Kolaborasi Unggul: SPIDI & SADIQ Gandeng FMIPA UNM Siapkan Siswa Berwawasan Global

MAKASSAR – Langkah besar diambil oleh Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI Female Boarding School) dan Sekolah Alam Darul Istiqamah (SADIQ) dalam mempertegas posisi mereka di kancah pendidikan global. Pada Senin (2/3/2026), resmi menjalin kerjasama strategis dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Makassar (UNM). Penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) ini dilakukan langsung oleh Dr. Riza Sativani Hayati, M.Pd. (Academic Director SPIDI & SADIQ) bersama Dekan FMIPA UNM yang diwakili oleh Dr. Suriati Eka Putri, M.Si. (Wakil Dekan Urusan Kerjasama dan Pengembangan FMIPA UNM). Sinergi Akademisi dan Praktisi Pendidikan Kolaborasi ini bukan sekadar seremoni di atas kertas. Langkah strategis ini dirancang untuk mempercepat transformasi pendidikan berbasis global. Khususnya mendukung akselerasi program-program internasional di lingkungan sekolah. “Kami ingin menciptakan ekosistem pendidikan yang kompetitif. Tujuannya jelas: agar siswa SPIDI dan SADIQ memiliki kesiapan penuh di level internasional dengan dukungan langsung dari pakar FMIPA UNM,” ungkap Dr. Riza Sativani Hayati. 5 Pilar Utama Kerjasama Ada lima poin krusial yang menjadi landasan kolaborasi antara Darul Istiqamah dan FMIPA UNM: Menuju Pendidikan Islami yang Progresif Menanggapi kerjasama ini, Dr. Suriati Eka Putri, M.Si. menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan bahwa sinergi ini merupakan bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi terhadap kemajuan institusi pendidikan menengah. Melalui skema ini, diharapkan terjadi transfer of knowledge yang lebih masif dan tepat sasaran. Dengan adanya kemitraan ini, SPIDI dan SADIQ semakin mengukuhkan identitasnya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya berakar pada nilai-nilai Islami, tetapi juga progresif dan berwawasan masa depan. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom

Milad 15 Tahun SPIDI Female Boarding School: Menembus Batas di Bulan Suci dengan Semangat “Bergerak Cepat, Berdampak Lebih Luas”

Makassar – Sekolah Putri Darul Istiqamah (SPIDI Female Boarding School) baru saja mengukir catatan sejarah baru. Di tengah kekhusyukan bulan suci Ramadan, Sekolah Putri Terbaik di Indonesia Timur ini merayakan Milad ke-15 pada tanggal 26-27 Maret 2026. Angka 15 tahun bukan sekadar penanda usia, melainkan momentum bagi SPIDI untuk menegaskan visinya melalui tema: “Bergerak Cepat, Berdampak Lebih Luas”. Harmoni Ibadah dalam Perayaan Milad Berbeda dengan seremoni pada umumnya, perayaan milad kali ini dikemas dalam balutan spiritual melalui kegiatan Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT). Seluruh civitas akademika, mulai dari jajaran Direksi, guru dan staf ikut dalam rangkaian ibadah bersama yang memperkuat ukhuwah di bawah naungan bulan suci Ramadan. Hadir dalam momentum istimewa ini, Ust. Muzayyin Arif, M.Pd. (Ketua Dewan Pembina), Ust. Safwan Saad, Lc., M.Si. (Ketua Yayasan), dan Ibu Mukhlisah Arif, S.Pd.I. (Direktur Eksekutif SPIDI). Pesan Strategis dari Pucuk Pimpinan Dalam arahannya, Ust. Muzayyin Arif, M.Pd. menekankan pentingnya akselerasi di era global. Beliau menyampaikan bahwa SPIDI harus menjadi institusi yang dinamis. “Dunia bergerak sangat cepat, maka SPIDI tidak boleh lambat. Tema ‘Bergerak Cepat, Berdampak Lebih Luas’ adalah komitmen kita untuk memastikan bahwa setiap inovasi yang lahir dari sekolah ini tidak hanya dirasakan manfaatnya oleh siswa, tetapi juga harus memberi dampak bagi masyarakat luas dan umat,” tegas Ust. Muzayyin. Senada dengan hal tersebut, Ust. Safwan Saad, Lc., M.Si. selaku Ketua Yayasan mengingatkan bahwa fondasi dari setiap gerak cepat tersebut haruslah sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang kokoh, yang menjadi ciri khas Darul Istiqamah. Merawat Keikhlasan, Meneguhkan Profesionalisme Direktur Eksekutif SPIDI, Ibu Mukhlisah Arif, S.Pd.I., mengungkapkan rasa syukurnya karena milad tahun ini bertepatan dengan Ramadan. Menurutnya, MABIT yang dilaksanakan selama dua hari ini adalah sarana “cas energi” bagi seluruh tim untuk bisa bersinergi. “Kami memulai pergerakan besar ini dari hati. Melalui MABIT, kita sinkronkan kembali niat agar di usia ke-15 ini, keberadaan SPIDI semakin dirasakan manfaatnya oleh dunia pendidikan muslimah secara global,” ujar Ibu Mukhlisah. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom

