wilayah fikih, tetapi juga realitas sosial, budaya, dan pemaknaan terhadap teks agama. Mayoritas ulama salaf memahami bahwa jabatan kepala negara memiliki konsekuensi fisik, mobilitas, dan tekanan yang sangat besar. Dengan mempertimbangkan tuntutan tersebut, mereka memandang posisi itu lebih tepat diemban oleh laki-laki sebagai qawwam. Pendapat ini merujuk pada hadis riwayat al Bukhari, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”, yang mereka pahami sebagai larangan perempuan memegang jabatan politik tertinggi dalam struktur negara. Namun, generasi ulama kontemporer membuka ruang pembacaan baru. Mereka meneliti konteks historis hadis tersebut, yang berhubungan dengan kekacauan politik di Persia setelah penobatan seorang perempuan sebagai ratu. Karena itu, mereka menilai bahwa hadis ini bersifat kontekstual, bukan hukum yang mutlak. Pemaknaan ini diperkuat dengan hadirnya kisah Ratu Bilqis dalam Al Qur’an, seorang pemimpin perempuan yang digambarkan cerdas, bijak, dan memiliki kemampuan manajerial yang tinggi. Ayat itu menunjukkan bahwa Al Qur’an tidak menutup kemungkinan kepemimpinan perempuan selama terpenuhi syarat kompetensi, maslahat, dan struktur sosial yang mendukung. Di balik perbedaan pandangan ini, satu hal tetap jelas: kontribusi perempuan dalam membangun umat tidak pernah terbatas pada jabatan formal negara. Dalam Islam, kepemimpinan tidak hanya bermakna posisi struktural, tetapi juga karakter, akhlak, pengaruh moral, dan kemampuan menggerakkan perubahan. Perempuan memiliki ruang luas untuk memimpin, membina, dan membentuk peradaban. Karakter kepemimpinan perempuan tampak dalam berbagai kontribusi berikut: 1. Menjadi Rahim Generasi Pemimpin Abu al Aswad ad Du’ali pernah berkata kepada anak-anaknya, “Aku telah berbakti kepada kalian sebelum kalian lahir.” Ketika mereka bertanya bagaimana mungkin, ia menjawab: “Aku memilihkan untuk kalian ibu yang shalihah.” Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak. Dari rahim, dekapan, doa, dan keteladanan seorang ibu, lahir generasi yang membawa masa depan umat. Kepemimpinan seorang ibu terlihat dari kemampuannya membentuk karakter, kecerdasan, dan akhlak seorang anak sejak dini. 2. Menjadi Istri Shalihah yang Menguatkan Kepemimpinan Suami Pernah mendengarkan ungkapan “di balik pria yang hebat, ada perempuan yang hebat”. Pepatah tersebut menunjukkan peran penting perempuan dalam keberhasilan suami menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Perempuan memiliki peran strategis dalam mengokohkan kepemimpinan suami. Ketenteraman, nasihat, dan keteguhan hati seorang istri sering menjadi pilar bagi keberhasilan seorang laki-laki. Nabi Muhammad mendapatkan keteguhan besar dari sosok Khadijah yang menguatkannya di masa awal dakwah. Banyak tokoh hebat dalam sejarah lahir dari kekuatan moral perempuan di balik mereka. 3. Mengelola Rumah sebagai Pusat Peradaban Mengurus rumah bukan pekerjaan kecil. Ia adalah bentuk kepemimpinan yang memengaruhi stabilitas keluarga dan masa depan anak. Rumah yang teratur, teduh, dan dipenuhi nilai adalah investasi jangka panjang peradaban. Dalam sejarah Islam, sosok seperti Ummu Sulaim r.a. menunjukkan bagaimana kecerdasan seorang ibu dalam mengelola rumah dapat melahirkan generasi pemimpin seperti Anas ibn Malik. 4. Menjadi Pendidik bagi Umat Sejarah Islam mencatat ribuan perempuan sebagai ulama dan guru. Aisyah r.a. adalah contoh paling kuat: lebih dari dua ribu hadis bersumber darinya, dan para sahabat besar berguru kepadanya. Perempuan adalah agen transmisi ilmu, nilai, dan akhlak. Tanpa peran mereka, mata rantai keilmuan Islam tidak akan utuh. 5. Menjadi Penggerak Sosial dan Kemanusiaan Dalam dunia sosial, perempuan hadir sebagai agen perubahan yang memperkuat keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Di masa klasik, Nusaybah binti Ka’ab dikenal sebagai perempuan pemberani yang melindungi Nabi di medan Uhud. Pada masa kini, banyak perempuan Muslim berkontribusi dalam kesehatan, advokasi, pendidikan, dan kemanusiaan, menggerakkan perubahan yang substantif dan berkelanjutan. Perdebatan mengenai kepemimpinan negara tidak menghalangi perempuan untuk tampil sebagai pemimpin dalam dimensi-dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam. Kepemimpinan perempuan adalah bagian integral dari pembangunan umat, selama didasari iman, amanah, kompetensi, dan komitmen pada nilai kebaikan.  Islam memandang perempuan bukan sebagai objek pasif, tetapi sebagai subjek aktif peradaban. Dan dari tangan-tangan merekalah, sering kali masa depan umat lahir dan dibesarkan dengan hebat. Penulis: Mudzakkir Abidin, Lc

Not Avalaible

Mohon Maaf Fitur belum tersedia, Sedang masa Development