Bulan Sya’ban telah melewati paruh pertamanya. Hitung mundur menuju Ramadan kian nyaring terdengar. Ramadan adalah tamu agung yang membawa koper penuh rahmat dan ampunan.
Namun, satu hal yang perlu kita sadari: kemuliaan Ramadan tidak serta-merta turun kepada siapa pun yang memasukinya. Ibarat memasuki medan perang, mustahil kita pulang membawa kemenangan tanpa persiapan yang matang. Tanpa bekal, Ramadan hanya akan menjadi rutinitas menahan lapar dan haus belaka.
Lantas, apa saja yang harus kita siapkan? Mari kita asah Tujuh Kekuatan sebelum hilal Ramadan tampak di Ufuk Timur.
1. Kekuatan Ilmu: Beramal dengan Panduan
Islam adalah agama ilmu. Beribadah tanpa ilmu ibarat berjalan di kegelapan tanpa kompas. Umar bin Abdul Aziz pernah memperingatkan bahwa orang yang beribadah tanpa ilmu justru berpotensi merusak lebih banyak daripada memperbaiki.
Apa yang harus dipelajari?
* Fikih Puasa: Pahami mana yang membatalkan, mana yang makruh, dan mana yang sunnah.
* Tahsin Al-Qur’an: Perbaiki bacaan agar tilawah kita di bulan suci menjadi lebih sempurna.
* Fadhailul A’mal: Pelajari keutamaan ibadah agar motivasi kita tetap membara.
2. Kekuatan Fisik: Tubuh Sehat, Ibadah Kuat
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, Ramadan menuntut stamina ekstra untuk shalat Tarawih yang panjang dan bangun sahur di sepertiga malam. Mulailah mengatur pola makan seimbang, rutin olahraga ringan, dan biasakan puasa sunnah di bulan Sya’ban agar tubuh tidak kaget saat Ramadan tiba.
3. Kekuatan Hati dan Jiwa: Bersih dari Dendam dan Dosa
Pernahkah Anda merasa berat untuk melangkah ke masjid atau malas membuka Al-Qur’an? Bisa jadi itu adalah belenggu dosa. Ibnu Rajab Al-Hambali menekankan pentingnya kegembiraan menyambut Ramadan, namun kegembiraan itu sulit hadir jika hati tertutup noda (raan).
Sebelum Ramadan tiba, lakukan “detoksifikasi hati”:
* Taubatan Nasuha: Mohon ampun atas dosa-dosa lama.
* Rekonsiliasi: Maafkan sesama manusia. Jangan biarkan ada setitik dengki yang menghalangi doa-doa kita diangkat ke langit.
4. Kekuatan Perencanaan dan Jadwal
Gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan. Jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa target yang jelas.
* Buat target tilawah (misal: 1 juz per hari).
* Alokasikan waktu khusus untuk sedekah dan doa.
* Atur jadwal tidur agar tetap bisa produktif di siang hari dan terjaga di malam hari.
5. Kekuatan Harta untuk Berbagi
Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya meningkat berkali-kali lipat di bulan Ramadan. Persiapkan anggaran khusus untuk infaq, zakat, dan memberi buka puasa (ifthar). Harta yang disiapkan dengan baik membuat kita lebih fokus pada ibadah tanpa terganggu urusan duniawi yang mendesak.
6. Kekuatan Lingkungan yang Kondusif
Lingkungan sangat memengaruhi mental ibadah. Ciptakan atmosfer Ramadan di rumah kita:
* Rapikan sudut rumah untuk tempat shalat dan tilawah.
* Ajak anggota keluarga membuat kesepakatan ibadah bersama.
* Ikut serta membersihkan masjid lingkungan agar nyaman digunakan jamaah.
7. Kekuatan Pembiasaan: Ala Bisa karena Biasa
Pemenang di bulan Ramadan bukanlah mereka yang mendadak shalih secara instan, melainkan mereka yang sudah “pemanasan” sejak Rajab dan Sya’ban. Mulailah membiasakan diri mengurangi begadang, meningkatkan durasi baca Al-Qur’an, dan menjaga lisan dari sekarang. Saat Ramadan tiba, Anda tinggal melanjutkan momentum yang sudah terbangun.
Ramadan adalah peluang emas yang terbatas. Bayangkan kita diizinkan masuk ke gudang harta karun selama 30 hari. Apakah kita akan masuk dengan tangan kosong dan terkantuk-kantuk? Tentu tidak. Kita akan membawa keranjang terbesar dan tenaga terkuat.
Semoga Allah SWT menyampaikan usia kita pada bulan Ramadan dalam kondisi sehat wal afiat, penuh iman, dan kekuatan untuk menjalankan ketaatan.
للهم بارك لنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان
(Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan).
Penulis: Muzakkir Abidin, Lc.