​Strategi Menjaga Konsistensi Iman Hingga Akhir Ramadan

Memulai ibadah di bulan Ramadan relatif mudah. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada menjaga ritmenya hingga akhir. Tidak sedikit orang yang bersemangat di pekan pertama namun, perlahan melemah ketika hari-hari Ramadan berlalu. Tancap gas beribadah pada pekan pertama namun, mulai kehilangan tenaga pada pekan-pekan berikutnya. Masjid penuh di pekan pertama namun, mulai mengalami “kemajuan” ketika hari demi hari Ramadan berlalu. Karena itu, menjaga stamina iman membutuhkan pendekatan yang seimbang antara pengelolaan diri, kekuatan spiritual, dan dukungan lingkungan sosial, sebagaimana dituntunkan dalam syariat. ​1. Konsistensi Lebih Utama daripada Kuantitas Sesaat Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memasang target besar di awal Ramadan tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Padahal, Allah lebih mencintai amalan yang dilakukan secara terus menerus meskipun jumlahnya sedikit. Rasulullah ﷺ bersabda: ​أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara rutin meskipun sedikit” (HR Bukhari dan Muslim). Langkah Aplikatif: Daripada membaca 3 juz di hari pertama lalu karena berat akhirnya berhenti sampai Ramadan berakhir, lebih baik tetapkan target 1 hari 1 juz (atau 2 lembar setelah shalat fardhu). Jika ingin bersedekah, lakukan sedekah subuh setiap hari meski hanya Rp2.000, agar nama Anda tercatat sebagai orang yang rutin berderma setiap hari di bulan suci. ​2. Berada di Lingkungan Teman dan Komunitas yang Shalih ​Lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap kualitas dan konsistensi ibadah. Teman yang shalih akan menjadi pengingat ketika semangat mulai menurun. Allah Ta’ala berfirman: ​وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ “Dan bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya” (Al-Kahfi: 28). ​Langkah Aplikatif: Bergabunglah dalam grup WhatsApp tadarus atau komunitas ibadah yang memiliki visi yang sama. Saling berkabar lewat pesan singkat seperti, “Sudah tilawah hari ini?” akan menciptakan suasana kompetisi dalam kebaikan yang positif (fastabiqul khairat). ​3. Menjadikan Ibadah sebagai Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban Ketika ibadah dipandang hanya sebagai beban, kejenuhan mudah datang. Namun saat dipahami sebagai kebutuhan ruhani, ia akan berubah menjadi kerinduan. Allah berfirman: ​يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu” (Al-Baqarah: 185). Langkah Aplikatif: Lakukan dialog batin (self-talk) yang positif. Saat tubuh terasa lelah, katakan pada diri sendiri, “Shalat Tarawih ini adalah waktu istirahatku dari hiruk pikuk dunia.” Sempatkan membaca terjemahan ayat yang baru saja dibaca agar Al-Qur’an terasa sedang berbicara langsung kepada solusi masalah hidup Anda. ​4. Meneladani Pola Ibadah Rasulullah di Akhir Ramadan ​Rasulullah ﷺ justru meningkatkan kesungguhan ibadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan. Beliau menjadikan akhir Ramadhan sebagai puncak pengabdian, bukan sisa tenaga. Aisyah RA meriwayatkan: ​كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا “Rasulullah ﷺ bersungguh-sungguh dalam sepuluh malam terakhir dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan di waktu lainnya” (HR Muslim). Langkah Aplikatif: Lakukan manajemen energi (pacing). Di pertengahan Ramadhan, mulailah membatasi agenda bersama yang tidak perlu. Kurangi aktivitas duniawi yang tidak penting. Simpan energi fisik dan waktu Anda untuk “habis-habisan” di 10 malam terakhir untuk iktikaf atau memperpanjang durasi shalat malam. 5. Menjaga Stamina Fisik demi Kelancaran Ibadah ​Islam tidak mengajarkan ibadah yang mengabaikan kesehatan. Tubuh adalah amanah yang harus dijaga agar mampu menopang ketaatan. Allah Ta’ala berfirman: ​وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (Al-Baqarah: 195). Langkah Aplikatif: Pastikan nutrisi sahur yang berkualitas dan hindari makanan yang membuat tubuh cepat lemas (seperti tinggi gula). Praktikkan “Qailulah” (tidur siang singkat 15-30 menit) untuk menjaga kebugaran mental dan fisik agar tetap segar saat melaksanakan Qiyamul Lail. ​6. Memohon Keteguhan Hati kepada Allah ​Pada akhirnya, istiqamah bukan semata hasil kekuatan tekad manusia, tetapi taufik dari Allah. Rasulullah ﷺ sering berdoa: ​يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” ​Langkah Aplikatif: Jangan pernah melewatkan waktu mustajab sebelum berbuka untuk memohon keteguhan iman. Jadikan doa ini sebagai dzikir rutin dalam sujud terakhir shalat Anda, karena kekuatan untuk tetap taat sejatinya adalah hadiah dari-Nya. Menjaga stamina iman hingga akhir Ramadhan membutuhkan kesadaran, lingkungan yang mendukung, dan ketergantungan penuh kepada Allah. Ketika ibadah dijalani secara konsisten, bersama orang-orang yang shalih, dan dengan hati yang terus memohon pertolongan, maka Ramadhan tidak hanya berlalu, tetapi benar-benar membekas dan mengubah diri. Penulis: Muzakkir Abidin, Lc.

