Isu kepemimpinan perempuan merupakan salah satu tema yang paling sering hadir dalam diskursus sosial politik Islam. Perdebatan ini tidak hanya menyentuh wilayah fikih, tetapi juga realitas sosial, budaya, dan pemaknaan terhadap teks agama.
Mayoritas ulama salaf memahami bahwa jabatan kepala negara memiliki konsekuensi fisik, mobilitas, dan tekanan yang sangat besar. Dengan mempertimbangkan tuntutan tersebut, mereka memandang posisi itu lebih tepat diemban oleh laki-laki sebagai qawwam. Pendapat ini merujuk pada hadis riwayat al Bukhari, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita”, yang mereka pahami sebagai larangan perempuan memegang jabatan politik tertinggi dalam struktur negara.
Namun, generasi ulama kontemporer membuka ruang pembacaan baru. Mereka meneliti konteks historis hadis tersebut, yang berhubungan dengan kekacauan politik di Persia setelah penobatan seorang perempuan sebagai ratu. Karena itu, mereka menilai bahwa hadis ini bersifat kontekstual, bukan hukum yang mutlak. Pemaknaan ini diperkuat dengan hadirnya kisah Ratu Bilqis dalam Al Qur’an, seorang pemimpin perempuan yang digambarkan cerdas, bijak, dan memiliki kemampuan manajerial yang tinggi. Ayat itu menunjukkan bahwa Al Qur’an tidak menutup kemungkinan kepemimpinan perempuan selama terpenuhi syarat kompetensi, maslahat, dan struktur sosial yang mendukung.
Di balik perbedaan pandangan ini, satu hal tetap jelas: kontribusi perempuan dalam membangun umat tidak pernah terbatas pada jabatan formal negara. Dalam Islam, kepemimpinan tidak hanya bermakna posisi struktural, tetapi juga karakter, akhlak, pengaruh moral, dan kemampuan menggerakkan perubahan. Perempuan memiliki ruang luas untuk memimpin, membina, dan membentuk peradaban.
Karakter kepemimpinan perempuan tampak dalam berbagai kontribusi berikut:
1. Menjadi Rahim Generasi Pemimpin
Abu al Aswad ad Du’ali pernah berkata kepada anak-anaknya, “Aku telah berbakti kepada kalian sebelum kalian lahir.” Ketika mereka bertanya bagaimana mungkin, ia menjawab: “Aku memilihkan untuk kalian ibu yang shalihah.”
Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak. Dari rahim, dekapan, doa, dan keteladanan seorang ibu, lahir generasi yang membawa masa depan umat. Kepemimpinan seorang ibu terlihat dari kemampuannya membentuk karakter, kecerdasan, dan akhlak seorang anak sejak dini.
2. Menjadi Istri Shalihah yang Menguatkan Kepemimpinan Suami
Pernah mendengarkan ungkapan “di balik pria yang hebat, ada perempuan yang hebat”. Pepatah tersebut menunjukkan peran penting perempuan dalam keberhasilan suami menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Perempuan memiliki peran strategis dalam mengokohkan kepemimpinan suami. Ketenteraman, nasihat, dan keteguhan hati seorang istri sering menjadi pilar bagi keberhasilan seorang laki-laki. Nabi Muhammad mendapatkan keteguhan besar dari sosok Khadijah yang menguatkannya di masa awal dakwah. Banyak tokoh hebat dalam sejarah lahir dari kekuatan moral perempuan di balik mereka.
3. Mengelola Rumah sebagai Pusat Peradaban
Mengurus rumah bukan pekerjaan kecil. Ia adalah bentuk kepemimpinan yang memengaruhi stabilitas keluarga dan masa depan anak. Rumah yang teratur, teduh, dan dipenuhi nilai adalah investasi jangka panjang peradaban. Dalam sejarah Islam, sosok seperti Ummu Sulaim r.a. menunjukkan bagaimana kecerdasan seorang ibu dalam mengelola rumah dapat melahirkan generasi pemimpin seperti Anas ibn Malik.
4. Menjadi Pendidik bagi Umat
Sejarah Islam mencatat ribuan perempuan sebagai ulama dan guru. Aisyah r.a. adalah contoh paling kuat: lebih dari dua ribu hadis bersumber darinya, dan para sahabat besar berguru kepadanya. Perempuan adalah agen transmisi ilmu, nilai, dan akhlak. Tanpa peran mereka, mata rantai keilmuan Islam tidak akan utuh.
5. Menjadi Penggerak Sosial dan Kemanusiaan
Dalam dunia sosial, perempuan hadir sebagai agen perubahan yang memperkuat keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Di masa klasik, Nusaybah binti Ka’ab dikenal sebagai perempuan pemberani yang melindungi Nabi di medan Uhud. Pada masa kini, banyak perempuan Muslim berkontribusi dalam kesehatan, advokasi, pendidikan, dan kemanusiaan, menggerakkan perubahan yang substantif dan berkelanjutan.
Perdebatan mengenai kepemimpinan negara tidak menghalangi perempuan untuk tampil sebagai pemimpin dalam dimensi-dimensi yang jauh lebih luas dan mendalam. Kepemimpinan perempuan adalah bagian integral dari pembangunan umat, selama didasari iman, amanah, kompetensi, dan komitmen pada nilai kebaikan.
Islam memandang perempuan bukan sebagai objek pasif, tetapi sebagai subjek aktif peradaban. Dan dari tangan-tangan merekalah, sering kali masa depan umat lahir dan dibesarkan dengan hebat.
Penulis: Mudzakkir Abidin, Lc

