Intisari dari Tulisan Syaikh Ali Muhammad Ash-Shalaaby
Ada malam yang nilainya melebihi umur panjang manusia. Ada malam yang dalam satu detiknya, surga terasa begitu dekat. Itulah Lailatul Qadar.
Allah berfirman:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.”
Seribu bulan setara lebih dari delapan puluh tiga tahun. Satu malam yang nilainya melampaui rata rata usia manusia.
Mengapa Disebut Lailatul Qadar?
Para ulama menjelaskan beberapa makna kata qadar.
Pertama, karena pada malam itu Allah menetapkan takdir tahunan. Rezeki, ajal, peristiwa, kemuliaan dan kehinaan ditetapkan untuk satu tahun ke depan.
Allah berfirman:
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”
Kedua, karena malam itu memiliki kedudukan yang sangat agung. Malam bernilai tinggi di sisi Allah.
Ketiga, karena siapa yang sebelumnya tidak memiliki kedudukan, bisa menjadi mulia dengan memuliakan malam itu.
Peristiwa Terbesar di Malam Itu
Pada malam itulah Al Quran diturunkan. Dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia, kemudian secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama dua puluh tiga tahun. Inilah kemuliaan terbesar malam itu. Ia menjadi awal cahaya bagi peradaban manusia.
Keutamaannya yang Menggetarkan
Lailatul Qadar memiliki keutamaan luar biasa:
Ibadah di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.
Malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan.
Malam penuh keselamatan hingga terbit fajar.
Siapa yang menghidupkannya dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa dosanya yang telah lalu.
Nabi ﷺ bersabda:
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa dosanya yang telah lalu.”
Bayangkan. Dosa masa lalu bisa runtuh hanya dalam satu malam kesungguhan.
Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Para ulama berbeda pendapat hingga lebih dari empat puluh pandangan. Namun mayoritas menegaskan ia berada di sepuluh malam terakhir Ramadan.
Pendapat terkuat menyatakan ia berpindah pindah pada malam malam tersebut, khususnya malam ganjil. Karena itu Nabi ﷺ jika memasuki sepuluh terakhir, beliau:
Menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh sungguh dalam ibadah. Inilah cara Nabi mencari Lailatul Qadar. Bukan dengan menebak tanggal. Tetapi dengan kesungguhan total.
Mengapa Dirahasiakan?
Nabi ﷺ pernah hendak memberitahukan tanggal pastinya. Namun terjadi perselisihan di antara dua sahabat, lalu pengetahuan itu diangkat.
Beliau bersabda bahwa mungkin itu lebih baik bagi kalian.
Mengapa lebih baik? Karena jika manusia tahu tanggal pastinya, mereka hanya akan beribadah pada satu malam saja. Tetapi ketika dirahasiakan, sepuluh malam terakhir menjadi hidup. Masjid penuh. Hati bergairah. Doa memanjang. Rahasia ini mendidik kesungguhan.
Tanda Tanda yang Disebutkan
Beberapa tanda yang sahih disebutkan dalam hadis:
Malam terasa tenang, tidak panas dan tidak dingin berlebihan. Hati merasakan ketenangan dan kelapangan luar biasa. Matahari pagi harinya terbit tanpa sinar yang menyilaukan.
Namun, tanda ini bukan untuk memastikan dengan yakin. Ia hanya penguat harapan bagi yang bersungguh sungguh.
Bagaimana Menghidupkannya?
Lailatul Qadar tidak dihidupkan dengan perayaan. Ia dihidupkan dengan penghambaan.
Shalat malam dengan khusyuk
Tilawah yang perlahan dan penuh tadabbur
Doa yang panjang dan jujur.
Tangis yang lahir dari kesadaran diri atas dosa dan maksiat.
Sedekah meski tidak banyak, tapi menyentuh perut terdalam orang yang membutuhkan.
Aisyah رضي الله عنها bertanya kepada Nabi ﷺ, doa apa yang terbaik dibaca pada malam itu. Beliau mengajarkan:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku.”
Mengapa meminta maaf? Karena setelah beramal, seorang hamba tetap merasa kecil. Ia sadar jika Allah menghukumnya, itu adil. Jika Allah memaafkannya, itu karunia.
Bukan Sekadar Malam, Tapi Titik Balik
Lailatul Qadar bukan malam ritual tahunan. Ia adalah titik balik. Jika Ramadan berlalu dan diri tetap sama, kita kehilangan sesuatu yang sangat besar.
Tetapi jika satu malam itu membuat hati lebih lembut, doa lebih jujur, dosa lebih dibenci, maka malam itu telah menjadi cahaya dalam hidup kita.
Malam itu bisa mengubah catatan setahun. Bisa mengubah arah hidup. Bisa mengangkat derajat tanpa diketahui manusia. Dan mungkin, di antara sepuluh malam itu, ada satu malam yang sedang menunggu kesungguhan kita.
Penulis: Mudzakkir Abidin, Lc