Ramadan di Ambang Pintu: Sudahkah Kita Menyiapkan “Tujuh Kekuatan” untuk Menang?

Bulan Sya’ban telah melewati paruh pertamanya. Hitung mundur menuju Ramadan kian nyaring terdengar. Ramadan adalah tamu agung yang membawa koper penuh rahmat dan ampunan. Namun, satu hal yang perlu kita sadari: kemuliaan Ramadan tidak serta-merta turun kepada siapa pun yang memasukinya. Ibarat memasuki medan perang, mustahil kita pulang membawa kemenangan tanpa persiapan yang matang. Tanpa bekal, Ramadan hanya akan menjadi rutinitas menahan lapar dan haus belaka. Lantas, apa saja yang harus kita siapkan? Mari kita asah Tujuh Kekuatan sebelum hilal Ramadan tampak di Ufuk Timur. 1. Kekuatan Ilmu: Beramal dengan Panduan Islam adalah agama ilmu. Beribadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan tanpa kompas. Umar bin Abdul Aziz pernah memperingatkan bahwa orang yang beribadah tanpa ilmu justru berpotensi merusak lebih banyak daripada memperbaiki. Apa yang harus dipelajari?  * Fikih Puasa: Pahami mana yang membatalkan, mana yang makruh, dan mana yang sunnah.  * Tahsin Al-Qur’an: Perbaiki bacaan agar tilawah kita di bulan suci menjadi lebih sempurna.  * Fadhailul A’mal: Pelajari keutamaan ibadah agar motivasi kita tetap membara. 2. Kekuatan Fisik: Tubuh Sehat, Ibadah Kuat “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, Ramadan menuntut stamina ekstra untuk shalat Tarawih yang panjang dan bangun sahur di sepertiga malam. Mulailah mengatur pola makan seimbang, rutin olahraga ringan, dan biasakan puasa sunnah di bulan Sya’ban agar tubuh tidak kaget saat Ramadan tiba. 3. Kekuatan Hati dan Jiwa: Bersih dari Dendam dan Dosa Pernahkah Anda merasa berat untuk melangkah ke masjid atau malas membuka Al-Qur’an? Bisa jadi itu adalah belenggu dosa. Ibnu Rajab Al-Hambali menekankan pentingnya kegembiraan menyambut Ramadan, namun kegembiraan itu sulit hadir jika hati tertutup noda (raan). Sebelum Ramadan tiba, lakukan “detoksifikasi hati”:  * Taubatan Nasuha: Mohon ampun atas dosa-dosa lama.  * Rekonsiliasi: Maafkan sesama manusia. Jangan biarkan ada setitik dengki yang menghalangi doa-doa kita diangkat ke langit. 4. Kekuatan Perencanaan dan Jadwal Gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan. Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa target yang jelas.  * Buat target tilawah (misal: 1 juz per hari).  * Alokasikan waktu khusus untuk sedekah dan doa.  * Atur jadwal tidur agar tetap bisa produktif di siang hari dan terjaga di malam hari. 5. Kekuatan Harta untuk Berbagi Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya meningkat berkali-kali lipat di bulan Ramadan. Persiapkan anggaran khusus untuk infaq, zakat, dan memberi buka puasa (ifthar). Harta yang disiapkan dengan baik membuat kita lebih fokus pada ibadah tanpa terganggu urusan duniawi yang mendesak. 6. Kekuatan Lingkungan yang Kondusif Lingkungan sangat memengaruhi mental ibadah. Ciptakan atmosfer Ramadan di rumah kita:  * Rapikan sudut rumah untuk tempat shalat dan tilawah.  * Ajak anggota keluarga membuat kesepakatan ibadah bersama.  * Ikut serta membersihkan masjid lingkungan agar nyaman digunakan jamaah. 7. Kekuatan Pembiasaan: Ala Bisa karena Biasa Pemenang di bulan Ramadan bukanlah mereka yang mendadak shalih secara instan, melainkan mereka yang sudah “pemanasan” sejak Rajab dan Sya’ban. Mulailah membiasakan diri mengurangi begadang, meningkatkan durasi baca Al-Qur’an, dan menjaga lisan dari sekarang. Saat Ramadan tiba, Anda tinggal melanjutkan momentum yang sudah terbangun. Ramadan adalah peluang emas yang terbatas. Bayangkan kita diizinkan masuk ke gudang harta karun selama 30 hari. Apakah kita akan masuk dengan tangan kosong dan terkantuk-kantuk? Tentu tidak. Kita akan membawa keranjang terbesar dan tenaga terkuat. Semoga Allah SWT menyampaikan usia kita pada bulan Ramadan dalam kondisi sehat wal afiat, penuh iman, dan kekuatan untuk menjalankan ketaatan. للهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan). Penulis: Muzakkir Abidin, Lc.

Wujudkan Kepedulian, Keluarga Besar SPIDI, DIBS, dan SADIQ Salurkan Donasi Rp34,6 Juta untuk Korban Banjir Sumatra Barat

MAROS, SULAWESI SELATAN – Sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan, keluarga besar lembaga pendidikan SPIDI Female Boarding School (Sekolah Putri Darul Istiqamah), DIBS (Darul Istiqamah Boarding School), dan SADIQ (Sekolah Alam Darul Istiqamah) telah berhasil menghimpun dan menyalurkan bantuan untuk warga terdampak bencana banjir di wilayah Sumatra Barat. Melalui gerakan sosial yang melibatkan orang tua siswa (Ayah Bunda) serta seluruh civitas akademika, total donasi yang terkumpul mencapai Rp34.630.000. Kolaborasi Strategis dalam Penyaluran Penyaluran bantuan ini dilakukan secara kolaboratif bersama tim Wafa Care Pesantren Diniyyah Putri Padang Panjang. Kerja sama ini memastikan bantuan tersampaikan secara tepat sasaran kepada warga yang paling membutuhkan di lokasi terdampak. Salah satu titik penyaluran bantuan dilakukan di SDN 03 Guguak Malalo Kec. Batipuah Selatan, di mana bantuan diserahkan langsung kepada pihak sekolah dan warga sekitar guna mendukung pemulihan pascabencana. Dalam pernyataan resminya, pihak manajemen SPIDI, DIBS, dan SADIQ menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh donatur: “Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ayah dan Bunda yang telah berkontribusi. Semoga bantuan ini dapat meringankan beban saudara-saudara kita di Sumatra Barat dan menjadi amal jariyah bagi kita semua.” Ujar Dr.Riza Sativani selaku Direktur Akademik SPIDI-SADIQ-DIBS. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga untuk menanamkan nilai-nilai empati dan kepedulian sosial sejak dini kepada para santri dan seluruh keluarga besar sekolah, membuktikan bahwa jarak bukan penghalang untuk saling mengulurkan tangan. Penulis: Minarni Puspita, S.I.Kom

Perempuan dan Kepemimpinan dalam Diskursus Islam

Isu kepemimpinan perempuan merupakan salah satu tema yang paling sering hadir dalam diskursus sosial politik Islam. Perdebatan ini tidak hanya menyentuh wilayah fikih, tetapi juga realitas sosial, budaya, dan pemaknaan terhadap teks agama. Mayoritas ulama salaf memahami bahwa jabatan kepala negara memiliki konsekuensi fisik, mobilitas, dan tekanan yang sangat besar. Dengan mempertimbangkan tuntutan tersebut, mereka memandang posisi itu lebih tepat diemban oleh laki-laki sebagai qawwam. Pendapat ini merujuk pada hadis riwayat al Bukhari, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”, yang mereka pahami sebagai larangan perempuan memegang jabatan politik tertinggi dalam struktur negara. Namun, generasi ulama kontemporer membuka ruang pembacaan baru. Mereka meneliti konteks historis hadis tersebut, yang berhubungan dengan kekacauan politik di Persia setelah penobatan seorang perempuan sebagai ratu. Karena itu, mereka menilai bahwa hadis ini bersifat kontekstual, bukan hukum yang mutlak. Pemaknaan ini diperkuat dengan hadirnya kisah Ratu Bilqis dalam Al Qur’an, seorang pemimpin perempuan yang digambarkan cerdas, bijak, dan memiliki kemampuan manajerial yang tinggi. Ayat itu menunjukkan bahwa Al Qur’an tidak menutup kemungkinan kepemimpinan perempuan selama terpenuhi syarat kompetensi, maslahat, dan struktur sosial yang mendukung. Di balik perbedaan pandangan ini, satu hal tetap jelas: kontribusi perempuan dalam membangun umat tidak pernah terbatas pada jabatan formal negara. Dalam Islam, kepemimpinan tidak hanya bermakna posisi struktural, tetapi juga karakter, akhlak, pengaruh moral, dan kemampuan menggerakkan perubahan. Perempuan memiliki ruang luas untuk memimpin, membina, dan membentuk peradaban. Karakter kepemimpinan perempuan tampak dalam berbagai kontribusi berikut: 1. Menjadi Rahim Generasi Pemimpin Abu al Aswad ad Du’ali pernah berkata kepada anak-anaknya, “Aku telah berbakti kepada kalian sebelum kalian lahir.” Ketika mereka bertanya bagaimana mungkin, ia menjawab: “Aku memilihkan untuk kalian ibu yang shalihah.” Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak. Dari rahim, dekapan, doa, dan keteladanan seorang ibu, lahir generasi yang membawa masa depan umat. Kepemimpinan seorang ibu terlihat dari kemampuannya membentuk karakter, kecerdasan, dan akhlak seorang anak sejak dini. 2. Menjadi Istri Shalihah yang Menguatkan Kepemimpinan Suami Pernah mendengarkan ungkapan “di balik pria yang hebat, ada perempuan yang hebat”. Pepatah tersebut menunjukkan peran penting perempuan dalam keberhasilan suami menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Perempuan memiliki peran strategis dalam mengokohkan kepemimpinan suami. Ketenteraman, nasihat, dan keteguhan hati seorang istri sering menjadi pilar bagi keberhasilan seorang laki-laki. Nabi Muhammad mendapatkan keteguhan besar dari sosok Khadijah yang menguatkannya di masa awal dakwah. Banyak tokoh hebat dalam sejarah lahir dari kekuatan moral perempuan di balik mereka. 3. Mengelola Rumah sebagai Pusat Peradaban Mengurus rumah bukan pekerjaan kecil. Ia adalah bentuk kepemimpinan yang memengaruhi stabilitas keluarga dan masa depan anak. Rumah yang teratur, teduh, dan dipenuhi nilai adalah investasi jangka panjang peradaban. Dalam sejarah Islam, sosok seperti Ummu Sulaim r.a. menunjukkan bagaimana kecerdasan seorang ibu dalam mengelola rumah dapat melahirkan generasi pemimpin seperti Anas ibn Malik. 4. Menjadi Pendidik bagi Umat Sejarah Islam mencatat ribuan perempuan sebagai ulama dan guru. Aisyah r.a. adalah contoh paling kuat: lebih dari dua ribu hadis bersumber darinya, dan para sahabat besar berguru kepadanya. Perempuan adalah agen transmisi ilmu, nilai, dan akhlak. Tanpa peran mereka, mata rantai keilmuan Islam tidak akan utuh. 5. Menjadi Penggerak Sosial dan Kemanusiaan Dalam dunia sosial, perempuan hadir sebagai agen perubahan yang memperkuat keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Di masa klasik, Nusaybah binti Ka’ab dikenal sebagai perempuan pemberani yang melindungi Nabi di medan Uhud. Pada masa kini, banyak perempuan Muslim berkontribusi dalam kesehatan, advokasi, pendidikan, dan kemanusiaan, menggerakkan perubahan yang substantif dan berkelanjutan. Perdebatan mengenai kepemimpinan negara tidak menghalangi perempuan untuk tampil sebagai pemimpin dalam dimensi-dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam. Kepemimpinan perempuan adalah bagian integral dari pembangunan umat, selama didasari iman, amanah, kompetensi, dan komitmen pada nilai kebaikan.  Islam memandang perempuan bukan sebagai objek pasif, tetapi sebagai subjek aktif peradaban. Dan dari tangan-tangan merekalah, sering kali masa depan umat lahir dan dibesarkan dengan hebat. Penulis: Mudzakkir Abidin, Lc

Rencana Bangun Lembaga Pendidikan di Gaza, Prof. Nasr Arif dari UAE Kunjungi SPIDI Female Boarding School

Makassar – Prof. Nasr Arif dari Uni Emirat Arab (UAE) mengunjungi Spidi Female Boarding School dalam rangka penjajakan rencana pembangunan lembaga pendidikan di Gaza, Palestina. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda strategis Educators Without Borders International (EWBI) dalam memperkuat pendidikan Islam di wilayah konflik. Prof. Nasr Arif yang merupakan Advisor EWBI hadir bersama Dr. Mouza, selaku Chairman EWBI. Keduanya melakukan benchmarking ke sejumlah lembaga pendidikan berasrama di Indonesia, baik untuk putra maupun putri. Spidi Female Boarding School menjadi salah satu rujukan dalam proses tersebut, termasuk sebagai referensi pengelolaan pendidikan dan kelembagaan. Dalam pertemuan tersebut, rombongan EWBI diterima langsung oleh Direktur Akademik Spidi Female Boarding School, Dr. Riza Sativani. Riza menyampaikan kesiapan lembaganya untuk memberikan dukungan terhadap rencana pembangunan lembaga pendidikan di Gaza. Ia juga memaparkan berbagai program unggulan yang dijalankan di Spidi Female Boarding School, mulai dari sistem pendidikan berasrama, pengembangan kurikulum, hingga program Tilawa yang menjadi bagian dari penguatan karakter, spiritualitas, dan kualitas bacaan Al-Qur’an para siswi. Selain membahas dukungan kelembagaan, pertemuan ini juga mendiskusikan peluang kerja sama program, kurikulum, dan manajemen pendidikan berasrama yang dapat diadaptasi sesuai dengan kondisi sosial dan kemanusiaan di Gaza. Kunjungan ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi internasional dalam mendukung pendidikan Islam yang berkelanjutan. Penulis: Ismawan Amir MSc

Keren! 500 Prestasi di 2025, SPIDI Jadi Tempat Berkumpulnya Anak-Anak Juara

Makassar — Sepanjang tahun 2025, SPIDI mencatat 500 prestasi dari berbagai bidang. Capaian itu diraih dari kompetisi akademik, tahfidz, olahraga, seni, hingga ajang kepemimpinan dan keterampilan. Raihan tersebut mengukuhkan SPIDI sebagai sekolah yang dikenal melahirkan siswa-siswi bermental juara. Direktur Akademik SPIDI, Dr Riza Sativani, mengatakan prestasi bukan sekadar hasil akhir, melainkan buah dari pembinaan yang konsisten dan terukur. “Di SPIDI, prestasi itu bukan kebetulan. Ada pembinaan yang rapi, evaluasi rutin, dan pendampingan intensif. Target kami bukan hanya menang lomba, tapi membentuk kebiasaan juara: disiplin, fokus, dan berakhlak,” kata Dr Riza Sativani dalam keterangannya, Senin (22/12/2025). Menurut Riza, budaya sekolah yang mendorong siswa berani mencoba dan berkembang menjadi faktor kuat di balik lonjakan prestasi sepanjang 2025. Selain penguatan akademik, SPIDI juga menyiapkan jalur pembinaan sesuai minat dan potensi siswa. “Kami memetakan potensi anak sejak awal. Ada yang kuat di akademik, ada yang menonjol di tahfidz, ada yang cepat berkembang di olahraga atau seni. Tugas kami memastikan mereka dapat jalur pembinaan yang tepat,” ujarnya. Riza menyebut, salah satu penguat pembinaan di SPIDI adalah hadirnya lebih dari 30 kelas pembinaan minat dan bakat yang terbagi dalam dua jalur, yakni life skill class dan talent class. Kelas-kelas tersebut dirancang agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga punya keterampilan, karakter, dan kesiapan menghadapi tantangan nyata. “Anak-anak perlu ruang untuk menemukan dan mengasah potensinya. Karena itu kami sediakan lebih dari 30 kelas pembinaan minat bakat, mulai dari life skill class sampai talent class. Di sinilah anak dibimbing, dilatih, lalu dipertemukan dengan panggung kompetisi yang sesuai,” kata Dr Riza Sativani. Di tengah tingginya kebutuhan orang tua mencari sekolah dengan pembinaan yang jelas, Riza menyebut pihaknya juga membuka ruang konsultasi bagi orang tua yang ingin memahami program pendidikan dan pola pembinaan di SPIDI. “Kalau orang tua ingin anaknya tumbuh dalam ekosistem yang terarah—akademiknya kuat, tahfidznya dibina, karakternya dibentuk—silakan konsultasi. Kami terbuka menjelaskan program pembinaan dan jalur pengembangan anak di SPIDI,” ujar Riza. Ia menambahkan, lingkungan yang sehat turut menjadi faktor penting. Di SPIDI, siswa dibiasakan saling menguatkan, bukan saling menekan, sehingga anak lebih percaya diri dan konsisten dalam prosesnya. “Anak-anak juara itu bukan hanya yang bawa pulang piala, tapi juga yang konsisten, bertanggung jawab, dan punya adab. Prestasi adalah bonus dari proses panjang,” tambah Riza. Dengan capaian 500 prestasi sepanjang 2025, SPIDI menargetkan penguatan program pembinaan di tahun berikutnya, baik dari sisi kualitas pelatihan, peningkatan partisipasi kompetisi, maupun pengembangan karakter dan spiritual siswa. Penulis: Ismawan Amir, MSc

Mengapa Pendidikan Khusus Putri adalah Pilihan Cerdas di Era Modern

Kutipan Inspiratif dari Kartini: “Kami di sini memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam sunnatullah sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” — RA Kartini, Celoteh RA Kartini: 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi oleh Ahmad Nurcholish (2018). Di tengah arus deras modernisasi yang sarat distraksi sosial, budaya pergaulan bebas, serta tanda-tanda dekadensi moral yang kian mengkhawatirkan dalam dunia pendidikan, tumbuh kegelisahan mendalam di hati para orang tua terhadap masa depan putri mereka. Kekhawatiran ini mendorong semakin banyak orang tua bersikap selektif dan reflektif dalam menentukan lingkungan pendidikan terbaik bagi buah hati tercinta. Pengalaman berinteraksi dengan banyak keluarga menunjukkan bahwa keresahan tersebut nyata dan meluas. Tidak sedikit orang tua mendambakan pemisahan gender yang sungguh-sungguh dalam lingkungan pendidikan, bukan sekadar pembatasan simbolik atau formalitas kebijakan. Dari kebutuhan inilah, pilihan pendidikan secara alami mengarah pada satu model yang telah teruji secara global: sekolah khusus putri. Sebagian kalangan mungkin memandang pendidikan khusus putri semata-mata unggul dalam aspek preventif terhadap distraksi sosial dan budaya pergaulan bebas. Padahal, di balik pemisahan gender tersebut, tersimpan keunggulan strategis yang jauh lebih mendalam dibandingkan sistem co-education yang menyatukan peserta didik putra dan putri dalam satu lingkungan belajar. Sebagai contoh SPIDI Female Boarding School. Sekolah ini memandang pemisahan gender bukan sebagai pembatas potensi, melainkan sebagai kerangka strategis pendidikan. Lingkungan terpisah diposisikan sebagai investasi jangka panjang bagi keberhasilan akademik, kematangan emosional, serta pembentukan karakter putri yang utuh dan kokoh. Cari tahu lebih lengkap tentang SPIDI FEMALE BOARDING SCHOOL! Berangkat dari kerangka tersebut, berikut alasan utama mengapa pemisahan gender menjadi keunggulan signifikan dalam pencapaian akademik sekaligus langkah preventif yang paling terukur bagi masa depan putri. Mari kita telaah dua alasan pertama yang krusial untuk fokus dan performa akademik: Kenyamanan Emosional Demi Fokus Mengejar Prestasi Fakta yang tak terbantahkan: di era digital, risiko sosial dan distraksi relasi antar gender hadir semakin dini, masif, dan sering kali tak disadari. Distraksi ini perlahan menggerus fokus belajar serta kestabilan emosi peserta didik. Sistem pendidikan terpisah gender menjadi langkah preventif yang paling tegas sekaligus minim risiko, karena bekerja pada akar persoalan, bukan sekadar mengelola dampaknya. Sejumlah studi, di antaranya yang dipublikasikan dalam Journal of Economic Behavior and Organization, menunjukkan bahwa pemisahan kelas berkontribusi signifikan dalam menurunkan gangguan perilaku, meningkatkan konsentrasi belajar, serta memperbaiki performa akademik, khususnya pada peserta didik dengan kemampuan akademik rendah hingga menengah yang paling rentan terdistraksi. Dengan ditiadakannya tekanan sosial dari lawan jenis, energi psikologis yang bisa saja terserap pada kecemasan penampilan, pencarian validasi sosial, atau dinamika relasi pergaulan dapat dialihkan secara utuh pada proses akademik, penguatan ibadah, dan pengembangan potensi diri. Lingkungan belajar menjadi lebih tenang, aman, dan berorientasi pada prestasi, memungkinkan peserta didik membangun disiplin, kepercayaan diri, serta ketahanan mental secara bertahap. Inilah ikhtiar pendidikan yang tidak hanya menjauhkan fitnah sejak dini, tetapi juga menjaga masa remaja tetap jernih, fokus, dan terarah pada pembentukan karakter serta masa depan yang lebih bermakna dan bertanggung jawab. Kebebasan Berekspresi dan Kepercayaan Diri: Menguat di Bidang STEM Sekolah khusus putri mendorong keberanian intelektual dan kepercayaan diri yang lebih tinggi di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika). Lingkungan terpisah gender secara efektif menghilangkan hambatan psikologis dan stereotip yang kerap menghambat partisipasi siswi dalam STEM di sekolah co-ed. Berbagai penelitian, termasuk dari American Psychological Association dan National Coalition of Girls’ Schools, menunjukkan bahwa siswi di sekolah khusus putri memiliki kepercayaan diri yang lebih kuat dalam matematika dan sains. Tanpa tekanan sosial dari lawan jenis, siswi lebih berani mengambil risiko intelektual, bertanya kritis, bereksperimen, serta memimpin proyek teknis. Ketiadaan stereotip gender memungkinkan kurikulum dan budaya sekolah sepenuhnya memberdayakan perempuan dengan hadirnya figur pendidik dan pemimpin perempuan di bidang teknis. Data NCGS mencatat 93 persen siswi di sekolah khusus putri terdorong mengejar karier STEM, melampaui rata-rata nasional. Sekolah khusus putri pun berfungsi sebagai inkubator kepemimpinan dan identitas akademik, menanamkan keyakinan bahwa prestasi dan kepemimpinan teknis bukan ditentukan oleh gender, melainkan oleh kompetensi dan daya juang. Cari tahu lebih lengkap tentang SPIDI FEMALE BOARDING SCHOOL! Keunggulan ini semakin menguat ketika dipadukan dengan pendidikan agama dan program tahfidz yang terstruktur. Lingkungan yang tenang, tertib, dan bebas distraksi memungkinkan siswi membangun kedisiplinan berpikir, ketekunan, serta fokus mendalam, kualitas mental yang sama dibutuhkan baik dalam menghafal Al-Qur’an maupun menalar sains. Proses tahfidz melatih daya ingat, konsistensi, dan ketahanan mental, sementara pelajaran agama menanamkan makna, adab ilmu, dan orientasi ibadah dalam belajar. Dengan demikian, sekolah khusus putri tidak hanya melahirkan siswi yang unggul secara akademik dan teknis, tetapi juga pribadi yang memiliki identitas spiritual kuat, menjadikan kompetensi STEM selaras dengan nilai iman, akhlak, dan tanggung jawab peradaban. Kurikulum yang Spesifik Gender dan Optimalisasi Karakter Keunggulan pendidikan single-gender terletak pada kemampuannya untuk mengarahkan kurikulum agar dapat memberikan fokus pada potensi spesifik siswi, baik secara akademik, emosional, maupun spiritual. Dalam lingkungan homogen, kurikulum memiliki fleksibilitas untuk disesuaikan secara mendalam, memperkuat keunggulan alamiah perempuan dan mengisi celah pengembangan karakter yang sering terlewatkan dalam kurikulum umum (yang dirancang untuk kebutuhan dua gender). Fokus kurikulum yang terarah ini memungkinkan eksplorasi minat dan bakat siswi secara maksimal, memastikan bahwa program pendidikan dapat secara optimal melengkapi target kognitif dengan pembentukan karakter yang utuh dan komprehensif. Sebagai contoh, meskipun SPIDI tetap mengimplementasikan kurikulum nasional sebagai fondasi akademik, sekolah memperkaya dan menyelaraskan pendidikan dengan Kurikulum Mar’atush Shalihah sebagai kurikulum penguat dan spesialisasi gender yang vital. Kurikulum ini dirancang selaras dengan karakter psikologis dan fase perkembangan perempuan, dengan fokus mendalam pada pembentukan adab, pengelolaan emosi, empati, serta kesiapan menjalani peran kehidupan secara matang dan sadar nilai. Implementasi praktisnya diwujudkan melalui modul-modul krusial seperti kelas Skill Keputrian, sesi Female Class, dan program pembentukan Muslimah Personality. Pendekatan terpadu ini adalah investasi krusial untuk memastikan siswi memiliki bekal ilmu yang mendalam sekaligus identitas spiritual yang kokoh, menjadikannya seorang Mar’atush Shalihah (perempuan salehah) yang siap menghadapi tantangan zaman dengan martabat dan tanggung jawab. Kepemimpinan Perempuan yang Tumbuh Secara Alami Salah satu keunggulan terbesar dari pendidikan khusus putri adalah penciptaan

Warisan Terbaik Bukanlah Harta, Melainkan Adab: Sebuah Renungan Orang Tua

Sering kali kita bekerja banting tulang, pergi pagi pulang petang, demi satu tujuan: “Agar masa depan anak terjamin.” Kita ingin meninggalkan rumah, tanah, atau tabungan agar mereka tidak susah sepeninggal kita nanti. Itu niat yang mulia. Namun, Ayah dan Bunda, sadarkah kita? Harta bisa habis dalam sekejap. Harta bisa menjadi sumber pertengkaran. Dan yang paling menakutkan, harta tidak bisa menjamin keselamatan jiwa mereka. Islam mengajarkan kita cara pandang yang berbeda tentang “warisan”. Nabi Muhammad ﷺ bersabda: مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ “Tidak ada hadiah yang diberikan seorang ayah kepada anaknya yang lebih baik daripada akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi) Didiklah anak dengan iman sebelum kenyamanan dunia. Tanamkan cinta Allah sebelum cinta harta. Inilah investasi abadi yang tidak akan hangus. Ingatlah janji Rasulullah ﷺ tentang amal jariyah. Salah satunya adalah doa anak saleh. Jika kita gagal mendidik mereka menjadi saleh, siapa yang akan mendoakan kita saat kita sudah tiada? Nabi ﷺ bersabda: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ. “Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalannya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim) Ayah dan Bunda, kami memahami bahwa memastikan putri tercinta tumbuh dengan adab dan akhlak mulia adalah prioritas utama. Namun, kesibukan dan pengaruh lingkungan luar seringkali menjadi tantangan terberat. Mengapa Adab Lebih Penting dari Harta? Satu-satunya “Kiriman” yang Sampai ke Alam Kubur Ingatlah janji Rasulullah ﷺ. Saat nafas terakhir kita berhembus, semua koneksi kita dengan dunia terputus. Rekening bank tertutup, jabatan hilang. Hanya ada tiga jalur yang masih “online” mengirimkan pahala: إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ “Apabila manusia meninggal dunia maka terputus amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR Muslim) Renungkanlah: Jika kita sukses mendidik anak menjadi kaya raya tapi lalai agama, siapa yang akan mendoakan kita? Mungkinkah anak yang tidak mengenal Allah akan ingat untuk memohonkan ampunan bagi orang tuanya? Hanya anak yang saleh yang paham adab kepada Allah dan orang tua yang akan menengadahkan tangan di tengah malam, menangis memohon: “Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.” SPIDI Female Boarding School siap menjadi mitra Ayah Bunda. Dengan kurikulum yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual dan pembinaan karakter Islami yang intensif, kami membantu menjaga dan memupuk “warisan” terpenting Anda. Daftarkan Ananda di SPIDI Doa Agar Diberi Keturunan yang Baik Sempurnakan ikhtiar mendidik adab dengan doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi Zakariya AS dalam Al-Quran, memohon penerus yang baik: رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran: 38) Ayah dan Bunda, warisan harta itu penting, tapi warisan adab itu genting. Jangan sampai kita sibuk menyiapkan tabungan rupiah, tapi lupa menyiapkan “tabungan doa” dari lisan anak-anak kita. Maka mari mulai dari hari ini, kita bertekad: “Aku akan mewariskan kesalehan sebelum kemewahan.” Tentu, mendidik adab di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks bukanlah tugas yang ringan. Dibutuhkan lingkungan yang mendukung, keteladanan yang nyata, dan sistem pendidikan yang berpusat pada akhlak. SPIDI Female Boarding School hadir membersamai Ayah dan Bunda untuk mewujudkan ikhtiar mulia ini. Kami percaya bahwa sinergi antara doa orang tua dan lingkungan pendidikan yang tepat adalah kunci melahirkan generasi salehah yang cerdas dan beradab. Penulis: Ust. Mudzakkir Abidin, Lc.

Not Avalaible

Mohon Maaf Fitur belum tersedia, Sedang masa Development